Bertumbuh dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus (2 Pet.3:18)

Monday, September 3, 2007

Bertumbuh Bersama No. 6 - Juli 2003

Belajar Dari Tuhan
Belajar bagaimana mempengaruhi orang lain dari Yesus
Oleh Carol Kent

Suatu hari ketika saya sedang membaca Alkitab saya, pernyataan dari Rasul Paulus mengagetkan saya: “Ikuti teladan saya, sebagaimana saya mengikuti teladan Kristus” (I Kor. 11:1). Kata-kata itu terdengar kasar, hampir congkak. Bagaimana mungkin Paulus dapat menyarankan kita untuk mengikuti teladannya? Bukankah semua manusia tidak ada yang sempurna?

Ketika saya mempelajari kehidupan Paulus, saya melihat pernyataan ini dari sudut yang lebih positif. Paulus memiliki pengalaman pertobatan yang dramatis dan hidupnya diubah oleh Kristus. Dia berkata, “Saya mencoba untuk mengikuti teladan Kristus dengan baik-baik, sehingga anda dapat melihat diri saya dan mengetahui bagaimana cara mempengaruhi kehidupan banyak orang sebagaimana yang dilakukan oleh Yesus.”

Bagaimana anda dan saya dapat mencapai hal ini? Kita adalah manusia yang tidak sempurna. Kita ingin membuat perbedaan, tetapi juga sadar akan kekurangan-kekurangan kita sehingga kita tidak ingin orang lain melihat kita terlalu dekat. Kita kurang percaya diri seperti Paulus.

Mengetahui siapa Yesus mengajarkan kita bagaimana cara mempengaruhi orang lain dengan sengaja. Apa yang akan terjadi jika setiap wanita Kristen memutuskan untuk mempengaruhi kehidupan duabelas wanita-wanita lainnya selama hidupnya? Akibatnya akan luar biasa sekali.

Yesus mempengaruhi setiap individu dari berbagai latar belakang. Dia melihat potensi setiap orang “di masa mendatang” dan memberikan inspirasi kepada mereka untuk belajar dari Dia. Prinsip-prinsip-Nya untuk mempengaruhi kehidupan orang lain tidak terbatas pada waktu dan tersedia bagi kita pada hari ini.

Akankah saya berkata kepada Allah, “Saya ingin mengikuti Engkau dengan hati yang suci. Tunjukkan kepada saya orang-orang yang Engkau ingin saya pengaruhi dalam perjalanan hidup ini”? Yesus hanya punya tiga tahun untuk melayani, tetapi pengaruh-Nya masih mempengaruhi kita sampai hari ini. Apa yang dapat kita pelajari dari Dia tentang pembinaan?

Prinsip-prinsip Yang Mengubah Hidup
Dalam mempelajari teladan Yesus, saya mengamati prinsip-prinsip yang dapat mengubah hidup yang membuat perbedaan yang permanen di dalam kehidupan orang lain.

Prinsip Bersaat Teduh Sendirian Bersama Allah
Yesus mengingatkan kita bahwa kunci kuasa rohani adalah bersaat teduh sendirian bersama Allah. “Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ.” (Mat. 14:23). Banyak orang Kristen bergumul dalam hal belajar bersaat teduh yang berarti bersama Allah setiap hari. Sama seperti ketika murid-murid berbicara kepada Yesus dan memberitahu Dia masalah-masalah, kebutuhan, pengakuan dosa, dan sukacita mereka, maka kita pun dapat juga melakukan hal yang sama. Berbicara dengan jujur dengan orang lain tentang kehidupan doa kita membuat orang lain merasa bebas untuk menceritakan kegagalan serta kesuksesan diri mereka di dalam bersaat teduh dengan Dia.

Prinsip Berbicara Sambil Berjalan
Yesus mengajar murid-murid-Nya di suasana yang tidak seperti di kelas. Dia sering mengajar kebenaran melalui prinsip berbicara sambil berjalan.

Satu kejadian seperti ini ditulis dalam Yohanes 9. Yesus dan Murid-murid-Nya sedang berjalan-jalan dan melihat “orang yang buta sejak lahir.” Ketika murid-murid bertanya apakah itu dosa dia sendiri atau dosa orang tuanya yang mengakibatkan kebutaannya, Yesus langsung memberikan pelajaran. “Engkau menanyakan pertanyaan yang salah. Engkau mencari seseorang yang dapat disalahkan. Tidak ada kasus sebab-akibat di sini. Daripada begitu, lihatlah apa yang Allah dapat lakukan” (Yoh. 9:3). Kemudian Yesus menyembuhkan kebutaan orang tersebut dan menyuruhnya untuk membasuh dirinya dalam kolam Siloam.

Yesus tidak menunggu sampai dia berada di ruang kelas untuk mengajarkan kebenaran kepada para pengikut-Nya. Dia menggunakan kejadian-kejadian dan masalah-masalah yang terjadi setiap hari untuk membuat kebenaran mudah diingat. Dia menggunakan kesempatan dari apa saya sebut “saat-saat yang berpengaruh” – kesempatan untuk mengajar atau mempengaruhi hal-hal yang tidak direncanakan. Dengan cara dan suasana non-formal yang sama, kita dapat mengajar dan mendorong wanita-wanita Kristen lainnya saat kita minum teh di rumah mereka dan memberikan nasihat tentang membesarkan anak atau saat kita bekerja di kantor. Ketika kita dengan sengaja melakukan prinsip berbicara sambil berjalan, kita mengarahkan orang lain kepada Allah dan mendorong potensi mereka.

Prinsip Bercerita
“Kenapa Engkau berkata-kata dalam perumpa-maan?” murid-murid bertanya Yesus. “...Aku berkata-kata dalam perumpamaan kepada mereka agar mereka dapat siap, untuk mendorong mereka menjadi cepat tanggap” (Mat. 13:10,13).

Yesus mengetahui bagaimana cara memikat perhatian orang. Dia mengajar apa yang tidak diketahui melalui apa yang telah diketahui. Dia menggunakan cerita-cerita untuk memikat imajinasi para pengikut-Nya. Orang-orang berpengaruh yang terbaik mengikuti teladan Yesus dan menggunakan cerita-cerita di dalam membentuk pemikiran dan hati orang lain untuk memperlihatkan kebenaran yang Alkitabiah.

Prinsip Bertanya
Yesus mengetahui kuasa pertanyaan yang dilontarkan dengan baik. Pertanyaan-pertanyaan-Nya langsung ke permasalahan, tidak berbelit-belit, dan menarik.

Suatu hari Yesus datang ke perbatasan luar Yerikho. Seorang yang buta matanya duduk di pinggir jalan. Dia mendengar orang banyak lewat dan bertanya apa yang tengah terjadi. Ketika diberitahu bahwa Yesus sedang lewat, dia berteriak, “Yesus, Anak Daud, kasihanilah saya!” (Luk. 18:38). Orang-orang menegurnya supaya ia diam, tetapi dia berkeras hati. Yesus berhenti dan bertanya kepada orang buta itu, “Apa yang kau kehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” (ay. 41).

Dia berkata kepada Yesus bahwa dia ingin dapat melihat, dan Yesus berkata, “Melihatlah engkau, imanmu telah menyelamatkan engkau!” (ay. 42).

Yesus memberikan orang itu kesempatan untuk menyuarakan permintaannya dan mengungkapkan imannya dengan kata-kata. Ketika kita menanyakan seorang wanita apa yang dia kehendaki dari kita, jawaban kita dapat membawanya satu langkah lebih maju menuju ke kedewasaan.

Prinsip Berbelas Kasihan
Yesus memberikan kita contoh yang baik sekali melalui salah satu cerita-cerita-Nya. Dia pernah dihadang oleh seorang ahli Taurat yang bertanya, “Guru, apa yang kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” (Luk. 10:25).

Yesus menanyakan orang itu untuk memberitahu Dia apa yang tertulis dalam hukum Taurat, dan dia menjawab “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (ay. 27).

Setelah Yesus memuji jawabannya, ahli Turat itu bertanya, “Dan siapakah sesamaku manusia?” (ay. 29). Yesus menjawab pertanyaannya dengan sebuah perumpamaan tentang seseorang yang pergi dari Yerusalem ke Yerikho. Dia diserang dan dipukuli oleh penyamun-penyamun, dan ditinggalkan dalam keadaan sekarat. Seorang imam melewatinya, dan langsung menyeberangi jalan untuk menghindari orang yang terluka itu. Kemudian seorang Lewi datang ke tempat itu, tetapi juga tidak menawarkan pertolongan.

Akhirnya, seorang Samaria datang ke tempat itu dan “tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.” Dia memberikan orang itu pertolongan pertama, membersihkan dan membalut luka-lukanya. Kemudian dia mengangkat orang itu ke atas keledainya, membawa dia ke tempat penginapan, dan merawatnya. Keesokan harinya dia menyerahkan dua uang logam perak dan memberikannya kepada pemilik penginapan, dan berkata, “Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali.” (ay. 33-35).

Yesus bertanya siapakah di antara ketiga orang ini yang menjadi sesama manusia dari orang yang terluka itu. Jawab ahli Taurat itu, “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya” (Luk. 10:37). Yesus menyuruhnya untuk pergi dan untuk berbuat demikian. Peran utama seorang pembina adalah memberi contoh belas kasihan, untuk menjadi Yesus kepada orang yang kita jumpai hari ini.

Gene Taylor adalah penulis program radio di Detroit yang mensponsori organisasi bantuan masyarakat setempat. Suatu saat mereka memi lih Bala Keselamatan (The Salvation Army). Gene ikut menumpangi “Truk Penginapan dan Makanan” untuk meninjau kegiatan organisasi ini.

Ketika berkeliling, dia melihat perbuatan belas kasihan yang sungguh-sungguh menyentuh hatinya. Dia melihat seorang staf muda dari Bala Keselamatan memberi seorang lelaki yang mabuk secangkir susu coklat panas. Lelaki itu mengambil cangkir itu dan melemparkan minuman panas itu ke muka staf itu. Staf itu menuangkan susu coklat panas ke cangkir lainnya, berjalan menuju lelaki yang sama dan berkata, “Pak, tadi susu coklat bapak tumpah. Ini, silahkan ambil gantinya.”

Ketika mereka kembali ke truk, Gene marah dan bingung. “Saya sungguh tidak percaya apa yang baru saja saya lihat,” teriaknya. “Apa kamu ini pengecut?” “Tidak,” jawabnya dengan tenang, “Saya adalah orang Kristen.” Kemudian, Gene bertanya, “Apa yang memberimu kekuatan untuk melakukan apa yang baru saja saya lihat?” Dia langsung membagikan Injil kepadanya. Satu perbuatan itu menjadi katalisator bagi transformasi rohani dalam kehidupan Gene.

Belas kasihan yang sejati akan secara hebat mempengaruhi mereka yang menerima, memberi dan mengamatinya. Sebagai wanita yang menumpahkan kehidupan dan hati kepada wanita-wanita lainnya, kita perlu melatih diri untuk berbelas kasihan.

Prinsip Kasih Tak Bersyarat
Yesus melakukan jenis kasih yang biasanya tidak muncul secara alami. Dalam Yohanes 8 orang-orang Farisi membawa seorang wanita yang kedapatan berbuat zinah kepada-Nya. Alkitab mengatakan, “Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus, “Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?” (Yoh. 8:4-5).

Yesus berdiam sejenak sementara ahli-ahli Taurat terus mendesak-Nya. Kemudian Dia berkata, “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu” (ay. 7). Setelah mereka mendengar perkataan-Nya, pergilah mereka, meninggalkan Dia seorang diri dengan perempuan itu.

Yesus bertanya pada perempuan itu jika ada orang yang menghukumnya. Dia menjawab, “Tidak ada, Tuhan.” “Aku pun tidak menghukum engkau,” kata Yesus. “Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang” (ay. 11).

Yesus mengingatkan kita untuk mengasihi dan mengampuni mereka yang tertangkap berbuat dosa. Dia lebih lanjut lagi mengingatkan kita untuk mengarahkan mereka ke arah yang benar.

Ketika kita menolong seseorang, ingatlah siapa dia di dalam Dia – bahwa Allah bersukacita di dalam dia – dia berharga di mata Allah, dan dia dapat memulai perjalanannya bersama Yesus. Zefanya 3:17 mengingatkan kita: “Ia bergirang karena engkau dengan sukacita. Ia membaharui engkau dalam kasih-Nya, Ia bersorak-sorak karena engkau dengan sorak-sorai.”

Orang-orang hebat yang berpengaruh mengetahui bagaimana membina potensi dalam diri orang lain untuk memenuhi tujuan yang diberikan Allah kepada mereka. Menjadi wanita yang berpengaruh harganya mahal, beresiko tinggi, dan kadang kala banyak menyita waktu, tetapi tidak ada sukacita yang lebih besar daripada mengetahui bahwa kita dengan taat telah memulai mempengaruhi orang lain dengan membentuk hati mereka menjadi serupa dengan Yesus Kristus.

Dikutip dari Becoming AWoman Of Influence: Making A Lasting Impact On Others oleh Carol Kent, © 1999 dengan seijin dari NavPress – www.navpress.com.

===000===

Cerita Saya...
oleh Maria Densmoor

Artikel “Menghadapi Orang Miskin” pada buletin nomor yang lalu, yang ditulis oleh Ibu Cindy Hayes, menegur hati saya, khususnya dari ayat “…Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran” (I Yoh. 3:16-18). Dulu saya sering “menghakimi” orang-orang miskin dan merasa tidak rela untuk memberikan uang kepada mereka dengan anggapan nanti mereka akan terbiasa dan tidak mau bekerja. Tetapi Tuhan melalui artikel ini kemudian melembutkan hati saya.

Sejak itu saya dengan sengaja membeli barang-barang yang lebih murah, memilih untuk tidak memakai jalan tol bila tidak diperlukan, dan menghemat pengeluaran-pengeluaran lainnya, sehingga uang yang saya hemat tersebut dapat saya sisihkan untuk orang-orang miskin. Sungguh saya merasa bersalah sekali ketika setelah saya hitung-hitung, ternyata dalam satu hari kesempatan yang diberikan kepada saya untuk memberi kepada orang miskin paling banyak hanyalah sebesar Rp.2.500,-.

Lebih dari itu, saya juga belajar bahwa Tuhan sungguh melihat hati kita lebih dari perbuatan kita. Sejak saya berkomitmen untuk memberi kepada orang miskin, Tuhan banyak memberikan kesempatan bagi saya untuk dapat menghemat uang tanpa adanya usaha dari pihak saya. Kesempatan itu datang dengan sendirinya. Kiranya Tuhan senantiasa menolong kita untuk menjadi terang dan garam bagi tempat sekeliling kita.

===000===

ADA ULAR DI TAMANKU
Oleh Jill Briscoe

“Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja”

Ketika diminta untuk mendefinisikan permainan golf, seseorang dengan agak sinis menjawab, “Golf adalah saat pergi berjalanjalan yang sudah dirusak!” Mungkin orang itu baru saja menyelesaikan permainan yang buruk, atau tidak berusaha bermain dengan baik, atau tidak merasa penting untuk memperbaiki permainannya. Dia mungkin menyalahkan lapangannya, peralatannya, atau partnernya. Jika dia benar-benar marah, mungkin dia akan mengganti tongkat golf atau partnernya juga!

Bagi orang banyak, pernikahan nampaknya tidak dipegang pada posisi yang lebih tinggi daripada permainan golf! Sungguh menyedihkan, karena pernikahan dimaksudkan Allah untuk memberikan kebahagiaan terbesar bagi manusia. Bagi manusia yang punya pikiran, sudah jelas bahwa kesalahan berada pada si pemain golf, bukan pada permainannya itu sendiri. Demikian juga, kesalahan bukan berada pada institusi pernikahan, tetapi pada pria dan wanita yang terlibat dalam di dalamnya. Jika peraturan-peraturannya ditaati dan para peserta bersedia untuk bekerja keras, mereka mungkin dapat mulai menikmati hubungan mereka.

Salah satu dari masalah yang kita hadapi saat ini adalah ketidaktahuan kita tentang peraturan yang ada. Konsep Alkitab tentang pernikahan seringkali tidak diajarkan atau sering dikemas dalam istilah gerejawi (seperti “pernikahan kudus”), yang biasanya tidak cocok dengan dunia anak muda sehari-hari. Sebelum saya menemukan Kristus, saya pikir pernikahan adalah hari di saat saya menikah. Setelah saya bertemu Yesus dan belajar bahwa pesta pernikahan hanya berlangsung sehari, sedangkan pernikahan adalah untuk selamanya, saya memutuskan untuk sebaiknya mencari tahu bagaimana memiliki pernikahan yang sukses!

Pernikahan, yang adalah gagasan Allah, haruslah merupakan hal yang baik! Mungkin karena pernikahan adalah gagasan-Nya, maka Dia, dalam pribadi manusia Yesus Kristus, menerima undangan ke pernikahan di Kana di Galilea yang kita baca dalam Yohanes 2. Sewaktu saya menulis undangan pernikahan kami kepada sanak keluarga dan teman-teman, saya mengirim satu undangan ke surga langsung dari hati saya. Isinya, “Calon Tn. dan Ny. D. S. Briscoe mengundang Yesus Kristus untuk hadir dalam pernikahan mereka.” Saya langsung mendapatkan jawaban melalui pos udara, “Dengan senang hati undangannya diterima!”

Dia akan datang! Senang sekali rasanya! Apa yang akan Dia lakukan? Ya – tidak ada – jika Dia tidak diminta. Saya mengetahui hal itu dari Alkitab. Masalah di pernikahan di Kana nampaknya adalah bahwa Dia diundang hanya sebagai tamu biasa, tidak sebagai pemimpin pesta. Pemimpin adalah orang yang menguasai segalanya, memberikan perintah-perintah, dan harus dipatuhi. Saya tidak ingin Kristus menjadi tamu di tingkatan yang sama dengan teman-teman dan orang-orang yang saya kasihi – yang hadir hanya untuk menambahkan suasana keagamaan. Saya tidak ingin anggur kasih kami menjadi habis atau hubungan kami menjadi tawar, tak berwarna, dan hambar. Saya tahu rahasianya terletak pada keunggulan-Nya sebagai pemimpin dan juga pada ketaatan kita terhadap perintah-perintah-Nya. “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!” (Yohanes 2:5) adalah nasihat pernikahan terbaik yang pernah kami dengar. Betapa bodohnya kita jika mengenyampingkan prinsip-prinsip yang agung dan melakukan apa yang kita inginkan sendiri, ketika Alkitab mengajarkan bahwa sukacita kita (melalui ketaatan) akan menjadi lebih baik dari apa yang kita pernah alami dalam hubungan kita sebelumnya.

Sekarang saya menemukan bahwa ternyata sang ular masih berkeliaran di kebun saya! Dia tidak pernah meninggalkan kebun saya; dia hanya merayap keluar masuk dan kesana kemari. Dan saya tidak pernah mengharapkan dia akan muncul di hadapan saya sesering di saat awal-awal kehidupan pernikahan kami yang bahagia! Sang ular membenci setiap pernikahan yang di dalamnya ada Tuhan Allah sebagai penguasa, yang berjalan dan berbicara di hari yang sejuk dengan kedua orang yang Dia ciptakan terutama satu untuk yang lainnya dan bagi diri-Nya. Allah menempatkan manusia di dalam lingkungan yang ideal, tetapi bahkan di Taman Firdaus pun masih ada yang kurang. “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja,” kata Allah (Kej. 2:18), maka Dia “memberi tempat tinggal kepada orang-orang sebatang kara” (Mz. 68:7), dan Dia memulainya di Taman Eden.

Desisan saran yang pertama saya dengar dari sang ular yang muncul saat saya sedang dengan gembiranya mencuci baju, memasak, serta bekerja, dan mengurusi bayi kami, David, di awal-awal tahun pernikahan kami, adalah hal yang biasa disalah kutip dari Alkitab, di mana sang ular terkenal dalam hal itu. Karena kedengarannya akrab bagi saya, saya tidak waspada.

“Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja,” dia mendesis di telinga saya. “Allah tidak pernah punya maksud seperti itu. Jadi, kenapa suami Kristenmu itu sering meninggalkan kamu sendirian? Dia seharusnya di sini untuk menolong kamu mengurusi bayimu dan pekerjaan rumah tanggamu daripada sibuk dengan pekerjaan Allah!” Saat berikutnya anda mendengar desisan sang ular, periksalah kutipannya. Saya tidak memeriksanya. Jika saya memeriksanya, saya pasti akan mengingat kembali bahwa ayat tentang hidup seorang diri mengacu kepada lelaki saja, dan bahwa perempuan diciptakan untuk menolong lelaki, bukan sebaliknya.

Buah mengasihani diri sendiri nampak begitu ranum di mata saya, jadi saya memakannya. Gigitan tersebut langsung menciptakan keinginan dalam diri saya untuk mendorong suami saya untuk memakannya juga.

“Kenapa kamu tidak tinggal di rumah saja pada akhir pekan dan menginjili di sini?” saya bertanya pada dia. “Lihat di luar sana, pada kafe Cat’s Whisker di seberang jalan. Semua anak-anak muda itu butuh mendengarkan Injil. Kengapa hanya berkhotbah pada selusin wanita-wanita tua di gereja?”

Sebenarnya, saya tidak perduli tentang anak-anak muda yang begitu malang di seberang jalan itu. Saya hanya memperalat mereka sebagai alasan untuk memperoleh apa yang saya inginkan. Saya kesepian, dan oleh karenanya saya bermanipulasi untuk membuat agar Stuart mentaati saya daripada Allah. Dan saya memperalat alasan yang besifat rohani untuk mencapai tujuan saya. Betapa benarnya Alkitab yang mengatakan, “Betapa liciknya hati, lebih licik daripada segala sesuatu” (Yer. 17:9).

Melihat keluar jendela ke seberang jalan, suami saya hanya berkomentar, “Memangnya kamu di sini untuk apa? Itu tugas kamu untuk menjangkau mereka.”

Seribu macam alasan keluar dari bibir saya. “Tugas saya adalah menjadi isterimu dan mengurus kamu dan bayi kita sambil berdoa dan mendukung pelayananmu. Saya tidak punya waktu.”

“Kamu punya lebih banyak waktu daripada saya,” dia menjawab. “Jill, Allah tidak meminta kamu melayani-Nya dengan memakai waktu untuk suamimu atau waktu bagi anakmu; dia meminta kamu di waktu luangmu!” Dan sambil mengatakan ini dia mengepak tasnya dan kemudian pergi.

“Aduh,” kata sang ular, “sungguh tidak adil. Sudahlah, pokoknya kamu tidak dapat pergi ke sana dan berbicara kepada mereka. Mereka itu dari generasi yang berbeda dengan kamu. (Saya berumur 23 tahun!). Cari anak-anak remaja yang mau pergi ke sana!” Kalimat terakhir ini dikatakan dengan desisan yang congkak, karena dia tahu orang Kristen yang saya temui hanyalah mereka-mereka yang masih muda di dalam Kristus, pemalu dan masih gugup. Tentu saja dia lupa prinsip I Korintus 1:26-28, dan oleh karenanya dia membuat kesalahan besar.

Melihat sebuah jalan keluar, saya menerima nasihatnya dan memutuskan untuk mengundang tiga atau empat anak-anak muda untuk melakukan hal-hal yang saya tidak berani lakukan. Saya akan tinggal di rumah dan mendoakan mereka (baik sekali saya!) dan membuat secangkir teh Inggris (yang selalu perlu kita lakukan saat ada krisis) untuk menjaga-jaga jika mereka perlu mundur dari medan pertempuran untuk menguatkan diri kembali.

Tuhan sedang akan memberi saya sebuah pelajaran. Ini adalah pelajaran yang sama dengan yang saya mulai pelajari pada awal kehidupan Kristen saya. Allah menoleh dari surga dan berkata kepada saya, “Jill kamu benar. Tidak baik bagi lelaki untuk hidup seorang diri atau perempuan juga untuk hal yang sama, terutama jika sang lelaki dipanggil untuk melakukan pekerjaan Bapanya. Saya sebentar lagi akan meralat hal ini dan mengirim kamu teman-teman untuk menemanimu!” Ketika ketiga remaja saya yang berani tetapi cerewet pergi ke seberang jalan untuk mendekati lusinan anak-anak muda yang berpenampilan liar di luar kafe, acara di kafe bubar karena ada perkelahian; ketiga penginjil saya yang telah terlatih menjadi panik dan mengundang setiap orang pergi ke seberang jalan untuk minum secangkir teh Inggris! Ketika melihat apa yang sebelumnya saya anggap adalah kepompong kecil saya yang aman, dengan rasa ngeri saya menemukan bahwa ternyata sudah tiba waktunya bagi saya untuk menjadi kupu-kupu!

“Inilah mereka, Jill. Kami membawa mereka kepadamu!” para penginjil saya mengumumkan dengan sikap penuh kemenangan. Anak-anak muda tersebut mengalir masuk the rumah memenuhi setiap ruangan, saling bercerita dan bercanda.

“Ya, memang kamu membawa mereka!” saya menjawab dengan lemahnya. Saya mendengar Tuhan tertawa. Saya yakin itu adalah Tuhan. Saya tahu itu bukan sang ular, karena pasti dia sedang tidak ingin tertawa! Sampai larut malam kami berbicara dan bersaksi dan beragumentasi dan berdoa. Saat hampir tengah malam, suami saya kembali dari tugas khotbahnya, mencoba masuk, tetapi tidak bisa. Karena mendengar ketukan suami saya di pintu, seorang pemuda dengan rambut yang dicat warna-warni membuka sedikit pintunya dan bergumam, “Maaf teman, tempat ini sudah penuh!”

Itu adalah permulaan bagi kami berdua. Waktu luang saya dipenuhi dengan kegiatan positif, sementara Stuart memerangi pertempurannya sendiri di hati tentang keterlibatannya dengan para remaja ini. Saya duduk dan mencatat kegiatan rutin saya setiap hari dan memblokir waktu luang saya, dan menyisihkannya bagi Tuhan. Anak-anak muda ini menemukan Kristus, dan sebagai follow-up, kami memulai pemahaman Alkitab di rumah kami. Saya mengingat kembali kebaktian pernikahan kami yang indah dan kata-kata yang diucapkan pendeta saat itu: “Maka tersiarlah kabar bahwa Yesus ada di rumah.” Nampaknya hal tersebut mulai terjadi, dan banyak orang berdatangan sampai, seperti dalam cerita di Alkitab, mereka hampir-hampir tidak dapat mendekati-Nya karena begitu sesaknya kerumunan. Saya berdoa, “Oh, Tuhanku, kiranya kehadiran-Mu di rumah kami dapat menjadi berita di sekitar kota ini!”

Saya menyadari bahwa walaupun saya telah mendedikasikan kehidupan saya kepada Stuart, ini tidak berarti saya telah mendedikasikan hubungan saya dengan Allah kepada Stuart! Hal ini tetap menjadi tanggung jawab saya. Walaupun kami dapat membaca dan berdoa dan mempelajari Firman Tuhan secara bersama-sama, dan walaupun Allah punya rencana yang khusus buat kehidupan kami berdua, saya perlu menggenapi rencana-Nya bagi kehidupan saya secara pribadi! Saya perlu menjaga saat teduh saya secara pribadi dan tidak menggantikannya dengan saat teduh bersama dengan suami. Allah punya tugas untuk saya kerjakan, tugas-tugas rohani dalam bidang-bidang di mana suami saya tidak akan punya waktu atau tidak punya talenta untuk itu.

Rumah kami dapat dijadikan kapal pemancing di saat dia pergi. Bayi kami dapat menjadi sarana kontak dengan ibu-ibu muda lainnya di taman atau di toko. Saya punya tugas dari Allah bukan hanya untuk mengurus keluarga secara fisik saja yang dapat membawa kemuliaan bagi-Nya, tetapi juga untuk membawa Injil kepada setiap manusia. Saya tidak boleh melepaskan tanggung jawab itu hanya karena saya telah menikah!

Begitu banyak ada alasan-alasan yang sah dapat mengaburkan suasana rohani di hari-hari yang bahagia itu. Sebagai Martha, saya begitu berhati-hati dan disusahkan dengan hal-hal yang baik dan perlu, tetapi saya perlu mengingat bagian Maria yang lebih baik – untuk duduk di kaki-Nya dan melihat wajah-Nya dan mendengar Firman-Nya. Dan ketika saya melakukan itu, saya terus menerus diingatkan bahwa dua orang yang dipersatukan harus memberikan pengaruh dua kali lipat bagi kerajaan-Nya! Seperti Firman Tuhan mengatakan, “Satu orang dapat mengejar seribu orang, dan dua orang dapat membuat lari sepuluh ribu orang.” (Ul. 32:30).

Diterjemahkan dari buku “There’s A Snake In My Garden”, Jill Briscoe, Harold Shaw Publishers, Wheaton, Illinois, hal.13-18, dengan seijin pemilik copyright.

===000===

KESETIAAN
Oleh Sari Mudjiyono

Bacaan :1 Samuel 25:2-38 “Aku sajalah ya tuanku yang
Ayat Mas: 1 Samuel 25:24b menanggung kesalahan itu.”

Saya punya seorang sahabat. Hubungan persahabatan kami sudah terjalin sejak kecil dan sampai sekarang kami masih berhubungan baik. Kalau saya pulang ke kampung, dia selalu menantikan kedatangan saya. Sikapnya selalu menyenangkan hati saya. Menurut saya, sahabat saya ini memiliki kesetiaan dalam persahabatan. Saat saya melihat hal itu, saya merasa senang sekali.

Saya memiliki keyakinan bahwa sema orang akan merasa senang jika melihat atau merasakan ada sifat setia yang dialaminya. Setia kepada teman, saudara, pasangan (suami – isteri), pekerjaan atau Tuhan semua itu baik. Namun demikian, dalam Alkitab ada contoh sifat setia yang salah dalam menempatkannya dan akhirnya membawa akibat yang buruk.

Contoh kesetiaan yang benar:
1. Kesetiaan Abigail.
Abigal sangat memperhatikan dan menghormati suaminya. Ia juga rela menderita bagi suaminya. Walaupun suaminya orang bebal, suka mabuk, suka pesta pora, namun hidup Abigail tidak mengikuti perbuatan-perbuatan suaminya yang tidak baik. Ia tetap hidup dalam kebenaran. I Samuel 25:24, 36, 37.

2. Kesetiaan Hana.
Hana sangat menghormati suaminya. Ia tabah dan sabar. Walaupun ia dihina oleh isteri muda suaminya, ia tidak membalas hinaan dengan hinaan atau kejahatan dengan kejahatan, tetapi ia balas itu dengan doa kepada Tuhan. I Samuel 1:6,8.

3. Kesetiaan Yonatan.
Yonatan menepati janjinya untuk keselamatan sahabatnya walaupun ia harus bertentangan dengan pikiran ayahnya yang jahat. I Samuel 20: 19-23, 34, 35-41.

Hasil kesetiaan yang benar:
1. Abigail dapat menyelamatkan suaminya dari ancaman Daud, dan ia tidak turut menanggung akibat dari perbuatan suaminya. I Samuel 25:34, 38.
2. Doa Hana dikabulkan Tuhan. I Samuel 1:19,20.
3. Hidup keluarga Yonatan tidak ada yang terlantar. II Samuel 21:7.

Contoh kesetiaan yang salah:
1. Kesetiaan Sarai.
Sarai sangat memperhatikan dan menghormati suaminya. Ia setia pada suaminya. Tapi sayang, ia salah dalam menempatkan kesetiaannya. Ia menunjukkan sikap yang kurang sabar dalam menanti janji Allah, dan kurang percaya akan janji Allah. Bahkan ia menyuruh suaminya berbuat dosa untuk berselingkuh dengan pembantunya. Kejadian 16:2; 18:10, 12, 15.

2. Kesetiaan Safira.
Safira sangat setia kepada suaminya, tetapi sayang kesetiaannya ia tempatkan pada tempat yang salah. Ia tahu suaminya sedang melakukan kebohongan, namun ia tidak mengingatkannya, bahkan ia ikut melakukan kebohongan itu. Kisah Para Rasul 5:1,2.

Hasil dari kesetiaan yang salah:
1. Sarai direndahkan, dihina, dan dimusuhi oleh Hagar, dan Sarai balik menindas Hagar sehingga Hagar lari. Kejadian 16: 4,6.
2. Akhirnya Safira mati, ikut menanggung akibat dari kebohongan yang dilakukan bersama suaminya. Kisah Para Rasul 5:9-10.

Untuk direnungkan:
Sudahkah kita menempatkan kesetiaan kita pada tempat yang benar, atau apakah sebaliknya, kita tempatkan pada tempat yang salah? Mohonlah pertolongan kepada Tuhan agar kita dapat mengetahui apakah kesetiaan kita salah atau benar. Jika memang kesetiaan kita salah, cepatlah menyadari keadaan dan berubahlah. Tidak ada kata terlambat untuk sesuatu hal yang baik. Jika kesetiaan kita benar, bersyukurlah kepada Tuhan supaya kesetiaan kita disempurnakan dan nama Tuhan dipermuliakan melalui kesetiaan kita. Amin.

No comments: