Belajar Dari Tuhan
Belajar bagaimana mempengaruhi orang lain dari Yesus
Oleh Carol Kent
Suatu hari ketika saya sedang membaca Alkitab saya, pernyataan dari Rasul Paulus mengagetkan saya: “Ikuti teladan saya, sebagaimana saya mengikuti teladan Kristus” (I Kor. 11:1). Kata-kata itu terdengar kasar, hampir congkak. Bagaimana mungkin Paulus dapat menyarankan kita untuk mengikuti teladannya? Bukankah semua manusia tidak ada yang sempurna?
Ketika saya mempelajari kehidupan Paulus, saya melihat pernyataan ini dari sudut yang lebih positif. Paulus memiliki pengalaman pertobatan yang dramatis dan hidupnya diubah oleh Kristus. Dia berkata, “Saya mencoba untuk mengikuti teladan Kristus dengan baik-baik, sehingga anda dapat melihat diri saya dan mengetahui bagaimana cara mempengaruhi kehidupan banyak orang sebagaimana yang dilakukan oleh Yesus.”
Bagaimana anda dan saya dapat mencapai hal ini? Kita adalah manusia yang tidak sempurna. Kita ingin membuat perbedaan, tetapi juga sadar akan kekurangan-kekurangan kita sehingga kita tidak ingin orang lain melihat kita terlalu dekat. Kita kurang percaya diri seperti Paulus.
Mengetahui siapa Yesus mengajarkan kita bagaimana cara mempengaruhi orang lain dengan sengaja. Apa yang akan terjadi jika setiap wanita Kristen memutuskan untuk mempengaruhi kehidupan duabelas wanita-wanita lainnya selama hidupnya? Akibatnya akan luar biasa sekali.
Yesus mempengaruhi setiap individu dari berbagai latar belakang. Dia melihat potensi setiap orang “di masa mendatang” dan memberikan inspirasi kepada mereka untuk belajar dari Dia. Prinsip-prinsip-Nya untuk mempengaruhi kehidupan orang lain tidak terbatas pada waktu dan tersedia bagi kita pada hari ini.
Akankah saya berkata kepada Allah, “Saya ingin mengikuti Engkau dengan hati yang suci. Tunjukkan kepada saya orang-orang yang Engkau ingin saya pengaruhi dalam perjalanan hidup ini”? Yesus hanya punya tiga tahun untuk melayani, tetapi pengaruh-Nya masih mempengaruhi kita sampai hari ini. Apa yang dapat kita pelajari dari Dia tentang pembinaan?
Prinsip-prinsip Yang Mengubah Hidup
Dalam mempelajari teladan Yesus, saya mengamati prinsip-prinsip yang dapat mengubah hidup yang membuat perbedaan yang permanen di dalam kehidupan orang lain.
Prinsip Bersaat Teduh Sendirian Bersama Allah
Yesus mengingatkan kita bahwa kunci kuasa rohani adalah bersaat teduh sendirian bersama Allah. “Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ.” (Mat. 14:23). Banyak orang Kristen bergumul dalam hal belajar bersaat teduh yang berarti bersama Allah setiap hari. Sama seperti ketika murid-murid berbicara kepada Yesus dan memberitahu Dia masalah-masalah, kebutuhan, pengakuan dosa, dan sukacita mereka, maka kita pun dapat juga melakukan hal yang sama. Berbicara dengan jujur dengan orang lain tentang kehidupan doa kita membuat orang lain merasa bebas untuk menceritakan kegagalan serta kesuksesan diri mereka di dalam bersaat teduh dengan Dia.
Prinsip Berbicara Sambil Berjalan
Yesus mengajar murid-murid-Nya di suasana yang tidak seperti di kelas. Dia sering mengajar kebenaran melalui prinsip berbicara sambil berjalan.
Satu kejadian seperti ini ditulis dalam Yohanes 9. Yesus dan Murid-murid-Nya sedang berjalan-jalan dan melihat “orang yang buta sejak lahir.” Ketika murid-murid bertanya apakah itu dosa dia sendiri atau dosa orang tuanya yang mengakibatkan kebutaannya, Yesus langsung memberikan pelajaran. “Engkau menanyakan pertanyaan yang salah. Engkau mencari seseorang yang dapat disalahkan. Tidak ada kasus sebab-akibat di sini. Daripada begitu, lihatlah apa yang Allah dapat lakukan” (Yoh. 9:3). Kemudian Yesus menyembuhkan kebutaan orang tersebut dan menyuruhnya untuk membasuh dirinya dalam kolam Siloam.
Yesus tidak menunggu sampai dia berada di ruang kelas untuk mengajarkan kebenaran kepada para pengikut-Nya. Dia menggunakan kejadian-kejadian dan masalah-masalah yang terjadi setiap hari untuk membuat kebenaran mudah diingat. Dia menggunakan kesempatan dari apa saya sebut “saat-saat yang berpengaruh” – kesempatan untuk mengajar atau mempengaruhi hal-hal yang tidak direncanakan. Dengan cara dan suasana non-formal yang sama, kita dapat mengajar dan mendorong wanita-wanita Kristen lainnya saat kita minum teh di rumah mereka dan memberikan nasihat tentang membesarkan anak atau saat kita bekerja di kantor. Ketika kita dengan sengaja melakukan prinsip berbicara sambil berjalan, kita mengarahkan orang lain kepada Allah dan mendorong potensi mereka.
Prinsip Bercerita
“Kenapa Engkau berkata-kata dalam perumpa-maan?” murid-murid bertanya Yesus. “...Aku berkata-kata dalam perumpamaan kepada mereka agar mereka dapat siap, untuk mendorong mereka menjadi cepat tanggap” (Mat. 13:10,13).
Yesus mengetahui bagaimana cara memikat perhatian orang. Dia mengajar apa yang tidak diketahui melalui apa yang telah diketahui. Dia menggunakan cerita-cerita untuk memikat imajinasi para pengikut-Nya. Orang-orang berpengaruh yang terbaik mengikuti teladan Yesus dan menggunakan cerita-cerita di dalam membentuk pemikiran dan hati orang lain untuk memperlihatkan kebenaran yang Alkitabiah.
Prinsip Bertanya
Yesus mengetahui kuasa pertanyaan yang dilontarkan dengan baik. Pertanyaan-pertanyaan-Nya langsung ke permasalahan, tidak berbelit-belit, dan menarik.
Suatu hari Yesus datang ke perbatasan luar Yerikho. Seorang yang buta matanya duduk di pinggir jalan. Dia mendengar orang banyak lewat dan bertanya apa yang tengah terjadi. Ketika diberitahu bahwa Yesus sedang lewat, dia berteriak, “Yesus, Anak Daud, kasihanilah saya!” (Luk. 18:38). Orang-orang menegurnya supaya ia diam, tetapi dia berkeras hati. Yesus berhenti dan bertanya kepada orang buta itu, “Apa yang kau kehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” (ay. 41).
Dia berkata kepada Yesus bahwa dia ingin dapat melihat, dan Yesus berkata, “Melihatlah engkau, imanmu telah menyelamatkan engkau!” (ay. 42).
Yesus memberikan orang itu kesempatan untuk menyuarakan permintaannya dan mengungkapkan imannya dengan kata-kata. Ketika kita menanyakan seorang wanita apa yang dia kehendaki dari kita, jawaban kita dapat membawanya satu langkah lebih maju menuju ke kedewasaan.
Prinsip Berbelas Kasihan
Yesus memberikan kita contoh yang baik sekali melalui salah satu cerita-cerita-Nya. Dia pernah dihadang oleh seorang ahli Taurat yang bertanya, “Guru, apa yang kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” (Luk. 10:25).
Yesus menanyakan orang itu untuk memberitahu Dia apa yang tertulis dalam hukum Taurat, dan dia menjawab “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (ay. 27).
Setelah Yesus memuji jawabannya, ahli Turat itu bertanya, “Dan siapakah sesamaku manusia?” (ay. 29). Yesus menjawab pertanyaannya dengan sebuah perumpamaan tentang seseorang yang pergi dari Yerusalem ke Yerikho. Dia diserang dan dipukuli oleh penyamun-penyamun, dan ditinggalkan dalam keadaan sekarat. Seorang imam melewatinya, dan langsung menyeberangi jalan untuk menghindari orang yang terluka itu. Kemudian seorang Lewi datang ke tempat itu, tetapi juga tidak menawarkan pertolongan.
Akhirnya, seorang Samaria datang ke tempat itu dan “tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.” Dia memberikan orang itu pertolongan pertama, membersihkan dan membalut luka-lukanya. Kemudian dia mengangkat orang itu ke atas keledainya, membawa dia ke tempat penginapan, dan merawatnya. Keesokan harinya dia menyerahkan dua uang logam perak dan memberikannya kepada pemilik penginapan, dan berkata, “Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali.” (ay. 33-35).
Yesus bertanya siapakah di antara ketiga orang ini yang menjadi sesama manusia dari orang yang terluka itu. Jawab ahli Taurat itu, “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya” (Luk. 10:37). Yesus menyuruhnya untuk pergi dan untuk berbuat demikian. Peran utama seorang pembina adalah memberi contoh belas kasihan, untuk menjadi Yesus kepada orang yang kita jumpai hari ini.
Gene Taylor adalah penulis program radio di Detroit yang mensponsori organisasi bantuan masyarakat setempat. Suatu saat mereka memi lih Bala Keselamatan (The Salvation Army). Gene ikut menumpangi “Truk Penginapan dan Makanan” untuk meninjau kegiatan organisasi ini.
Ketika berkeliling, dia melihat perbuatan belas kasihan yang sungguh-sungguh menyentuh hatinya. Dia melihat seorang staf muda dari Bala Keselamatan memberi seorang lelaki yang mabuk secangkir susu coklat panas. Lelaki itu mengambil cangkir itu dan melemparkan minuman panas itu ke muka staf itu. Staf itu menuangkan susu coklat panas ke cangkir lainnya, berjalan menuju lelaki yang sama dan berkata, “Pak, tadi susu coklat bapak tumpah. Ini, silahkan ambil gantinya.”
Ketika mereka kembali ke truk, Gene marah dan bingung. “Saya sungguh tidak percaya apa yang baru saja saya lihat,” teriaknya. “Apa kamu ini pengecut?” “Tidak,” jawabnya dengan tenang, “Saya adalah orang Kristen.” Kemudian, Gene bertanya, “Apa yang memberimu kekuatan untuk melakukan apa yang baru saja saya lihat?” Dia langsung membagikan Injil kepadanya. Satu perbuatan itu menjadi katalisator bagi transformasi rohani dalam kehidupan Gene.
Belas kasihan yang sejati akan secara hebat mempengaruhi mereka yang menerima, memberi dan mengamatinya. Sebagai wanita yang menumpahkan kehidupan dan hati kepada wanita-wanita lainnya, kita perlu melatih diri untuk berbelas kasihan.
Prinsip Kasih Tak Bersyarat
Yesus melakukan jenis kasih yang biasanya tidak muncul secara alami. Dalam Yohanes 8 orang-orang Farisi membawa seorang wanita yang kedapatan berbuat zinah kepada-Nya. Alkitab mengatakan, “Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus, “Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?” (Yoh. 8:4-5).
Yesus berdiam sejenak sementara ahli-ahli Taurat terus mendesak-Nya. Kemudian Dia berkata, “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu” (ay. 7). Setelah mereka mendengar perkataan-Nya, pergilah mereka, meninggalkan Dia seorang diri dengan perempuan itu.
Yesus bertanya pada perempuan itu jika ada orang yang menghukumnya. Dia menjawab, “Tidak ada, Tuhan.” “Aku pun tidak menghukum engkau,” kata Yesus. “Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang” (ay. 11).
Yesus mengingatkan kita untuk mengasihi dan mengampuni mereka yang tertangkap berbuat dosa. Dia lebih lanjut lagi mengingatkan kita untuk mengarahkan mereka ke arah yang benar.
Ketika kita menolong seseorang, ingatlah siapa dia di dalam Dia – bahwa Allah bersukacita di dalam dia – dia berharga di mata Allah, dan dia dapat memulai perjalanannya bersama Yesus. Zefanya 3:17 mengingatkan kita: “Ia bergirang karena engkau dengan sukacita. Ia membaharui engkau dalam kasih-Nya, Ia bersorak-sorak karena engkau dengan sorak-sorai.”
Orang-orang hebat yang berpengaruh mengetahui bagaimana membina potensi dalam diri orang lain untuk memenuhi tujuan yang diberikan Allah kepada mereka. Menjadi wanita yang berpengaruh harganya mahal, beresiko tinggi, dan kadang kala banyak menyita waktu, tetapi tidak ada sukacita yang lebih besar daripada mengetahui bahwa kita dengan taat telah memulai mempengaruhi orang lain dengan membentuk hati mereka menjadi serupa dengan Yesus Kristus.
Dikutip dari Becoming AWoman Of Influence: Making A Lasting Impact On Others oleh Carol Kent, © 1999 dengan seijin dari NavPress – www.navpress.com.
===000===
Cerita Saya...
oleh Maria Densmoor
Artikel “Menghadapi Orang Miskin” pada buletin nomor yang lalu, yang ditulis oleh Ibu Cindy Hayes, menegur hati saya, khususnya dari ayat “…Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran” (I Yoh. 3:16-18). Dulu saya sering “menghakimi” orang-orang miskin dan merasa tidak rela untuk memberikan uang kepada mereka dengan anggapan nanti mereka akan terbiasa dan tidak mau bekerja. Tetapi Tuhan melalui artikel ini kemudian melembutkan hati saya.
Sejak itu saya dengan sengaja membeli barang-barang yang lebih murah, memilih untuk tidak memakai jalan tol bila tidak diperlukan, dan menghemat pengeluaran-pengeluaran lainnya, sehingga uang yang saya hemat tersebut dapat saya sisihkan untuk orang-orang miskin. Sungguh saya merasa bersalah sekali ketika setelah saya hitung-hitung, ternyata dalam satu hari kesempatan yang diberikan kepada saya untuk memberi kepada orang miskin paling banyak hanyalah sebesar Rp.2.500,-.
Lebih dari itu, saya juga belajar bahwa Tuhan sungguh melihat hati kita lebih dari perbuatan kita. Sejak saya berkomitmen untuk memberi kepada orang miskin, Tuhan banyak memberikan kesempatan bagi saya untuk dapat menghemat uang tanpa adanya usaha dari pihak saya. Kesempatan itu datang dengan sendirinya. Kiranya Tuhan senantiasa menolong kita untuk menjadi terang dan garam bagi tempat sekeliling kita.
===000===
ADA ULAR DI TAMANKU
Oleh Jill Briscoe
“Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja”
Ketika diminta untuk mendefinisikan permainan golf, seseorang dengan agak sinis menjawab, “Golf adalah saat pergi berjalanjalan yang sudah dirusak!” Mungkin orang itu baru saja menyelesaikan permainan yang buruk, atau tidak berusaha bermain dengan baik, atau tidak merasa penting untuk memperbaiki permainannya. Dia mungkin menyalahkan lapangannya, peralatannya, atau partnernya. Jika dia benar-benar marah, mungkin dia akan mengganti tongkat golf atau partnernya juga!
Bagi orang banyak, pernikahan nampaknya tidak dipegang pada posisi yang lebih tinggi daripada permainan golf! Sungguh menyedihkan, karena pernikahan dimaksudkan Allah untuk memberikan kebahagiaan terbesar bagi manusia. Bagi manusia yang punya pikiran, sudah jelas bahwa kesalahan berada pada si pemain golf, bukan pada permainannya itu sendiri. Demikian juga, kesalahan bukan berada pada institusi pernikahan, tetapi pada pria dan wanita yang terlibat dalam di dalamnya. Jika peraturan-peraturannya ditaati dan para peserta bersedia untuk bekerja keras, mereka mungkin dapat mulai menikmati hubungan mereka.
Salah satu dari masalah yang kita hadapi saat ini adalah ketidaktahuan kita tentang peraturan yang ada. Konsep Alkitab tentang pernikahan seringkali tidak diajarkan atau sering dikemas dalam istilah gerejawi (seperti “pernikahan kudus”), yang biasanya tidak cocok dengan dunia anak muda sehari-hari. Sebelum saya menemukan Kristus, saya pikir pernikahan adalah hari di saat saya menikah. Setelah saya bertemu Yesus dan belajar bahwa pesta pernikahan hanya berlangsung sehari, sedangkan pernikahan adalah untuk selamanya, saya memutuskan untuk sebaiknya mencari tahu bagaimana memiliki pernikahan yang sukses!
Pernikahan, yang adalah gagasan Allah, haruslah merupakan hal yang baik! Mungkin karena pernikahan adalah gagasan-Nya, maka Dia, dalam pribadi manusia Yesus Kristus, menerima undangan ke pernikahan di Kana di Galilea yang kita baca dalam Yohanes 2. Sewaktu saya menulis undangan pernikahan kami kepada sanak keluarga dan teman-teman, saya mengirim satu undangan ke surga langsung dari hati saya. Isinya, “Calon Tn. dan Ny. D. S. Briscoe mengundang Yesus Kristus untuk hadir dalam pernikahan mereka.” Saya langsung mendapatkan jawaban melalui pos udara, “Dengan senang hati undangannya diterima!”
Dia akan datang! Senang sekali rasanya! Apa yang akan Dia lakukan? Ya – tidak ada – jika Dia tidak diminta. Saya mengetahui hal itu dari Alkitab. Masalah di pernikahan di Kana nampaknya adalah bahwa Dia diundang hanya sebagai tamu biasa, tidak sebagai pemimpin pesta. Pemimpin adalah orang yang menguasai segalanya, memberikan perintah-perintah, dan harus dipatuhi. Saya tidak ingin Kristus menjadi tamu di tingkatan yang sama dengan teman-teman dan orang-orang yang saya kasihi – yang hadir hanya untuk menambahkan suasana keagamaan. Saya tidak ingin anggur kasih kami menjadi habis atau hubungan kami menjadi tawar, tak berwarna, dan hambar. Saya tahu rahasianya terletak pada keunggulan-Nya sebagai pemimpin dan juga pada ketaatan kita terhadap perintah-perintah-Nya. “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!” (Yohanes 2:5) adalah nasihat pernikahan terbaik yang pernah kami dengar. Betapa bodohnya kita jika mengenyampingkan prinsip-prinsip yang agung dan melakukan apa yang kita inginkan sendiri, ketika Alkitab mengajarkan bahwa sukacita kita (melalui ketaatan) akan menjadi lebih baik dari apa yang kita pernah alami dalam hubungan kita sebelumnya.
Sekarang saya menemukan bahwa ternyata sang ular masih berkeliaran di kebun saya! Dia tidak pernah meninggalkan kebun saya; dia hanya merayap keluar masuk dan kesana kemari. Dan saya tidak pernah mengharapkan dia akan muncul di hadapan saya sesering di saat awal-awal kehidupan pernikahan kami yang bahagia! Sang ular membenci setiap pernikahan yang di dalamnya ada Tuhan Allah sebagai penguasa, yang berjalan dan berbicara di hari yang sejuk dengan kedua orang yang Dia ciptakan terutama satu untuk yang lainnya dan bagi diri-Nya. Allah menempatkan manusia di dalam lingkungan yang ideal, tetapi bahkan di Taman Firdaus pun masih ada yang kurang. “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja,” kata Allah (Kej. 2:18), maka Dia “memberi tempat tinggal kepada orang-orang sebatang kara” (Mz. 68:7), dan Dia memulainya di Taman Eden.
Desisan saran yang pertama saya dengar dari sang ular yang muncul saat saya sedang dengan gembiranya mencuci baju, memasak, serta bekerja, dan mengurusi bayi kami, David, di awal-awal tahun pernikahan kami, adalah hal yang biasa disalah kutip dari Alkitab, di mana sang ular terkenal dalam hal itu. Karena kedengarannya akrab bagi saya, saya tidak waspada.
“Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja,” dia mendesis di telinga saya. “Allah tidak pernah punya maksud seperti itu. Jadi, kenapa suami Kristenmu itu sering meninggalkan kamu sendirian? Dia seharusnya di sini untuk menolong kamu mengurusi bayimu dan pekerjaan rumah tanggamu daripada sibuk dengan pekerjaan Allah!” Saat berikutnya anda mendengar desisan sang ular, periksalah kutipannya. Saya tidak memeriksanya. Jika saya memeriksanya, saya pasti akan mengingat kembali bahwa ayat tentang hidup seorang diri mengacu kepada lelaki saja, dan bahwa perempuan diciptakan untuk menolong lelaki, bukan sebaliknya.
Buah mengasihani diri sendiri nampak begitu ranum di mata saya, jadi saya memakannya. Gigitan tersebut langsung menciptakan keinginan dalam diri saya untuk mendorong suami saya untuk memakannya juga.
“Kenapa kamu tidak tinggal di rumah saja pada akhir pekan dan menginjili di sini?” saya bertanya pada dia. “Lihat di luar sana, pada kafe Cat’s Whisker di seberang jalan. Semua anak-anak muda itu butuh mendengarkan Injil. Kengapa hanya berkhotbah pada selusin wanita-wanita tua di gereja?”
Sebenarnya, saya tidak perduli tentang anak-anak muda yang begitu malang di seberang jalan itu. Saya hanya memperalat mereka sebagai alasan untuk memperoleh apa yang saya inginkan. Saya kesepian, dan oleh karenanya saya bermanipulasi untuk membuat agar Stuart mentaati saya daripada Allah. Dan saya memperalat alasan yang besifat rohani untuk mencapai tujuan saya. Betapa benarnya Alkitab yang mengatakan, “Betapa liciknya hati, lebih licik daripada segala sesuatu” (Yer. 17:9).
Melihat keluar jendela ke seberang jalan, suami saya hanya berkomentar, “Memangnya kamu di sini untuk apa? Itu tugas kamu untuk menjangkau mereka.”
Seribu macam alasan keluar dari bibir saya. “Tugas saya adalah menjadi isterimu dan mengurus kamu dan bayi kita sambil berdoa dan mendukung pelayananmu. Saya tidak punya waktu.”
“Kamu punya lebih banyak waktu daripada saya,” dia menjawab. “Jill, Allah tidak meminta kamu melayani-Nya dengan memakai waktu untuk suamimu atau waktu bagi anakmu; dia meminta kamu di waktu luangmu!” Dan sambil mengatakan ini dia mengepak tasnya dan kemudian pergi.
“Aduh,” kata sang ular, “sungguh tidak adil. Sudahlah, pokoknya kamu tidak dapat pergi ke sana dan berbicara kepada mereka. Mereka itu dari generasi yang berbeda dengan kamu. (Saya berumur 23 tahun!). Cari anak-anak remaja yang mau pergi ke sana!” Kalimat terakhir ini dikatakan dengan desisan yang congkak, karena dia tahu orang Kristen yang saya temui hanyalah mereka-mereka yang masih muda di dalam Kristus, pemalu dan masih gugup. Tentu saja dia lupa prinsip I Korintus 1:26-28, dan oleh karenanya dia membuat kesalahan besar.
Melihat sebuah jalan keluar, saya menerima nasihatnya dan memutuskan untuk mengundang tiga atau empat anak-anak muda untuk melakukan hal-hal yang saya tidak berani lakukan. Saya akan tinggal di rumah dan mendoakan mereka (baik sekali saya!) dan membuat secangkir teh Inggris (yang selalu perlu kita lakukan saat ada krisis) untuk menjaga-jaga jika mereka perlu mundur dari medan pertempuran untuk menguatkan diri kembali.
Tuhan sedang akan memberi saya sebuah pelajaran. Ini adalah pelajaran yang sama dengan yang saya mulai pelajari pada awal kehidupan Kristen saya. Allah menoleh dari surga dan berkata kepada saya, “Jill kamu benar. Tidak baik bagi lelaki untuk hidup seorang diri atau perempuan juga untuk hal yang sama, terutama jika sang lelaki dipanggil untuk melakukan pekerjaan Bapanya. Saya sebentar lagi akan meralat hal ini dan mengirim kamu teman-teman untuk menemanimu!” Ketika ketiga remaja saya yang berani tetapi cerewet pergi ke seberang jalan untuk mendekati lusinan anak-anak muda yang berpenampilan liar di luar kafe, acara di kafe bubar karena ada perkelahian; ketiga penginjil saya yang telah terlatih menjadi panik dan mengundang setiap orang pergi ke seberang jalan untuk minum secangkir teh Inggris! Ketika melihat apa yang sebelumnya saya anggap adalah kepompong kecil saya yang aman, dengan rasa ngeri saya menemukan bahwa ternyata sudah tiba waktunya bagi saya untuk menjadi kupu-kupu!
“Inilah mereka, Jill. Kami membawa mereka kepadamu!” para penginjil saya mengumumkan dengan sikap penuh kemenangan. Anak-anak muda tersebut mengalir masuk the rumah memenuhi setiap ruangan, saling bercerita dan bercanda.
“Ya, memang kamu membawa mereka!” saya menjawab dengan lemahnya. Saya mendengar Tuhan tertawa. Saya yakin itu adalah Tuhan. Saya tahu itu bukan sang ular, karena pasti dia sedang tidak ingin tertawa! Sampai larut malam kami berbicara dan bersaksi dan beragumentasi dan berdoa. Saat hampir tengah malam, suami saya kembali dari tugas khotbahnya, mencoba masuk, tetapi tidak bisa. Karena mendengar ketukan suami saya di pintu, seorang pemuda dengan rambut yang dicat warna-warni membuka sedikit pintunya dan bergumam, “Maaf teman, tempat ini sudah penuh!”
Itu adalah permulaan bagi kami berdua. Waktu luang saya dipenuhi dengan kegiatan positif, sementara Stuart memerangi pertempurannya sendiri di hati tentang keterlibatannya dengan para remaja ini. Saya duduk dan mencatat kegiatan rutin saya setiap hari dan memblokir waktu luang saya, dan menyisihkannya bagi Tuhan. Anak-anak muda ini menemukan Kristus, dan sebagai follow-up, kami memulai pemahaman Alkitab di rumah kami. Saya mengingat kembali kebaktian pernikahan kami yang indah dan kata-kata yang diucapkan pendeta saat itu: “Maka tersiarlah kabar bahwa Yesus ada di rumah.” Nampaknya hal tersebut mulai terjadi, dan banyak orang berdatangan sampai, seperti dalam cerita di Alkitab, mereka hampir-hampir tidak dapat mendekati-Nya karena begitu sesaknya kerumunan. Saya berdoa, “Oh, Tuhanku, kiranya kehadiran-Mu di rumah kami dapat menjadi berita di sekitar kota ini!”
Saya menyadari bahwa walaupun saya telah mendedikasikan kehidupan saya kepada Stuart, ini tidak berarti saya telah mendedikasikan hubungan saya dengan Allah kepada Stuart! Hal ini tetap menjadi tanggung jawab saya. Walaupun kami dapat membaca dan berdoa dan mempelajari Firman Tuhan secara bersama-sama, dan walaupun Allah punya rencana yang khusus buat kehidupan kami berdua, saya perlu menggenapi rencana-Nya bagi kehidupan saya secara pribadi! Saya perlu menjaga saat teduh saya secara pribadi dan tidak menggantikannya dengan saat teduh bersama dengan suami. Allah punya tugas untuk saya kerjakan, tugas-tugas rohani dalam bidang-bidang di mana suami saya tidak akan punya waktu atau tidak punya talenta untuk itu.
Rumah kami dapat dijadikan kapal pemancing di saat dia pergi. Bayi kami dapat menjadi sarana kontak dengan ibu-ibu muda lainnya di taman atau di toko. Saya punya tugas dari Allah bukan hanya untuk mengurus keluarga secara fisik saja yang dapat membawa kemuliaan bagi-Nya, tetapi juga untuk membawa Injil kepada setiap manusia. Saya tidak boleh melepaskan tanggung jawab itu hanya karena saya telah menikah!
Begitu banyak ada alasan-alasan yang sah dapat mengaburkan suasana rohani di hari-hari yang bahagia itu. Sebagai Martha, saya begitu berhati-hati dan disusahkan dengan hal-hal yang baik dan perlu, tetapi saya perlu mengingat bagian Maria yang lebih baik – untuk duduk di kaki-Nya dan melihat wajah-Nya dan mendengar Firman-Nya. Dan ketika saya melakukan itu, saya terus menerus diingatkan bahwa dua orang yang dipersatukan harus memberikan pengaruh dua kali lipat bagi kerajaan-Nya! Seperti Firman Tuhan mengatakan, “Satu orang dapat mengejar seribu orang, dan dua orang dapat membuat lari sepuluh ribu orang.” (Ul. 32:30).
Diterjemahkan dari buku “There’s A Snake In My Garden”, Jill Briscoe, Harold Shaw Publishers, Wheaton, Illinois, hal.13-18, dengan seijin pemilik copyright.
===000===
KESETIAAN
Oleh Sari Mudjiyono
Bacaan :1 Samuel 25:2-38 “Aku sajalah ya tuanku yang
Ayat Mas: 1 Samuel 25:24b menanggung kesalahan itu.”
Saya punya seorang sahabat. Hubungan persahabatan kami sudah terjalin sejak kecil dan sampai sekarang kami masih berhubungan baik. Kalau saya pulang ke kampung, dia selalu menantikan kedatangan saya. Sikapnya selalu menyenangkan hati saya. Menurut saya, sahabat saya ini memiliki kesetiaan dalam persahabatan. Saat saya melihat hal itu, saya merasa senang sekali.
Saya memiliki keyakinan bahwa sema orang akan merasa senang jika melihat atau merasakan ada sifat setia yang dialaminya. Setia kepada teman, saudara, pasangan (suami – isteri), pekerjaan atau Tuhan semua itu baik. Namun demikian, dalam Alkitab ada contoh sifat setia yang salah dalam menempatkannya dan akhirnya membawa akibat yang buruk.
Contoh kesetiaan yang benar:
1. Kesetiaan Abigail.
Abigal sangat memperhatikan dan menghormati suaminya. Ia juga rela menderita bagi suaminya. Walaupun suaminya orang bebal, suka mabuk, suka pesta pora, namun hidup Abigail tidak mengikuti perbuatan-perbuatan suaminya yang tidak baik. Ia tetap hidup dalam kebenaran. I Samuel 25:24, 36, 37.
2. Kesetiaan Hana.
Hana sangat menghormati suaminya. Ia tabah dan sabar. Walaupun ia dihina oleh isteri muda suaminya, ia tidak membalas hinaan dengan hinaan atau kejahatan dengan kejahatan, tetapi ia balas itu dengan doa kepada Tuhan. I Samuel 1:6,8.
3. Kesetiaan Yonatan.
Yonatan menepati janjinya untuk keselamatan sahabatnya walaupun ia harus bertentangan dengan pikiran ayahnya yang jahat. I Samuel 20: 19-23, 34, 35-41.
Hasil kesetiaan yang benar:
1. Abigail dapat menyelamatkan suaminya dari ancaman Daud, dan ia tidak turut menanggung akibat dari perbuatan suaminya. I Samuel 25:34, 38.
2. Doa Hana dikabulkan Tuhan. I Samuel 1:19,20.
3. Hidup keluarga Yonatan tidak ada yang terlantar. II Samuel 21:7.
Contoh kesetiaan yang salah:
1. Kesetiaan Sarai.
Sarai sangat memperhatikan dan menghormati suaminya. Ia setia pada suaminya. Tapi sayang, ia salah dalam menempatkan kesetiaannya. Ia menunjukkan sikap yang kurang sabar dalam menanti janji Allah, dan kurang percaya akan janji Allah. Bahkan ia menyuruh suaminya berbuat dosa untuk berselingkuh dengan pembantunya. Kejadian 16:2; 18:10, 12, 15.
2. Kesetiaan Safira.
Safira sangat setia kepada suaminya, tetapi sayang kesetiaannya ia tempatkan pada tempat yang salah. Ia tahu suaminya sedang melakukan kebohongan, namun ia tidak mengingatkannya, bahkan ia ikut melakukan kebohongan itu. Kisah Para Rasul 5:1,2.
Hasil dari kesetiaan yang salah:
1. Sarai direndahkan, dihina, dan dimusuhi oleh Hagar, dan Sarai balik menindas Hagar sehingga Hagar lari. Kejadian 16: 4,6.
2. Akhirnya Safira mati, ikut menanggung akibat dari kebohongan yang dilakukan bersama suaminya. Kisah Para Rasul 5:9-10.
Untuk direnungkan:
Sudahkah kita menempatkan kesetiaan kita pada tempat yang benar, atau apakah sebaliknya, kita tempatkan pada tempat yang salah? Mohonlah pertolongan kepada Tuhan agar kita dapat mengetahui apakah kesetiaan kita salah atau benar. Jika memang kesetiaan kita salah, cepatlah menyadari keadaan dan berubahlah. Tidak ada kata terlambat untuk sesuatu hal yang baik. Jika kesetiaan kita benar, bersyukurlah kepada Tuhan supaya kesetiaan kita disempurnakan dan nama Tuhan dipermuliakan melalui kesetiaan kita. Amin.
Bertumbuh dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus (2 Pet.3:18)
Monday, September 3, 2007
Bertumbuh Bersama No. 5 - Mei 2003
Mencari Kedamaian Di Tengah Dunia Yang Kacau
Oleh Sharon Flemming
Bagaimana kita mendapatkan ketenangan batin ketika keadaan di luar berputar-putar tak terkendali?
Baru-baru ini saya berkata kepada teman saya bahwa saya ingin sekali mengunjungi teman saya yang tinggal di suatu negara di Timur Tengah. “Tetapi,” saya berkesimpulan, “saya sekarang rasanya takut untuk ke sana.”
“Sharon,” teman saya protes, “kamu dulu pernah tinggal di negara Colombia.”
Saya lalu teringat akan kehidupan saya selama 17 tahun di dua negara yang paling keras di dunia ini. Selama delapan tahun di Peru, gerombolan gerilya penganut Maoisme secara rutin meledakkan bom mobil yang bunyinya dapat terdengar dari rumah kami. Dua kali bom tersebut mengguncangkan rumah kami.
Negara di mana saya tinggal selama sembilan tahun memiliki tingkat pembunuhan tertinggi di dunia, tingkat penculikan tertinggi di dunia, dan selama 44 hari pertama di tahun ini saja sudah terjadi 500 kecelakaan lalu lintas di kota Bogota, kota tempat tinggal saya. Di kota-kota lainnya, penduduk hidup dalam keadaan perang tak berkesudahan.
Setelah kejadian 11 September 2001, supaya lebih aman kami dianjurkan untuk kembali ke “kampung halaman” di Amerika. Saya menjawab balik, “Aku merasa sudah berada di kampung halaman sendiri di sini. Kami merasa damai sejahtera tinggai di sini.” Terus terang seharusnya saya menambahkan, “hampir selalu.”
Dapatkah dengan menjadi orang Kristen hal ini menolong kita menghadapi rasa takut? Apa yang memberikan ketenangan batin ketika di luar keadaan berputar-putar tak terkendali?
Berada Dalam Kehendak Allah
Kami tinggal di negara ini karena Allah menyuruh kami. Secara umum Dia berkata, “Pergilah ke seluruh dunia,” bukan hanya ke tempat-tempat yang indah, nyaman, dan aman. Secara khusus, Allah menunjukkan kepada kami bahwa Dia ingin keluarga kami menjadi misionaris. Setelah Allah menggerakkan tiang awan di atas kami, kami yakin bahwa tempat yang paling aman adalah tempat di mana sekarang kami berada. Ini tidak berarti kami akan bebas dari kejahatan, tetapi hal ini menunjukkan iman kami di dalam rencana Allah yang sempurna.
Bagaimana kita mengetahui kehendak Allah? Beribu-ribu halaman telah ditulis untuk menjawab pertanyaan itu, tetapi buku yang paling tepat adalah Alkitab. Dengan membaca Alkitab setiap hari, kita diberitahu apa yang harus kita lakukan. Dengan merenungi Firman Allah, kita akan ditegur ketika kita berada di luar kehendak Allah. Allah telah memberitahu kita bahwa Firman-Nya “sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita” (Ibr. 4:12). Tugas kita adalah untuk mempersembahkan tubuh kita untuk menjadi berbeda dengan dunia ini, dan menjadi berguna bagi Allah (Rom. 12:1-2).
Salah satu dari mentor kami adalah pasangan suami isteri yang mengalami damai sejahtera berada dalam kehendak Allah selama lebih dari 50 tahun berada di lapangan misi. Pemberontakan dan perang saudara terjadi selama pelayanan mereka bertahun-tahun, sewaktu negara Kongo di bawah Belgia berubah menjadi negara Republik Zaire pada tahun 60-an. Pergolakan terus terjadi di tahun 90-an ketika Negara Demokrat Republik Kongo muncul kembali di tengah-tengah perjuangan berdarah. Sewaktu kekerasan dan peperangan semakin panas, mereka menulis surat untuk menenangkan teman-temannya yang mengkuatirkan mereka: “Rasa aman timbul bukan di tengah-tengah absennya bahaya, tetapi di tengah-tengah kehadiran Allah.” Ketika berpuluh-puluh ribu orang ramai-ramai lari mengungsi, mereka tetap berdiam diri karena Allah memberikan mereka damai sejahtera berada di dalam kehendak-Nya dengan mengingatkan mereka akan kehadiran-Nya.
Mengenal Allah
Sewaktu saya menulis artikel ini, saya sedang menunggu hasil biopsi payudara saya. Kemarin saya duduk di ruang tunggu dokter, gelisah dan hampir menangis. Kemudian saya mengingat-ingat kembali ayat-ayat hafalan saya, yang kebanyakan adalah tentang karakter Allah. Ketika saya merenungkan apa yang saya ketahui tentang Allah, saya kembali sadar bahwa saya dapat menyerahkan hasil biopsi ini kepada-Nya juga. Allah sanggup menopang saya melalui masalah ini. Ketika dokter mengatakan bahwa hasilnya belum selesai, saya hanya tertawa. Waktu keluar dari ruang periksa, saya merasakan damai sejahtera jauh lebih besar dari sebelumnya.
Beberapa orang meninggalkan Kolombia karena tekanan hidup yang begitu besar – stress karena tidak aman, stress karena hidup tidaklah mudah di sana. Tetapi Kolombia bukanlah satu-satunya tempat yang tidak aman di dunia. Orang yang mencari kehidupan tanpa masalah di berbagai tempat akan dapat menjadi putus asa. Allah adalah Yahweh-Shalom. Dia adalah damai sejahtera. Kita harus dikuasai oleh Allah Kedamaian.
Saya tidak mengatakan saya selalu merasakan damai sejahtera. Saya sering bergumul dan kuatir. Ketika saya menunggu hasil biopsi, dengan rasa pesimis saya mulai membayangkan bahwa nanti saya harus dengan hati-hati menjelaskan kepada anak-anak saya yang masih kecil bahwa hanya karena paman mereka mati akibat kanker, kanker itu sendiri bukanlah hukuman mati. Saya juga membayangkan nanti saya harus dengan kikuk belajar masak hanya dengan satu tangan, atau saya harus membeli wig untuk menutupi kepala saya yang botak. Untuk menghentikan bayangan-bayangan ini, saya kembali menghadap kepada Allah, bersyukur kepada-Nya atas apa yang telah Dia lakukan. Ketika saya merenungkan Allah, damai yang sempurna kembali menguasai diri saya.
Untuk merenungkan Allah, saya perlu mengenal-Nya. Dengan mencontoh teman saya, Mimi Wilson, saya mempelajari karakter Allah setiap tahun. Saat teduh saya, buku yang saya baca, dan PA yang saya pimpin semua berfokus kepada karakter Allah. Ketika saya belajar mengenal Allah, saya dibekali dasar-dasar yang kuat yang dapat menolong saya ketika menghadapi masalah. Allah telah membuat firman-Nya dalam Yesaya 26:3 menjadi kenyataan bagi saya, “Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya.”
Kuasai Pikiranmu
Karena janji-janji-Nya, saya merasa damai untuk terus tinggal di Kolombia. Dia dengan lembut dan setia mendorong, “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus” (Fil. 4:6-7). Daripada mengikuti bayangan-bayangan kekuatiran saya, saya lebih baik mengundang Allah untuk memasuki segala aspek pikiran saya, dan karenanya mengalami damai sejahtera di luar batas pengertian yang rasional.
Paulus memberikan batasan-batasan untuk menguasai pikiran kita. Filipi 4:8 mengatakan, “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semua itu.” Ini adalah ujian bagi pikiran kita. Apakah apa yang saya kuatirkan itu benar? Apakah program yang memenuhi pikiranku suci? Rencana untuk balas dendam, apakah ini manis? Adakah hal-hal yang patut dipuji dalam novel yang saya baca? Menguasai pikiran bukanlah hal yang saya dapat lakukan seorang diri. Setiap hari, saya memohon pertolongan kepada Allah. Hampir setiap saat saya mengaku dosa karena pikiran-pikiran saya yang tidak benar. Saya memilih ayat-ayat hafalan berdasarkan peperangan rohani pribadi saya. Ketika saya menggantikan pikiran saya dengan Firman-Nya, saya mendapatkan kemenangan.
Ketika anak remaja saya naik bis kota, pergi ke rumah temannya, saya menyerahkan dia kepada Tuhan dan meminta agar Tuhan bertakhta dalam pikiran saya yang terlalu aktif. Suatu waktu, saya merasakan damai yang luar biasa ketika anak saya dalam perjalanan pulang setelah hari menjadi gelap sampai saya lupa menyisakan makan malam untuk dia! Setiap hari ketika saya melambaikan tangan kepada anak-anak saya yang baru masuk ke bis sekolah, saya mohon agar Allah melindungi mereka di tengah keramaian lalu lintas yang kacau balau. Beberapa menit kemudian, begitu mendengar sirene mobil ambulans mengaung-ngaung, saya langsung berdoa, mohon perlindungan, dan mengucap syukur. Puji syukur saya langsung mengalami damai sejahtera dari Allah. Dia tidak pernah mengecewakan.
Kadangkala, hidup tidak seperti apa yang kita inginkan, yaitu yang rapih, nyaman dan dapat kita kuasai. Tetapi Allah memiliki rencana yang kekal. Dengan mengenal dan percaya kepada-Nya, kita akan mendapatkan damai sejahtera yang sejati di dunia.
Diterjemahkan dari artikel “Finding Peace in a Chaotic World”, majalah “Just Between Us”, Winter 2002, halaman 16-17.
===000===
ADA ULAR DI TAMANKU
Oleh Jill Briscoe
“Di Belakang Senyum”
Saya selalu percaya kepada Allah, dan bahwa Yesus Kristus dalam anak-Nya, dan bahwa Alkitab adalah benar. Kedua orang tua saya mengajarkan perbedaan antara apa yang benar dan yang salah. Benar adalah kelakuan yang “baik,” yang membuat saya dan orang lain bahagia; salah adalah kelakuan yang “tidak baik,” yang membuat saya dan orang lain sedih. Lalu, kenapa saya berkeinginan menjadi “tidak baik”, bukannya “baik”? Kenapa hal-hal yang tidak baik memberikan saya kesenangan? Kenapa kelakuan yang “baik” nampaknya begitu membosankan? Mungkin informasi yang saya terima selama ini salah.
Segala sesuatu yang berada di taman saya kelihatan indah. Segala pohon di dalamnya dapat saya nikmati: pohon pendidikan; pohon bepergian; pohon persahabatan yang erat dan hiburan yang sehat; pohon keluarga yang penuh kasih dan hidup tanpa masalah. Buah dari pohon-pohon ini bebas dapat saya makan. Tetapi seperti Hawa, saya mengingini buah dari pohon yang tidak boleh saya sentuh lebih dari segala-galanya!
Seperti hawa, saya pun juga memiliki pohon terlarang yang berdiri di antara pohon-pohon lainnya yang boleh saya nikmati. Setiap hari pohon terlarang mengingatkan saya pada salah satu dari pemberian Allah yang paling berharga kepada umat manusia yang dicipta menurut peta dan teladan-Nya – yaitu kebebasan untuk memilih.
Pada saat itu saya tidak sadar, tetapi di antara pohon-pohon yang berada di taman saya, ternyata ada ular. Dia menghampiri saya, sama seperti yang dilakukannya kepada Hawa – dalam bentuk yang begitu akrab dengan saya – karena tipu dayanya belum pernah berubah. Ular itu berbicara kepada saya melalui orang-orang yang telah saya kenal seumur hidup; teman-teman saya yang hidup di taman yang sama, sehingga saya tidak merasa curiga atau ada bahaya.
“Makanlah buah itu. Kami semua sudah pernah memakannya, dan ternyata tidak ada dari kami yang mati!” Jadi, karena begitu ingin tahu rasa buah tersebut saya memakannya juga. Saya tidak sadar bahwa proses kematian sudah dimulai pada saat gigitan pertama; pada saat buah telah habis saya makan, saya mulai merasa mual dan sakit perut.
Saya sangat mengasihi dan menghormati kedua orang tua saya sehingga saya tidak ingin menyakiti hati mereka. Tetapi saya merasa mereka tidak akan mengerti alasan kenapa saya berbuat dosa, yang saya anggap adalah proses “bertumbuh menjadi dewasa.” Jadi saya memutuskan jalan yang terbaik adalah untuk berpura-pura berkelakuan “baik” sewaktu mereka berada di sekitar saya. Sementara itu, saya belajar untuk memakan buah terlarang di bagian-bagian taman yang hanya dihuni oleh sang ular dan saya!
Contohnya, saya tahu seharusnya saya tidak boleh membaca buku-buku yang kotor, jadi saya tidak membacanya. Tetapi pikiran yang kotor nampaknya lebih diperbolehkan dan dapat dinikmati di belakang senyuman. Saya diberitahu bahwa menyontek sewaktu ujian itu tidak benar, tetapi saya dapat membuang rasa bersalah saya dengan beragumentasi bahwa dengan menyontek nilai saya menjadi lebih baik, dan nilai yang lebih baik membuat orang tua saya senang – sepanjang saya tidak tertangkap basah! Bagaimana jika saya ketahuan menyontek? Ya, saya bisa membius kesadaran saya dan membohongi orang tua saya. Bukankah hal ini lebih baik daripada mengatakan hal yang sebenarnya, yang nantinya mengakibatkan hati orang yang saya kasihi menjadi sengsara dan malu?
Tiba saatnya saya berusia delapanbelas tahun dan menjadi lebih bingung lagi. Saya merasa hidup saya tidak berkecukupan. Ada sesuatu atau seseorang yang masih kurang. Saya melihat orang lain. Sudahkah mereka menemukan rahasia kehidupan? Kadangkala saya melihat di belakang senyum mereka dan melihat kenyataan yang sebenarnya. Salah satu orang terkaya yang saya kenal meninggal karena bunuh diri. Sudah jelas kekayaan materi tidak menolongnya untuk mengisi kekosongan di dalam dirinya. Teman saya yang terbaring di rumah sakit sedang tidak bahagia, dan dia menyalahkan kesehatannya. Saya memiliki kesehatan yang baik, jadi jelas ini bukan jawaban yang tepat juga. Teman saya lainnya tidak merasa bahagia, dilempar bolak balik di antara kedua orang tuanya yang pernikahannya sedang bermasalah. Walaupun saya hidup di tengah-tengah keluarga yang penuh kasih, yaitu hasil dari pernikahan kedua orang tua yang harmonis, tetapi saya tetap merasa gelisah.
Entah kenapa saya merasa bahwa jawabannya bukanlah berada pada kekayaan materi atau pun kesenangan dalam hidup seperti kesehatan dan kebahagiaan, tetapi di dunia yang begitu rahasia – kembali kepada antara yang “baik” dan “tidak baik! Tetapi kebaikan nampaknya sulit untuk dijabarkan, dan ketidakbaikan sudah membuat saya muak pada diri saya sendiri. Jadi di manakah jawabannya? Apa yang harus saya lakukan? Kemana saya harus pergi? Saya harus menjadi sebaik apa, dan harus menjadi sejahat apa sebelum saya menemukan – apa? Di dalam keadaan yang membingungkan, saya tidak tahu apa yang sedang saya cari-cari. Mungkin yang saya cari sedang duduk menunggu saya di taman yang lain, di suasana yang lain.
Tiba saatnya bagi saya untuk membuktikan teori saya, yaitu ketika saya diterima sebagai mahasiswa dan belajar untuk menjadi guru di Cambridge.
“Ya,” saya meyakinkan orang yang mewawancarai saya, “saya sangat menyukai anak kecil,” sementara di belakang senyum saya sang ular tertawa terkekeh-kekeh berdesis, “Sungguh?!”
Setelah masuk kuliah di perguruan tinggi, olok-olokan sang ular ternyata benar. Saya anggap anak kecil adalah suatu gangguan yang harus ada. Mereka menuntut untuk mengambil waktu saya yang sibuk dan berharga, yang saya perlukan agar saya dapat segera menemukan pohon-pohon baru yang buahnya lebat yang sebelumnya saya tidak pernah berani menyipinya di taman yang begitu indah tetapi begitu dijaga di rumah saya.
Saya mengambil jururan drama dan seni, yang menolong saya untuk dapat melontarkan senyum dan memainkan peran apa saja yang cocok bagi egoisme saya. Banyak wanita yang mahir dalam hal ini. Wanita memiliki kemampuan berbicara dan drama dapat menolongnya untuk mementaskan peran utama yang menarik atau menjengkelkan yang berakar dalam dirinya. Saya ternyata mampu memerankan keduanya dengan baik, dan mengharapkan orang lain terkesan dengan kemampuan saya! Hidup saya sekarang menjadi “drama” yang panjang. Sebelum layar di panggung dibuka dan memperlihatkan saya, saya adalah orang yang kesepian, ketakutan, dan tidak yakin bahwa saya dapat mempengaruhi penonton. Apakah mereka akan menyukai pertunjukan saya? Apakah mereka akan tertawa saat saya mencoba melawak, menangis saat saya mementaskan kepedihan, dan menepuki tingkah saya yang menarik perhatian? Penting bagi saya untuk mengetahui bahwa penonton puas dengan pertunjukan saya. Saat kembali ke ruang ganti baju, menghapus semua dandanan wajah dan menanggalkan jubah pentas, saya merasa sangat lelah, depresi, dan tidak puas.
Mungkin saya terlalu banyak berpentas dipanggung, atau mungkin saya terlalu banyak memakan buah terlarang. Saya tidak tahu. Tiba-tiba datang penyakit perut misterius yang membawa saya ke rumah sakit. Di belakang senyum, saya merasa takut. Saya memerlukan jawaban dari pertanyaan saya sekarang juga. Saya tidak lagi memikirkan cara untuk memuaskan kehidupan saya yang egois atau tentang bagaimana saya bisa mendapatkan keinginan saya. Saya mulai ingin tahu bagaimana menghadapi rasa takut, rasa sakit, dan mengerti kesengsaraan orang lain serta tahu bagaimana mencari kata-kata yang tepat untuk menghibur. Saya harus berjuang menghadapi kematian dan mencari jawaban yang tepat.
Saya baru sadar bahwa ketika saya telentang di tempat tidur, hanya ada satu arah untuk melihat. Ke atas! Di atas sanalah tempat di mana saya percaya saya selalu dapat menemukan Tuhan. Tetapi, apa yang bisa saya katakan kepada Tuhan yang asing, yang mungkin tidak mengetahui saya yang begitu kecil dan yang sedang kacau, terbaring di rumah sakit yang tak dikenal di Planet Bumi?
“Tolong!” saya berkata. “Sembuhkanlah saya. Keluarkan saya dari tempat ini! Cepat, hentikan rasa sakit ini. Apakah Engkau mendengar saya?” Oh oh, ini rasanya seperti bicara di radio saja. Radio atau bukan, Tuhan mendengar pesan saya dan menempatkan alat pemancar yang bagus sekali di samping kuping kiri saya.
Dia bernama Yenny, dan dia berbaring di tempat tidur di samping saya. Dialah yang mengatakan bahwa ada ular di taman saya, dan saya telah mendengar setiap perkataannya dan mempercayai kebohongannya, bukannya kebenaran Tuhan. Buah terlarang nampak begitu nikmat sehingga saya telah memakannya, karena ingin menjadi bijak dan tetapi akhirnya menjadi congkak dan sombong. Saya lalu menjadi allah saya sendiri, yang sekarang bahkan tidak dapat menjawab doa saya sendiri! Tidaklah heran kalau saya begitu sakit jiwa. Karena dosa, saya berpakaian daun argumentasi, yang dengan hati-hati telah dijahit tetapi sangatlah tidak memadai.
“Yesus datang dan mati bagimu di kayu salib, Jill,” kata Yenny. “Di sana Ia telah meremukkan kepala sang ular dan mengalahkannya, tetapi sebelum itu sang ular telah meremukkan tumit-Nya sampai Ia begitu menderita. Dia bangkit mengalahkan kematian dan dosa, dan hidup kembali. Dia ingin masuk ke dalam hidupmu melalui Roh Kudus-Nya.”
“Apa itu Roh Kudus?” saya bertanya. Saya pernah dengar nama Roh Kudus, tetapi yang ada dalam bayangan saya adalah hantu mengerikan yang bergentayangan di gereja-gereja tua! Menurut pendapat saya yang bodoh, Roh itu bebas melakukan hal tersebut karena Allah telah mati atau pergi berlibur, sehingga yang sisa hanyalah Roh itu saja. Yenny tertawa. Eh, apakah orang Kristen bisa tertawa? Saya pikir orang Kristen itu terlalu kaku, membosankan, dan terlalu alim untuk dapat tertawa seperti itu! Ternyata saya salah.
“Roh Kudus adalah sifat Ilahi Allah yang diturunkan pada hari Pentakosta,” Yenny menjelaskan. “Roh Kuduslah yang memungkinkan kita untuk memiliki kehidupan Kristus.”
Senyum saya menghilang, berganti dengan air mata yang bercucuran, karena saya mulai menyadari keterlanjangan saya di taman dan dosa-dosa saya. Saya langsung menerima jubah dari Allah untuk menutupi keterlanjangan saya. Berjubahkan pengampunan dosa dan kasih karunia Allah, saya pergi meninggalkan pohon ketidaktaatan menuju hidup yang baru.
Sang ular di taman saya menggeliat penuh amarah dan merangkak pergi jauh – untuk sementara!
Diterjemahkan dari buku “There’s A Snake In My Garden”, Jill Briscoe, Harold Shaw Publishers, Wheaton, Illinois, hal.13-18, dengan seijin pemilik copyright.
===000===
MENGHADAPI ORANG MISKIN
Oleh Cindy Hayes
Orang-orang miskin dapat ditemukan di mana saja, baik di kota maupun di desa. Kadangkala mereka datang meminta nasi, meminta sumbangan untuk panti asuhan, atau mungkin mereka sedang mengelap mobil kita yang baru saja dicuci dengan lap kotor. Hati saya merasa kasihan, tetapi juga ingin tahu apakah mereka benar-benar miskin atau hanya berpura-pura saja. Sejauh manakah tanggung jawab saya terhadap mereka sesuai dengan apa yang Yesus katakan, “Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu” (Mat. 5:42)?
Sewaktu membaca Alkitab, saya belajar bahwa Allah memenuhi kebutuhan orang miskin (Maz. 68:11), menyelamatkan nyawa orang miskin (Maz. 72:13), membela orang miskin (Maz. 140:13), mendengar jeritan orang miskin (Ayub 24:28), melindungi orang miskin (Maz. 12:6), tidak akan meninggalkan orang miskin (Yes. 41:17), dan memberikan makanan kepada orang miskin (Maz. 146:7). Dan saya juga menemukan bahwa kita mempunyai tanggung jawab untuk menolong orang miskin.
“Berilah keadilan kepada orang yang lemah dan yang yatim, belalah hak orang sengsara dan orang yang kekurangan! Luputkanlah orang yang lemah dan yang miskin, lepaskanlah mereka dari tangan orang fasik!” (Maz. 82:3-4)
“… supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah roti bagi orang yang lapar, dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak membunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!” (Yes. 58:6-7)
“Jika sekiranya ada di antaramu seorang miskin… engkau harus membuka tangan lebar-lebar baginya dan memberi pinjaman kepadanya dengan limpahnya, cukup untuk keperluannya, seberapa ia perlukan.” (Ul. 15:7-8)
“Tetapi apabila kamu mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta… sebab engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benar.” (Luk. 14:13-14)
Oleh karena itu, sebagai utusan-utusan Allah, kita juga harus membela orang miskin. Tetapi secara jujur saya sering merasa kewalahan dan bingung. Kadangkala secara naluriah saya ingin mengabaikan mereka dengan dalih bahwa mereka tidak pantas untuk ditolong. Hati saya kemudian maju satu langkah lagi untuk menjadi lebih keras, tetapi saya berdoa melawannya.
“… maka janganlah engkau menegarkan hati ataupun menggenggam tangan terhadap saudaramu yang miskin… hati-hatilah, supaya jangan timbul di dalam hatimu pikiran dursila… (Ul.15:8-9)
“Akan tetapi, berikanlah isinya sebagai sedekah dan sesungguhnya semuanya akan menjadi bersih bagimu. Tetapi celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu membayar persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu mengabaikan keadilan dan kasih Allah… celakalah kamu… sebab kamu meletakkan beban-beban yang tidak terpikul bagi orang, tetapi kamu sendiri tidak menyentuh beban itu dengan satu jaripun.” (Luk. 11:41-42, 46)
Saya perhatikan Yesus tidak berfokus pada kekurangan mereka (malas, kurang terpelajar, pecandu alkohol, rokok, judi…). Bukankah Yesus berkata, “Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut” (Luk. 12:48)? Bukankah sebagai murid Yesus kita harus mengasihi musuh, berdoa bagi orang yang mencaci kita, mengasihi orang yang tidak dapat membalas kasih kita, meminjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, mengasihi orang yang tidak tahu berterima kasih dan yang jahat, tidak boleh menghakimi mereka, tetapi sebaliknya mengampuni mereka dan tetap memberi? (Luk 6). SEMUANYA INI BERLAWANAN DENGAN PEMIKIRAN MANUSIA! Tetapi tetap kita harus bertanggung jawab untuk memberi waktu kita, kekayaan kita, kasih kita…
Sebenarnya apa yang kita beri tidaklah sepenting sikap kita di dalam memberi. Carilah sikap yang penuh kasih; yang penuh sukacita sewaktu memberi (II Kor. 9:7). Doakan sikapmu sendiri terhadap orang miskin. Jika kita memasuki dunia mereka, kita mungkin dapat ikut merasakan keputus asaan mereka, mengerti mengapa mereka bersikap manipulatif dan ingin bergandul kepada kita, dan ikut merasakan ketidak adilan dan kesengsaraan yang banyak dari antara kita tidak sanggup untuk menanggungnya. Kita sudah pasti akan diperalat dan nantinya akan merasa dikecewakan. Tidak ada jawaban yang tepat untuk masalah ini; hanya kita harus yakin bahwa tidak ada perbuatan kasih yang terbuang percuma di mata Allah. Kebanyakan orang yang memberi berprasangka orang miskin ini nanti “menjadi kebiasaan”. Memberi berdasarkan ketulusan hati selalu mendatangkan berkat bagi orang yang memberi, tidak peduli apakah orang yang menerima pantas menerimanya atau tidak.
Walaupun demikian, kita tentunya tidak dapat memenuhi kebutuhan setiap orang, dan oleh karenanya kita memerlukan ketajaman mata dan bijaksana. Hal tersebut dijanjikan akan diberikan kepada orang yang mencari dan memintanya (Am. 18:15, Yak. 1:5). Berdoalah! Carilah waktu untuk menyendiri di kamar tidur dan berdoa. Jika keadaan tidak begitu genting, mintalah waktu pada orang yang sedang perlu pertolongan tersebut agar kita dapat berdoa terlebih dahulu sebelum memberikan jawaban kepadanya. Alkitab berjanji bahwa Roh Kudus akan memimpin kita kepada kebenaran (Yoh. 16:13), yang menolong kita menjadi peka terhadap petunjuk Allah. Cobalah untuk mengetahui apakah kita merasa damai sejahtera atau gelisah? Semakin kita bertumbuh menjadi dewasa rohani dan lebih mengerti budaya di lingkungan kita, kita tidak akan mudah dikelabui oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan (Ef. 4:14). Namun demikian kita juga harus menyadari bahwa kita tidak harus menentukan apakah si peminta pantas untuk menerima uang. Kita hanya perlu mengetahui kehendak Allah. Tanggung jawab kita sebagai anak-anak Allah adalah untuk mematuhi Dia, bukannya menentukan bagaimana pemberian kita sebaiknya digunakan. Pemberian kita menyatakan kasih jika diberikan dengan sikap yang benar. “…Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran” (I Yoh. 3:16-18).
Apakah kita mempunyai komitmen untuk mau berkorban dengan memberi kekayaan kita baik secara materi maupun spiritual kepada mereka yang membutuhkannya? Raja Yosia membela orang sengsara dan orang miskin, sehingga segala sesuatunya berjalan dengan baik (Yer. 22:16). Kornelius (KPR 10) sewaktu mencari Allah dipertemukan dengan Petrus karena kepekaannya terhadap orang miskin. “Doamu telah didengarkan Allah dan sedekahmu telah diingat di hadapan-Nya”. Orang Samaria (Lukas 10) dikenal karena hatinya tergerak untuk menolong orang yang memerlukannya. Janda dalam Lukas 21 dijadikan contoh bagi kita semua karena dia memberi dari kekurangannya. Dan Yesus menunjukkan belas kasihan kepada orang miskin dan melarat. Sebagian besar dari hidup-Nya dihabiskan di tengah-tengah mereka dan bersedia dikritik oleh para pemimpin agama saat itu karenanya.
Marilah kita mengumpulkan harta di sorga! Biarlah kita semua menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi (I Tim. 6:18-19). Jika kita mencontoh kehidupan Yesus dan hidup di bawah kuasa Roh Kudus, hati kita akan tergerak untuk menolong ketika kita melihat kesengsaraan orang lain. Walaupun kita diperingati untuk berbijaksana di dalam memberikan kekayaan kita, tetapi nampaknya tidak ada konsekuensi yang kekal jika kita menjadi terlalu mudah merasa kasihan kepada orang lain. Alkitab tidak pernah menyebutkan bahwa kita akan dihakimi dalam kekekalan jika kita banyak menolong, mengasihi atau memberi – kita hanya akan dihakimi jika kita gagal menolong orang yang memerlukan pertolongan (Mat. 25).
Orang yang baik bermurah hati dan memberi pinjaman…
Dia memberikan sedekah kepada orang miskin. Mazmur 112
===000===
Dasar anak-anak!
Seorang guru TK sedang memperhatikan murid-muridnya yang sedang menggambar. Sekali-kali dia mengitari meja-meja di kelasnya untuk melihat karya seni setiap anak. Melihat salah satu anak yang kelihatan sibuk sekali menggambar sesuatu, guru itu bertanya apa yang sedang digambarnya.
Anak itu menjawab, “Saya sedang menggambar Tuhan.” Guru itu berhenti sejenak dan kemudian berkata, “Tapi tidak ada yang tahu Tuhan itu seperti apa.” Tanpa ragu-ragu anak itu langsung menjawab, “Sebentar lagi mereka akan tahu.”
Seorang anak memperhatikan ayahnya, yang adalah seorang pendeta, sedang menulis kotbah. “Ayah tahu dari mana harus ngomong apa?” katanya. “Tahu dari Tuhan,” jawab ayahnya. “Oh,” kata anak itu, “lalu kenapa ayah banyak mencoret yang sudah ditulis?”
===000===
Tempat Di Mana Tidak Ada Penyesalan
Oleh Jackie Katz
Ya, saya mengaku saya punya penyesalan. Maunya sih tidak, tetapi kenyataan bukan demikian. Saya menyesal saya mendisplinkan anak penuh amarah. Saya menyesal saya menggunakan kemarahan saya untuk menguasai anak. Saya menyesali ketidaksabaran dan kata-kata saya yang tajam. Saya menyesali sifat saya yang tidak baik dan kegagalan saya untuk mendorong anak-anak saya. Saya sungguh menyesali semua itu. Walaupun sekarang anak-anak saya sudah dewasa, penyesalan saya begitu besar sampai saya melupakan hal-hal baik yang saya lakukan sebagai ibu. Akhir-akhir ini penyesalan menjadi teman yang akrab dan sering datang.
Penyesalan bukanlah hal yang mudah untuk dipikul. Penyesalan penuh berisi kata-kata “Andai saja.” Andai saja saya dapat menghapus masa lalu. Andai saja saya dapat mengulang masa lalu. Andai saja… Tetapi kita tidak akan pernah kembali ke masa lalu. Pilihan yang kita ambil hari ini mempunyai akibat di masa depan dan kita harus menerima konsekuensinya. Ini prinsip menanam dan menuai yang dibicarakan dalam Alkitab. Kita menuai apa yang kita tanam. Oh, ini bukan karena saya tidak pernah memohon ampun; sudah… sering sekali. Saya mengakui kegagalan saya dan memohon ampun, dan anak-anak saya cepat mengampuni saya, tetapi saya tetap menyesal bahwa saya tidak dapat menguasai diri. Bagaimana kita dapat memperkecil “penyesalan” dan “andai saja…”? Kita harus menilai kelakukan kita hari ini dan mengubahnya jika ada yang tidak baik.
Dalam Ef. 6:4 Paulus berkata, Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu…” Di sini Paulus membicarakan tentang masalah membesarkan anak, yang melibatkan kedua orang tua. Kata membangkitkan di sini artinya membuat orang, selain dirinya sendiri, marah. Marah yang macam ini adalah ledakan amarah yang terjadi secara tiba-tiba. Orang tua harus mendidik anak-anaknya melalui cara yang tidak membuat anak-anaknya menjadi pemuda dan pemudi yang mudah gusar.
Dalam Kolose 3:21, perintah yang hampir sama diberikan, “Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya.” Kata menyakiti di sini artinya menyakitkan hati, mengacaukan, menjengkelkan, menggusarkan. Orang tua perlu mendisplinkan anak-anaknya melalui cara yang tidak “mematahkan jiwa mereka”.
Allah menempatkan kita untuk memiliki wewenang atas anak-anak kita, tetapi Dia memperingati kita untuk tidak menyalahgunakan wewenang tersebut. Kita bertanggung jawab untuk melaksanakan wewenang itu, dan jika disalah gunakan, maka hal ini akan membawa akibat yang menyedihkan, yang hanya menuntun kita kepada penyesalan.
MENGENALI GEJALA-GEJALANYA
1. Kemarahan yang keluar. Anak ini dengan sengaja tidak mau patuh dan meledak terhadap orang yang ingin mengaturnya. Kemarahannya “dikeluarkan.” Dia tidak bisa diatur, tidak punya rasa hormat, dan tidak dapat menguasai tabiatnya.
2. Jiwa yang terluka dan tertutup. Jiwa anak ini nampak patah dan tertutup. Dia senang menyendiri dan wataknya sering berubah, tidak mau mendengar nasihat, apatis, tawar hati atau bahkan tidak mau diatur.
3. Rendah diri. Sebagian besar dari konsep diri anak berasal dari persepsi dia tentang apa yang kita pikirkan tentang dia. Jika dia tidak “merasa” dikasihi dan dihormati, dia beranggapan bahwa dia telah mengecewakan kita.
RENCANA UNTUK BERUBAH
Sekarang mungkin anda merasa ingin menyerah saja! Jika anda merasa anda telah berbuat banyak kesalahan di dalam mendidik anak-anak, selamat datang di dunia ini! Mendidik anak bukanlah tugas yang sederhana, dan kita bukanlah orang yang sempurna. Allah dalam kemurahan-Nya menyediakan jalan keluar untuk memperbaiki hubungan.
Apa yang dapat kita lakukan jika kita telah membangkitkan amarah di dalam hati anak-anak kita?
1. Cari tahu secara khusus bagaimana kita telah membangkitkan amarah di dalam hati anak-anak kita.
2. Akui dosa-dosa ini kepada Tuhan dan memohon pengampunan-Nya. Terimalah pengampunan dosa-dosa di masa lalu dari Tuhan (I Yoh. 1:9).
3. Minta pengampunan dari anak kita untuk hal-hal tertentu yang telah kita lakukan. Tidak akan ada suatu perubahan sampai kita berkata, “Saya salah. Maukah kamu memaafkan saya?” (Amsal 28:13).
4. Tanya anak kita jika ada hal-hal lain yang telah kita lakukan, yang membangkitkan amarah di dalam hatinya. Jika ada, minta pengampunan darinya. Kemudian buatlah rencana secara bersama untuk menggantikan kelakuan yang lama dengan kelakuan yang baru (Ibr. 10:24).
Mencoba membersarkan anak tanpa penyesalan bukanlah tugas yang mudah. Tetapi kita dapat menekan jumlah penyesalan dan kata-kata “andai saja” jika kita menilai kelakuan kita hari ini dan mengubahnya jika ada yang perlu diperbaiki. Setelah mengevaluasi diri, cobalah untuk terus memperbaiki diri dan membiarkan Allah membawa kita ke tempat di mana tidak ada penyesalan.
Diterjemahkan dari artikel “The Place of No Regrets”, majalah “Just Between Us”, Winter/Spring 2000, hal. 28-29.
Oleh Sharon Flemming
Bagaimana kita mendapatkan ketenangan batin ketika keadaan di luar berputar-putar tak terkendali?
Baru-baru ini saya berkata kepada teman saya bahwa saya ingin sekali mengunjungi teman saya yang tinggal di suatu negara di Timur Tengah. “Tetapi,” saya berkesimpulan, “saya sekarang rasanya takut untuk ke sana.”
“Sharon,” teman saya protes, “kamu dulu pernah tinggal di negara Colombia.”
Saya lalu teringat akan kehidupan saya selama 17 tahun di dua negara yang paling keras di dunia ini. Selama delapan tahun di Peru, gerombolan gerilya penganut Maoisme secara rutin meledakkan bom mobil yang bunyinya dapat terdengar dari rumah kami. Dua kali bom tersebut mengguncangkan rumah kami.
Negara di mana saya tinggal selama sembilan tahun memiliki tingkat pembunuhan tertinggi di dunia, tingkat penculikan tertinggi di dunia, dan selama 44 hari pertama di tahun ini saja sudah terjadi 500 kecelakaan lalu lintas di kota Bogota, kota tempat tinggal saya. Di kota-kota lainnya, penduduk hidup dalam keadaan perang tak berkesudahan.
Setelah kejadian 11 September 2001, supaya lebih aman kami dianjurkan untuk kembali ke “kampung halaman” di Amerika. Saya menjawab balik, “Aku merasa sudah berada di kampung halaman sendiri di sini. Kami merasa damai sejahtera tinggai di sini.” Terus terang seharusnya saya menambahkan, “hampir selalu.”
Dapatkah dengan menjadi orang Kristen hal ini menolong kita menghadapi rasa takut? Apa yang memberikan ketenangan batin ketika di luar keadaan berputar-putar tak terkendali?
Berada Dalam Kehendak Allah
Kami tinggal di negara ini karena Allah menyuruh kami. Secara umum Dia berkata, “Pergilah ke seluruh dunia,” bukan hanya ke tempat-tempat yang indah, nyaman, dan aman. Secara khusus, Allah menunjukkan kepada kami bahwa Dia ingin keluarga kami menjadi misionaris. Setelah Allah menggerakkan tiang awan di atas kami, kami yakin bahwa tempat yang paling aman adalah tempat di mana sekarang kami berada. Ini tidak berarti kami akan bebas dari kejahatan, tetapi hal ini menunjukkan iman kami di dalam rencana Allah yang sempurna.
Bagaimana kita mengetahui kehendak Allah? Beribu-ribu halaman telah ditulis untuk menjawab pertanyaan itu, tetapi buku yang paling tepat adalah Alkitab. Dengan membaca Alkitab setiap hari, kita diberitahu apa yang harus kita lakukan. Dengan merenungi Firman Allah, kita akan ditegur ketika kita berada di luar kehendak Allah. Allah telah memberitahu kita bahwa Firman-Nya “sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita” (Ibr. 4:12). Tugas kita adalah untuk mempersembahkan tubuh kita untuk menjadi berbeda dengan dunia ini, dan menjadi berguna bagi Allah (Rom. 12:1-2).
Salah satu dari mentor kami adalah pasangan suami isteri yang mengalami damai sejahtera berada dalam kehendak Allah selama lebih dari 50 tahun berada di lapangan misi. Pemberontakan dan perang saudara terjadi selama pelayanan mereka bertahun-tahun, sewaktu negara Kongo di bawah Belgia berubah menjadi negara Republik Zaire pada tahun 60-an. Pergolakan terus terjadi di tahun 90-an ketika Negara Demokrat Republik Kongo muncul kembali di tengah-tengah perjuangan berdarah. Sewaktu kekerasan dan peperangan semakin panas, mereka menulis surat untuk menenangkan teman-temannya yang mengkuatirkan mereka: “Rasa aman timbul bukan di tengah-tengah absennya bahaya, tetapi di tengah-tengah kehadiran Allah.” Ketika berpuluh-puluh ribu orang ramai-ramai lari mengungsi, mereka tetap berdiam diri karena Allah memberikan mereka damai sejahtera berada di dalam kehendak-Nya dengan mengingatkan mereka akan kehadiran-Nya.
Mengenal Allah
Sewaktu saya menulis artikel ini, saya sedang menunggu hasil biopsi payudara saya. Kemarin saya duduk di ruang tunggu dokter, gelisah dan hampir menangis. Kemudian saya mengingat-ingat kembali ayat-ayat hafalan saya, yang kebanyakan adalah tentang karakter Allah. Ketika saya merenungkan apa yang saya ketahui tentang Allah, saya kembali sadar bahwa saya dapat menyerahkan hasil biopsi ini kepada-Nya juga. Allah sanggup menopang saya melalui masalah ini. Ketika dokter mengatakan bahwa hasilnya belum selesai, saya hanya tertawa. Waktu keluar dari ruang periksa, saya merasakan damai sejahtera jauh lebih besar dari sebelumnya.
Beberapa orang meninggalkan Kolombia karena tekanan hidup yang begitu besar – stress karena tidak aman, stress karena hidup tidaklah mudah di sana. Tetapi Kolombia bukanlah satu-satunya tempat yang tidak aman di dunia. Orang yang mencari kehidupan tanpa masalah di berbagai tempat akan dapat menjadi putus asa. Allah adalah Yahweh-Shalom. Dia adalah damai sejahtera. Kita harus dikuasai oleh Allah Kedamaian.
Saya tidak mengatakan saya selalu merasakan damai sejahtera. Saya sering bergumul dan kuatir. Ketika saya menunggu hasil biopsi, dengan rasa pesimis saya mulai membayangkan bahwa nanti saya harus dengan hati-hati menjelaskan kepada anak-anak saya yang masih kecil bahwa hanya karena paman mereka mati akibat kanker, kanker itu sendiri bukanlah hukuman mati. Saya juga membayangkan nanti saya harus dengan kikuk belajar masak hanya dengan satu tangan, atau saya harus membeli wig untuk menutupi kepala saya yang botak. Untuk menghentikan bayangan-bayangan ini, saya kembali menghadap kepada Allah, bersyukur kepada-Nya atas apa yang telah Dia lakukan. Ketika saya merenungkan Allah, damai yang sempurna kembali menguasai diri saya.
Untuk merenungkan Allah, saya perlu mengenal-Nya. Dengan mencontoh teman saya, Mimi Wilson, saya mempelajari karakter Allah setiap tahun. Saat teduh saya, buku yang saya baca, dan PA yang saya pimpin semua berfokus kepada karakter Allah. Ketika saya belajar mengenal Allah, saya dibekali dasar-dasar yang kuat yang dapat menolong saya ketika menghadapi masalah. Allah telah membuat firman-Nya dalam Yesaya 26:3 menjadi kenyataan bagi saya, “Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya.”
Kuasai Pikiranmu
Karena janji-janji-Nya, saya merasa damai untuk terus tinggal di Kolombia. Dia dengan lembut dan setia mendorong, “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus” (Fil. 4:6-7). Daripada mengikuti bayangan-bayangan kekuatiran saya, saya lebih baik mengundang Allah untuk memasuki segala aspek pikiran saya, dan karenanya mengalami damai sejahtera di luar batas pengertian yang rasional.
Paulus memberikan batasan-batasan untuk menguasai pikiran kita. Filipi 4:8 mengatakan, “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semua itu.” Ini adalah ujian bagi pikiran kita. Apakah apa yang saya kuatirkan itu benar? Apakah program yang memenuhi pikiranku suci? Rencana untuk balas dendam, apakah ini manis? Adakah hal-hal yang patut dipuji dalam novel yang saya baca? Menguasai pikiran bukanlah hal yang saya dapat lakukan seorang diri. Setiap hari, saya memohon pertolongan kepada Allah. Hampir setiap saat saya mengaku dosa karena pikiran-pikiran saya yang tidak benar. Saya memilih ayat-ayat hafalan berdasarkan peperangan rohani pribadi saya. Ketika saya menggantikan pikiran saya dengan Firman-Nya, saya mendapatkan kemenangan.
Ketika anak remaja saya naik bis kota, pergi ke rumah temannya, saya menyerahkan dia kepada Tuhan dan meminta agar Tuhan bertakhta dalam pikiran saya yang terlalu aktif. Suatu waktu, saya merasakan damai yang luar biasa ketika anak saya dalam perjalanan pulang setelah hari menjadi gelap sampai saya lupa menyisakan makan malam untuk dia! Setiap hari ketika saya melambaikan tangan kepada anak-anak saya yang baru masuk ke bis sekolah, saya mohon agar Allah melindungi mereka di tengah keramaian lalu lintas yang kacau balau. Beberapa menit kemudian, begitu mendengar sirene mobil ambulans mengaung-ngaung, saya langsung berdoa, mohon perlindungan, dan mengucap syukur. Puji syukur saya langsung mengalami damai sejahtera dari Allah. Dia tidak pernah mengecewakan.
Kadangkala, hidup tidak seperti apa yang kita inginkan, yaitu yang rapih, nyaman dan dapat kita kuasai. Tetapi Allah memiliki rencana yang kekal. Dengan mengenal dan percaya kepada-Nya, kita akan mendapatkan damai sejahtera yang sejati di dunia.
Diterjemahkan dari artikel “Finding Peace in a Chaotic World”, majalah “Just Between Us”, Winter 2002, halaman 16-17.
===000===
ADA ULAR DI TAMANKU
Oleh Jill Briscoe
“Di Belakang Senyum”
Saya selalu percaya kepada Allah, dan bahwa Yesus Kristus dalam anak-Nya, dan bahwa Alkitab adalah benar. Kedua orang tua saya mengajarkan perbedaan antara apa yang benar dan yang salah. Benar adalah kelakuan yang “baik,” yang membuat saya dan orang lain bahagia; salah adalah kelakuan yang “tidak baik,” yang membuat saya dan orang lain sedih. Lalu, kenapa saya berkeinginan menjadi “tidak baik”, bukannya “baik”? Kenapa hal-hal yang tidak baik memberikan saya kesenangan? Kenapa kelakuan yang “baik” nampaknya begitu membosankan? Mungkin informasi yang saya terima selama ini salah.
Segala sesuatu yang berada di taman saya kelihatan indah. Segala pohon di dalamnya dapat saya nikmati: pohon pendidikan; pohon bepergian; pohon persahabatan yang erat dan hiburan yang sehat; pohon keluarga yang penuh kasih dan hidup tanpa masalah. Buah dari pohon-pohon ini bebas dapat saya makan. Tetapi seperti Hawa, saya mengingini buah dari pohon yang tidak boleh saya sentuh lebih dari segala-galanya!
Seperti hawa, saya pun juga memiliki pohon terlarang yang berdiri di antara pohon-pohon lainnya yang boleh saya nikmati. Setiap hari pohon terlarang mengingatkan saya pada salah satu dari pemberian Allah yang paling berharga kepada umat manusia yang dicipta menurut peta dan teladan-Nya – yaitu kebebasan untuk memilih.
Pada saat itu saya tidak sadar, tetapi di antara pohon-pohon yang berada di taman saya, ternyata ada ular. Dia menghampiri saya, sama seperti yang dilakukannya kepada Hawa – dalam bentuk yang begitu akrab dengan saya – karena tipu dayanya belum pernah berubah. Ular itu berbicara kepada saya melalui orang-orang yang telah saya kenal seumur hidup; teman-teman saya yang hidup di taman yang sama, sehingga saya tidak merasa curiga atau ada bahaya.
“Makanlah buah itu. Kami semua sudah pernah memakannya, dan ternyata tidak ada dari kami yang mati!” Jadi, karena begitu ingin tahu rasa buah tersebut saya memakannya juga. Saya tidak sadar bahwa proses kematian sudah dimulai pada saat gigitan pertama; pada saat buah telah habis saya makan, saya mulai merasa mual dan sakit perut.
Saya sangat mengasihi dan menghormati kedua orang tua saya sehingga saya tidak ingin menyakiti hati mereka. Tetapi saya merasa mereka tidak akan mengerti alasan kenapa saya berbuat dosa, yang saya anggap adalah proses “bertumbuh menjadi dewasa.” Jadi saya memutuskan jalan yang terbaik adalah untuk berpura-pura berkelakuan “baik” sewaktu mereka berada di sekitar saya. Sementara itu, saya belajar untuk memakan buah terlarang di bagian-bagian taman yang hanya dihuni oleh sang ular dan saya!
Contohnya, saya tahu seharusnya saya tidak boleh membaca buku-buku yang kotor, jadi saya tidak membacanya. Tetapi pikiran yang kotor nampaknya lebih diperbolehkan dan dapat dinikmati di belakang senyuman. Saya diberitahu bahwa menyontek sewaktu ujian itu tidak benar, tetapi saya dapat membuang rasa bersalah saya dengan beragumentasi bahwa dengan menyontek nilai saya menjadi lebih baik, dan nilai yang lebih baik membuat orang tua saya senang – sepanjang saya tidak tertangkap basah! Bagaimana jika saya ketahuan menyontek? Ya, saya bisa membius kesadaran saya dan membohongi orang tua saya. Bukankah hal ini lebih baik daripada mengatakan hal yang sebenarnya, yang nantinya mengakibatkan hati orang yang saya kasihi menjadi sengsara dan malu?
Tiba saatnya saya berusia delapanbelas tahun dan menjadi lebih bingung lagi. Saya merasa hidup saya tidak berkecukupan. Ada sesuatu atau seseorang yang masih kurang. Saya melihat orang lain. Sudahkah mereka menemukan rahasia kehidupan? Kadangkala saya melihat di belakang senyum mereka dan melihat kenyataan yang sebenarnya. Salah satu orang terkaya yang saya kenal meninggal karena bunuh diri. Sudah jelas kekayaan materi tidak menolongnya untuk mengisi kekosongan di dalam dirinya. Teman saya yang terbaring di rumah sakit sedang tidak bahagia, dan dia menyalahkan kesehatannya. Saya memiliki kesehatan yang baik, jadi jelas ini bukan jawaban yang tepat juga. Teman saya lainnya tidak merasa bahagia, dilempar bolak balik di antara kedua orang tuanya yang pernikahannya sedang bermasalah. Walaupun saya hidup di tengah-tengah keluarga yang penuh kasih, yaitu hasil dari pernikahan kedua orang tua yang harmonis, tetapi saya tetap merasa gelisah.
Entah kenapa saya merasa bahwa jawabannya bukanlah berada pada kekayaan materi atau pun kesenangan dalam hidup seperti kesehatan dan kebahagiaan, tetapi di dunia yang begitu rahasia – kembali kepada antara yang “baik” dan “tidak baik! Tetapi kebaikan nampaknya sulit untuk dijabarkan, dan ketidakbaikan sudah membuat saya muak pada diri saya sendiri. Jadi di manakah jawabannya? Apa yang harus saya lakukan? Kemana saya harus pergi? Saya harus menjadi sebaik apa, dan harus menjadi sejahat apa sebelum saya menemukan – apa? Di dalam keadaan yang membingungkan, saya tidak tahu apa yang sedang saya cari-cari. Mungkin yang saya cari sedang duduk menunggu saya di taman yang lain, di suasana yang lain.
Tiba saatnya bagi saya untuk membuktikan teori saya, yaitu ketika saya diterima sebagai mahasiswa dan belajar untuk menjadi guru di Cambridge.
“Ya,” saya meyakinkan orang yang mewawancarai saya, “saya sangat menyukai anak kecil,” sementara di belakang senyum saya sang ular tertawa terkekeh-kekeh berdesis, “Sungguh?!”
Setelah masuk kuliah di perguruan tinggi, olok-olokan sang ular ternyata benar. Saya anggap anak kecil adalah suatu gangguan yang harus ada. Mereka menuntut untuk mengambil waktu saya yang sibuk dan berharga, yang saya perlukan agar saya dapat segera menemukan pohon-pohon baru yang buahnya lebat yang sebelumnya saya tidak pernah berani menyipinya di taman yang begitu indah tetapi begitu dijaga di rumah saya.
Saya mengambil jururan drama dan seni, yang menolong saya untuk dapat melontarkan senyum dan memainkan peran apa saja yang cocok bagi egoisme saya. Banyak wanita yang mahir dalam hal ini. Wanita memiliki kemampuan berbicara dan drama dapat menolongnya untuk mementaskan peran utama yang menarik atau menjengkelkan yang berakar dalam dirinya. Saya ternyata mampu memerankan keduanya dengan baik, dan mengharapkan orang lain terkesan dengan kemampuan saya! Hidup saya sekarang menjadi “drama” yang panjang. Sebelum layar di panggung dibuka dan memperlihatkan saya, saya adalah orang yang kesepian, ketakutan, dan tidak yakin bahwa saya dapat mempengaruhi penonton. Apakah mereka akan menyukai pertunjukan saya? Apakah mereka akan tertawa saat saya mencoba melawak, menangis saat saya mementaskan kepedihan, dan menepuki tingkah saya yang menarik perhatian? Penting bagi saya untuk mengetahui bahwa penonton puas dengan pertunjukan saya. Saat kembali ke ruang ganti baju, menghapus semua dandanan wajah dan menanggalkan jubah pentas, saya merasa sangat lelah, depresi, dan tidak puas.
Mungkin saya terlalu banyak berpentas dipanggung, atau mungkin saya terlalu banyak memakan buah terlarang. Saya tidak tahu. Tiba-tiba datang penyakit perut misterius yang membawa saya ke rumah sakit. Di belakang senyum, saya merasa takut. Saya memerlukan jawaban dari pertanyaan saya sekarang juga. Saya tidak lagi memikirkan cara untuk memuaskan kehidupan saya yang egois atau tentang bagaimana saya bisa mendapatkan keinginan saya. Saya mulai ingin tahu bagaimana menghadapi rasa takut, rasa sakit, dan mengerti kesengsaraan orang lain serta tahu bagaimana mencari kata-kata yang tepat untuk menghibur. Saya harus berjuang menghadapi kematian dan mencari jawaban yang tepat.
Saya baru sadar bahwa ketika saya telentang di tempat tidur, hanya ada satu arah untuk melihat. Ke atas! Di atas sanalah tempat di mana saya percaya saya selalu dapat menemukan Tuhan. Tetapi, apa yang bisa saya katakan kepada Tuhan yang asing, yang mungkin tidak mengetahui saya yang begitu kecil dan yang sedang kacau, terbaring di rumah sakit yang tak dikenal di Planet Bumi?
“Tolong!” saya berkata. “Sembuhkanlah saya. Keluarkan saya dari tempat ini! Cepat, hentikan rasa sakit ini. Apakah Engkau mendengar saya?” Oh oh, ini rasanya seperti bicara di radio saja. Radio atau bukan, Tuhan mendengar pesan saya dan menempatkan alat pemancar yang bagus sekali di samping kuping kiri saya.
Dia bernama Yenny, dan dia berbaring di tempat tidur di samping saya. Dialah yang mengatakan bahwa ada ular di taman saya, dan saya telah mendengar setiap perkataannya dan mempercayai kebohongannya, bukannya kebenaran Tuhan. Buah terlarang nampak begitu nikmat sehingga saya telah memakannya, karena ingin menjadi bijak dan tetapi akhirnya menjadi congkak dan sombong. Saya lalu menjadi allah saya sendiri, yang sekarang bahkan tidak dapat menjawab doa saya sendiri! Tidaklah heran kalau saya begitu sakit jiwa. Karena dosa, saya berpakaian daun argumentasi, yang dengan hati-hati telah dijahit tetapi sangatlah tidak memadai.
“Yesus datang dan mati bagimu di kayu salib, Jill,” kata Yenny. “Di sana Ia telah meremukkan kepala sang ular dan mengalahkannya, tetapi sebelum itu sang ular telah meremukkan tumit-Nya sampai Ia begitu menderita. Dia bangkit mengalahkan kematian dan dosa, dan hidup kembali. Dia ingin masuk ke dalam hidupmu melalui Roh Kudus-Nya.”
“Apa itu Roh Kudus?” saya bertanya. Saya pernah dengar nama Roh Kudus, tetapi yang ada dalam bayangan saya adalah hantu mengerikan yang bergentayangan di gereja-gereja tua! Menurut pendapat saya yang bodoh, Roh itu bebas melakukan hal tersebut karena Allah telah mati atau pergi berlibur, sehingga yang sisa hanyalah Roh itu saja. Yenny tertawa. Eh, apakah orang Kristen bisa tertawa? Saya pikir orang Kristen itu terlalu kaku, membosankan, dan terlalu alim untuk dapat tertawa seperti itu! Ternyata saya salah.
“Roh Kudus adalah sifat Ilahi Allah yang diturunkan pada hari Pentakosta,” Yenny menjelaskan. “Roh Kuduslah yang memungkinkan kita untuk memiliki kehidupan Kristus.”
Senyum saya menghilang, berganti dengan air mata yang bercucuran, karena saya mulai menyadari keterlanjangan saya di taman dan dosa-dosa saya. Saya langsung menerima jubah dari Allah untuk menutupi keterlanjangan saya. Berjubahkan pengampunan dosa dan kasih karunia Allah, saya pergi meninggalkan pohon ketidaktaatan menuju hidup yang baru.
Sang ular di taman saya menggeliat penuh amarah dan merangkak pergi jauh – untuk sementara!
Diterjemahkan dari buku “There’s A Snake In My Garden”, Jill Briscoe, Harold Shaw Publishers, Wheaton, Illinois, hal.13-18, dengan seijin pemilik copyright.
===000===
MENGHADAPI ORANG MISKIN
Oleh Cindy Hayes
Orang-orang miskin dapat ditemukan di mana saja, baik di kota maupun di desa. Kadangkala mereka datang meminta nasi, meminta sumbangan untuk panti asuhan, atau mungkin mereka sedang mengelap mobil kita yang baru saja dicuci dengan lap kotor. Hati saya merasa kasihan, tetapi juga ingin tahu apakah mereka benar-benar miskin atau hanya berpura-pura saja. Sejauh manakah tanggung jawab saya terhadap mereka sesuai dengan apa yang Yesus katakan, “Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu” (Mat. 5:42)?
Sewaktu membaca Alkitab, saya belajar bahwa Allah memenuhi kebutuhan orang miskin (Maz. 68:11), menyelamatkan nyawa orang miskin (Maz. 72:13), membela orang miskin (Maz. 140:13), mendengar jeritan orang miskin (Ayub 24:28), melindungi orang miskin (Maz. 12:6), tidak akan meninggalkan orang miskin (Yes. 41:17), dan memberikan makanan kepada orang miskin (Maz. 146:7). Dan saya juga menemukan bahwa kita mempunyai tanggung jawab untuk menolong orang miskin.
“Berilah keadilan kepada orang yang lemah dan yang yatim, belalah hak orang sengsara dan orang yang kekurangan! Luputkanlah orang yang lemah dan yang miskin, lepaskanlah mereka dari tangan orang fasik!” (Maz. 82:3-4)
“… supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah roti bagi orang yang lapar, dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak membunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!” (Yes. 58:6-7)
“Jika sekiranya ada di antaramu seorang miskin… engkau harus membuka tangan lebar-lebar baginya dan memberi pinjaman kepadanya dengan limpahnya, cukup untuk keperluannya, seberapa ia perlukan.” (Ul. 15:7-8)
“Tetapi apabila kamu mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta… sebab engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benar.” (Luk. 14:13-14)
Oleh karena itu, sebagai utusan-utusan Allah, kita juga harus membela orang miskin. Tetapi secara jujur saya sering merasa kewalahan dan bingung. Kadangkala secara naluriah saya ingin mengabaikan mereka dengan dalih bahwa mereka tidak pantas untuk ditolong. Hati saya kemudian maju satu langkah lagi untuk menjadi lebih keras, tetapi saya berdoa melawannya.
“… maka janganlah engkau menegarkan hati ataupun menggenggam tangan terhadap saudaramu yang miskin… hati-hatilah, supaya jangan timbul di dalam hatimu pikiran dursila… (Ul.15:8-9)
“Akan tetapi, berikanlah isinya sebagai sedekah dan sesungguhnya semuanya akan menjadi bersih bagimu. Tetapi celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu membayar persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu mengabaikan keadilan dan kasih Allah… celakalah kamu… sebab kamu meletakkan beban-beban yang tidak terpikul bagi orang, tetapi kamu sendiri tidak menyentuh beban itu dengan satu jaripun.” (Luk. 11:41-42, 46)
Saya perhatikan Yesus tidak berfokus pada kekurangan mereka (malas, kurang terpelajar, pecandu alkohol, rokok, judi…). Bukankah Yesus berkata, “Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut” (Luk. 12:48)? Bukankah sebagai murid Yesus kita harus mengasihi musuh, berdoa bagi orang yang mencaci kita, mengasihi orang yang tidak dapat membalas kasih kita, meminjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, mengasihi orang yang tidak tahu berterima kasih dan yang jahat, tidak boleh menghakimi mereka, tetapi sebaliknya mengampuni mereka dan tetap memberi? (Luk 6). SEMUANYA INI BERLAWANAN DENGAN PEMIKIRAN MANUSIA! Tetapi tetap kita harus bertanggung jawab untuk memberi waktu kita, kekayaan kita, kasih kita…
Sebenarnya apa yang kita beri tidaklah sepenting sikap kita di dalam memberi. Carilah sikap yang penuh kasih; yang penuh sukacita sewaktu memberi (II Kor. 9:7). Doakan sikapmu sendiri terhadap orang miskin. Jika kita memasuki dunia mereka, kita mungkin dapat ikut merasakan keputus asaan mereka, mengerti mengapa mereka bersikap manipulatif dan ingin bergandul kepada kita, dan ikut merasakan ketidak adilan dan kesengsaraan yang banyak dari antara kita tidak sanggup untuk menanggungnya. Kita sudah pasti akan diperalat dan nantinya akan merasa dikecewakan. Tidak ada jawaban yang tepat untuk masalah ini; hanya kita harus yakin bahwa tidak ada perbuatan kasih yang terbuang percuma di mata Allah. Kebanyakan orang yang memberi berprasangka orang miskin ini nanti “menjadi kebiasaan”. Memberi berdasarkan ketulusan hati selalu mendatangkan berkat bagi orang yang memberi, tidak peduli apakah orang yang menerima pantas menerimanya atau tidak.
Walaupun demikian, kita tentunya tidak dapat memenuhi kebutuhan setiap orang, dan oleh karenanya kita memerlukan ketajaman mata dan bijaksana. Hal tersebut dijanjikan akan diberikan kepada orang yang mencari dan memintanya (Am. 18:15, Yak. 1:5). Berdoalah! Carilah waktu untuk menyendiri di kamar tidur dan berdoa. Jika keadaan tidak begitu genting, mintalah waktu pada orang yang sedang perlu pertolongan tersebut agar kita dapat berdoa terlebih dahulu sebelum memberikan jawaban kepadanya. Alkitab berjanji bahwa Roh Kudus akan memimpin kita kepada kebenaran (Yoh. 16:13), yang menolong kita menjadi peka terhadap petunjuk Allah. Cobalah untuk mengetahui apakah kita merasa damai sejahtera atau gelisah? Semakin kita bertumbuh menjadi dewasa rohani dan lebih mengerti budaya di lingkungan kita, kita tidak akan mudah dikelabui oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan (Ef. 4:14). Namun demikian kita juga harus menyadari bahwa kita tidak harus menentukan apakah si peminta pantas untuk menerima uang. Kita hanya perlu mengetahui kehendak Allah. Tanggung jawab kita sebagai anak-anak Allah adalah untuk mematuhi Dia, bukannya menentukan bagaimana pemberian kita sebaiknya digunakan. Pemberian kita menyatakan kasih jika diberikan dengan sikap yang benar. “…Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran” (I Yoh. 3:16-18).
Apakah kita mempunyai komitmen untuk mau berkorban dengan memberi kekayaan kita baik secara materi maupun spiritual kepada mereka yang membutuhkannya? Raja Yosia membela orang sengsara dan orang miskin, sehingga segala sesuatunya berjalan dengan baik (Yer. 22:16). Kornelius (KPR 10) sewaktu mencari Allah dipertemukan dengan Petrus karena kepekaannya terhadap orang miskin. “Doamu telah didengarkan Allah dan sedekahmu telah diingat di hadapan-Nya”. Orang Samaria (Lukas 10) dikenal karena hatinya tergerak untuk menolong orang yang memerlukannya. Janda dalam Lukas 21 dijadikan contoh bagi kita semua karena dia memberi dari kekurangannya. Dan Yesus menunjukkan belas kasihan kepada orang miskin dan melarat. Sebagian besar dari hidup-Nya dihabiskan di tengah-tengah mereka dan bersedia dikritik oleh para pemimpin agama saat itu karenanya.
Marilah kita mengumpulkan harta di sorga! Biarlah kita semua menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi (I Tim. 6:18-19). Jika kita mencontoh kehidupan Yesus dan hidup di bawah kuasa Roh Kudus, hati kita akan tergerak untuk menolong ketika kita melihat kesengsaraan orang lain. Walaupun kita diperingati untuk berbijaksana di dalam memberikan kekayaan kita, tetapi nampaknya tidak ada konsekuensi yang kekal jika kita menjadi terlalu mudah merasa kasihan kepada orang lain. Alkitab tidak pernah menyebutkan bahwa kita akan dihakimi dalam kekekalan jika kita banyak menolong, mengasihi atau memberi – kita hanya akan dihakimi jika kita gagal menolong orang yang memerlukan pertolongan (Mat. 25).
Orang yang baik bermurah hati dan memberi pinjaman…
Dia memberikan sedekah kepada orang miskin. Mazmur 112
===000===
Dasar anak-anak!
Seorang guru TK sedang memperhatikan murid-muridnya yang sedang menggambar. Sekali-kali dia mengitari meja-meja di kelasnya untuk melihat karya seni setiap anak. Melihat salah satu anak yang kelihatan sibuk sekali menggambar sesuatu, guru itu bertanya apa yang sedang digambarnya.
Anak itu menjawab, “Saya sedang menggambar Tuhan.” Guru itu berhenti sejenak dan kemudian berkata, “Tapi tidak ada yang tahu Tuhan itu seperti apa.” Tanpa ragu-ragu anak itu langsung menjawab, “Sebentar lagi mereka akan tahu.”
Seorang anak memperhatikan ayahnya, yang adalah seorang pendeta, sedang menulis kotbah. “Ayah tahu dari mana harus ngomong apa?” katanya. “Tahu dari Tuhan,” jawab ayahnya. “Oh,” kata anak itu, “lalu kenapa ayah banyak mencoret yang sudah ditulis?”
===000===
Tempat Di Mana Tidak Ada Penyesalan
Oleh Jackie Katz
Ya, saya mengaku saya punya penyesalan. Maunya sih tidak, tetapi kenyataan bukan demikian. Saya menyesal saya mendisplinkan anak penuh amarah. Saya menyesal saya menggunakan kemarahan saya untuk menguasai anak. Saya menyesali ketidaksabaran dan kata-kata saya yang tajam. Saya menyesali sifat saya yang tidak baik dan kegagalan saya untuk mendorong anak-anak saya. Saya sungguh menyesali semua itu. Walaupun sekarang anak-anak saya sudah dewasa, penyesalan saya begitu besar sampai saya melupakan hal-hal baik yang saya lakukan sebagai ibu. Akhir-akhir ini penyesalan menjadi teman yang akrab dan sering datang.
Penyesalan bukanlah hal yang mudah untuk dipikul. Penyesalan penuh berisi kata-kata “Andai saja.” Andai saja saya dapat menghapus masa lalu. Andai saja saya dapat mengulang masa lalu. Andai saja… Tetapi kita tidak akan pernah kembali ke masa lalu. Pilihan yang kita ambil hari ini mempunyai akibat di masa depan dan kita harus menerima konsekuensinya. Ini prinsip menanam dan menuai yang dibicarakan dalam Alkitab. Kita menuai apa yang kita tanam. Oh, ini bukan karena saya tidak pernah memohon ampun; sudah… sering sekali. Saya mengakui kegagalan saya dan memohon ampun, dan anak-anak saya cepat mengampuni saya, tetapi saya tetap menyesal bahwa saya tidak dapat menguasai diri. Bagaimana kita dapat memperkecil “penyesalan” dan “andai saja…”? Kita harus menilai kelakukan kita hari ini dan mengubahnya jika ada yang tidak baik.
Dalam Ef. 6:4 Paulus berkata, Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu…” Di sini Paulus membicarakan tentang masalah membesarkan anak, yang melibatkan kedua orang tua. Kata membangkitkan di sini artinya membuat orang, selain dirinya sendiri, marah. Marah yang macam ini adalah ledakan amarah yang terjadi secara tiba-tiba. Orang tua harus mendidik anak-anaknya melalui cara yang tidak membuat anak-anaknya menjadi pemuda dan pemudi yang mudah gusar.
Dalam Kolose 3:21, perintah yang hampir sama diberikan, “Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya.” Kata menyakiti di sini artinya menyakitkan hati, mengacaukan, menjengkelkan, menggusarkan. Orang tua perlu mendisplinkan anak-anaknya melalui cara yang tidak “mematahkan jiwa mereka”.
Allah menempatkan kita untuk memiliki wewenang atas anak-anak kita, tetapi Dia memperingati kita untuk tidak menyalahgunakan wewenang tersebut. Kita bertanggung jawab untuk melaksanakan wewenang itu, dan jika disalah gunakan, maka hal ini akan membawa akibat yang menyedihkan, yang hanya menuntun kita kepada penyesalan.
MENGENALI GEJALA-GEJALANYA
1. Kemarahan yang keluar. Anak ini dengan sengaja tidak mau patuh dan meledak terhadap orang yang ingin mengaturnya. Kemarahannya “dikeluarkan.” Dia tidak bisa diatur, tidak punya rasa hormat, dan tidak dapat menguasai tabiatnya.
2. Jiwa yang terluka dan tertutup. Jiwa anak ini nampak patah dan tertutup. Dia senang menyendiri dan wataknya sering berubah, tidak mau mendengar nasihat, apatis, tawar hati atau bahkan tidak mau diatur.
3. Rendah diri. Sebagian besar dari konsep diri anak berasal dari persepsi dia tentang apa yang kita pikirkan tentang dia. Jika dia tidak “merasa” dikasihi dan dihormati, dia beranggapan bahwa dia telah mengecewakan kita.
RENCANA UNTUK BERUBAH
Sekarang mungkin anda merasa ingin menyerah saja! Jika anda merasa anda telah berbuat banyak kesalahan di dalam mendidik anak-anak, selamat datang di dunia ini! Mendidik anak bukanlah tugas yang sederhana, dan kita bukanlah orang yang sempurna. Allah dalam kemurahan-Nya menyediakan jalan keluar untuk memperbaiki hubungan.
Apa yang dapat kita lakukan jika kita telah membangkitkan amarah di dalam hati anak-anak kita?
1. Cari tahu secara khusus bagaimana kita telah membangkitkan amarah di dalam hati anak-anak kita.
2. Akui dosa-dosa ini kepada Tuhan dan memohon pengampunan-Nya. Terimalah pengampunan dosa-dosa di masa lalu dari Tuhan (I Yoh. 1:9).
3. Minta pengampunan dari anak kita untuk hal-hal tertentu yang telah kita lakukan. Tidak akan ada suatu perubahan sampai kita berkata, “Saya salah. Maukah kamu memaafkan saya?” (Amsal 28:13).
4. Tanya anak kita jika ada hal-hal lain yang telah kita lakukan, yang membangkitkan amarah di dalam hatinya. Jika ada, minta pengampunan darinya. Kemudian buatlah rencana secara bersama untuk menggantikan kelakuan yang lama dengan kelakuan yang baru (Ibr. 10:24).
Mencoba membersarkan anak tanpa penyesalan bukanlah tugas yang mudah. Tetapi kita dapat menekan jumlah penyesalan dan kata-kata “andai saja” jika kita menilai kelakuan kita hari ini dan mengubahnya jika ada yang perlu diperbaiki. Setelah mengevaluasi diri, cobalah untuk terus memperbaiki diri dan membiarkan Allah membawa kita ke tempat di mana tidak ada penyesalan.
Diterjemahkan dari artikel “The Place of No Regrets”, majalah “Just Between Us”, Winter/Spring 2000, hal. 28-29.
Bertumbuh Bersama No. 4 - Maret 2003
MENGHIBUR AYUB
Bagaimana cara menolong orang yang dunianya hancur?
Oleh Jill Briscoe
Apakah saudara pernah kehilangan seseorang yang dekat dengan saudara? Mung-kin mereka tinggal jauh sekali dari saudara, tetapi saudara tetap berkata, “Saya harus pergi melawat.” Lalu saudara mengepak baju dan pergi ke sana supaya dapat bertemu dengan keluarga dan teman-teman. Dan apa yang terjadi ketika saudara datang? Saudara disambut di pintu, dan saudara berkata, “Saya merasa saya harus datang ke sini.” Dan rasanya perkataan itu saja sudah cukup untuk menghibur mereka.
Saya merasa diberi kehormatan untuk dapat melayani sebagai anggota pengurus Yayasan Kristen World Relief. Tujuan mereka adalah untuk meringankan penderitaan di seluruh dunia dalam nama Kristus. Suatu musim panas, mereka mengundang saya untuk pergi ke Kroasia, tidak lama setelah bangsa itu perang dengan Serbia. Saya bergabung dengan selusin wanita Kristen lainnya, dan pergilah kami semua. “Setelah sampai di sana, apa yang dapat kami lakukan?” kami bertanya satu terhadap lainnya. Kami tidak tahu, tetapi ternyata pengalaman yang kami dapatkan di sana menjadi pengalaman yang mengubah hidup kami.
Di perbatasan Serbia, kami bertemu dengan para pengungsi – orang Kroasia, Serbia, dan Muslim – yang, baru saja mengalami ngerinya peperangan, menceritakan pengalaman-pengalaman mereka kepada kami. Kami mendengarkan keluhan dan cerita mereka, mengunjungi tempat pengungsian, dan melakukan beberapa hal yang praktis. Tetapi kami kebanyakan hanya berkata, “Kami merasa kami harus datang kemari!” Berulang-ulang kali mereka mengucapkan terima kasih karena kami datang “berada di sana.” Kami belajar bahwa untuk menghibur seseorang, kita harus berada dekat dengannya.
Melayani Dengan Keberadaan Kita Di Sana
Ada beberapa orang dalam kehidupan Ayub yang merasa “harus datang.” Dia punya banyak teman, tetapi Elifas, Zofar, dan Bildad adalah teman-teman yang istimewa. Mereka adalah kawan sebaya Ayub dan menyembah Allah yang sama. Ketika teman-temannya ini mendengar masalah yang menimpa Ayub, bersama-sama mereka jauh-jauh datang sebagai saudara-saudara seiman untuk menyampaikan simpati dan menghibur temannya yang baru jatuh.
Mereka datang dan melihat Ayub dari jauh, dan mereka hampir tidak dapat mengenalinya. Mereka mulai menangis dengan keras dan, seperti kebiasaan pada saat itu, mengoyak jubah mereka serta menaburkan debu di kepala mereka. Kemudian mereka duduk di tanah bersama dengannya selama tujuh hari dan tujuh malam. Tidak ada satu orang pun yang mengucapkan sepatah kata kepadanya karena mereka melihat betapa pilunya penderitaan yang dialaminya (Ayub 2:11-13).
Tidak dapat diragukan bahwa memberi penghiburan itu pasti ada harganya. Teman-teman Ayub bersusah payah datang jauh-jauh untuk menghibur dia. Mereka adalah para pemimpin suku. Mereka meninggalkan rumah mereka, keluarga mereka, dan tanggung jawab mereka, untuk menjadi seorang teman yang sejati. Jika persahabatan benar-benar dihargai, tidak ada yang namanya jalan pintas.
Dalam pasal 30, ayat 22, kita mendapatkan gambaran tentang perasaan Ayub: “Engkau mengangkat aku ke atas angin, melayangkan aku dan menghancurkan aku di dalam angin ribut.” Siapa yang belum pernah mengalami dirinya dilempar ke sana ke mari, oleh suatu kekuatan di luar kendali kita? Pada saat-saat demikian, sangatlah menolong jika ada seseorang yang dapat menghibur kita di tengah-tengah angin ribut.
Jika kita ingin menolong seseorang seperti Ayub, kita harus membayar harga. Kita harus pergi ke tempat saudara-saudari kita berada, jika perlu mengunjungi tumpukan abunya. Ada sesuatu yang sangat menghibur dari orang yang turut “berada di sana.”
Saya ingin tahu teman-teman Ayub yang mana yang punya ide untuk mengunjungi Ayub. Ketika seseorang dilanda musibah, ada baiknya jika kita menghubungi orang lain dan membuat rencana yang matang untuk dapat membantu orang tersebut.
Biarkan Air Matamu Berbicara
Setelah teman-teman Ayub berada cukup dekat untuk menghibur, mereka mengutarakan keprihatinan mereka sesuai dengan kebudayaan mereka: “Ketika mereka memandang dari jauh, mereka mulai menangis dengan suara nyaring.” Mereka membiarkan air mata mereka berbicara. Tidak ada yang mengucapkan sepatah kata pun karena mereka melihat betapa beratnya penderitaan dia.
Apakah saudara dapat menangis? Kadangkala saya mampu dan kadangkala tidak. Saya mengetahui bahwa hati Bapa saya tinggal di dalam diri saya dalam rupa Roh Kudus. Saya belajar untuk meminta-Nya berdoa untuk orang-orang yang menderita yang memerlukan pertolongan atas “keluhan-keluhan yang tidak terucapkan” (Roma 8:26). Ada rintihan dan kesedihan yang diekspresikan oleh air mata yang hanya dapat dihasilkan oleh Roh Kudus di dalam diri kita, yaitu air mata Kristus.
Saya pernah menerima perasaan empati juga. Saya teringat ketika dulu saya merasa susah dan pahit karena saya kesepian. Pekerjaan suami saya mengharuskan dia untuk pergi selama berbulan-bulan lamanya. Saya tahu saya memerlukan seseorang untuk diajak berbicara, tetapi siapa? Suami teman saya yang adalah hamba Tuhan yang sudah senior juga sering pergi, tetapi nampaknya dia baik-baik saja! Bagaimana mungkin saya dapat membagikan kepedihan saya pada dia? Akhirnya suatu hari saya mampu mengumpulkan keberanian untuk pergi mendatangi dia dan berbicara dengan dia.
Saat memasuki ruangan kantornya, saya merasa bersalah karena mengganggu dia. Dia mengangkat pandangannya dan melihat, menurut kata-kata Ayub, “begitu beratnya penderitaan saya.” Langsung dia memberikan saya perhatiannya yang penuh. Berdasarkan pengalamannya selama bertahun-tahun, dia sadar bahwa mendengar adalah sama dengan mengasihi.
Saya mengeluarkan semua uneg-uneg saya. Saya bilang saya sudah tidak sanggup lagi menjadi ibu sekaligus ayah di dalam kehidupan anak-anak saya. Saya sudah mencoba untuk mengikuti contoh yang diberikan dia untuk menjadi isteri hamba Tuhan yang sempurna, tetapi gagal. Yang saya dapati hanyalah kepedihan. Saya berhenti berbicara dan memandang dia. Saya sungguh tidak percaya dengan apa yang saya lihat! Dia sedang menangis – sungguh-sungguh menangis. “Memang sulit sekali, ya?” itu saja yang dia katakan.
Bukan kata-kata tersebut yang berbicara keras kepada saya, melainkan air matanya. Suara air mata yang sedang berbicara tidak akan luput dari siapa pun. “Saya sungguh tidak percaya dengan apa yang saya lihat saat ini,” gumam saya. “Ini semua susah bagi kamu juga ya?” Lalu dia tertawa, dan mempersilahkan saya untuk duduk. Air matanya berkata kepada saya bahwa tidak apa-apa jika saya punya perasaan seperti ini dan bahwa dia juga merasakan kepedihan saya. Karena dia pernah mengalami kepedihan dan dapat mengatasinya, maka saya pun dapat mendapatkan kemenangan dan sukacita di saat-saat saya merasa kesunyian. Kita dapat melayani seseorang dengan berada di samping orang tersebut, dan kita dapat membiarkan air mata kita berbicara.
Menolong untuk Jangka Panjang
Teman-teman yang menghibur Ayub siap menolong untuk jangka panjang. Mungkin Ayub tidak begitu menginginkan kehadiran mereka lagi setelah sekian lamanya waktu berjalan, tetapi paling tidak mereka tidak langsung pergi begitu ada kesempatan. Untuk dapat menjadi penghibur yang sejati, kita harus tinggal sampai dapat mengerti kepedihan orang yang kita hibur.
Suami dari seorang wanita yang masih muda di gereja kami meninggal karena sakit kanker. Pada tahun pertama, teman-teman, keluarga, dan bahkan orang-orang yang tidak dikenalnya, datang berbondong-bondong untuk melayani dia. Lalu datanglah tahun kedua – tahun yang menurut para ahli adalah saat yang terburuk. “Saya harap mereka benar,” tulis dia kepada saya, “karena tahun kedua ini benar-benar berat sekali! Banyak orang-orang yang dulunya memberikan perhatian kepada saya sekarang sibuk dengan kehidupan mereka masing-masing, dan saya kembali sendirian di sini.”
Memang tidak mungkin bagi setiap orang untuk terus-menerus memberikan perhatian yang intensif, tetapi harus ada seseorang yang mampu. Saya belajar untuk bertanya kepada Allah, “Apakah Engkau menginginkan saya di sini untuk jangka panjang?” Jika Dia mengiakan, penting sekali bagi kita untuk terus setia. Belajarlah untuk tahu apa yang harus dikerjakan dan apa yang harus dikatakan. Ketika saat-saat seperti ini tiba, kita harus sudah siap. Jika tidak, kita mungkin akan mendapatkan teguran yang sama dengan teman-teman Ayub karena mereka tidak “berbicara dengan benar.”
Di dalam kata-kata, ada suatu penghiburan yang besar. Kata-kata kita harus selalu berdasarkan Alkitab. Kata-kata yang demikianlah yang dapat digunakan oleh Roh Kudus untuk menghibur dan menyembuhkan. Kata-kata ini tidak boleh dalam bentuk omelan ataupun kritikan. Bagaimanapun juga, luka yang ditimbul kan oleh orang yang dekat dengan kita dapat menjadi luka yang paling hebat. Kata-kata dapat memotong luka jauh lebih dalam daripada batu dan dapat membuat perasaan seseorang babak belur. Kata-kata kita perlu dipilih dengan hati-hati dan digunakan untuk menyembuhkan dan menolong, bukannya untuk melukai, bahkan walaupun penderitaan itu adalah karena kebodohan orang tersebut atau akibat salah pilih.
Juga, kata-kata harus digunakan pada saat yang tepat. Saya yakin kita semua pernah menjadi korban di mana kata-kata yang “benar” diucapkan pada waktu yang salah! Waktu adalah hal yang sangat penting ketika kita sedang mencoba menghibur seseorang. Pengkhotbah 3:7 mengatakan bahwa ada “waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara.”
Saya teringat ketika saya dulu melayani seorang perempuan remaja. Sebelum menemukan Tuhan, dia hidup dalam pergaulan bebas dan jarang mendapatkan perhatian dari rumah. Dia banyak bergumul, tetapi kemudian jatuh ke dalam kebiasaan lamanya lagi. Suatu hari dia datang kepada saya, mengatakan bahwa dia hamil dan orang tuanya sudah mengusir dia. Saya ingat saat itu saya benar-benar merasa gusar. Seharusnya dia tahu akan begini akibatnya! Dulu dia sudah mendapatkan pekerjaan, dan sudah mengubah total kehidupannya. Kenapa dia bodoh sekali? Ada banyak yang perlu dikatakan, tetapi saat itu bukanlah saat yang tepat. Saat itu, dalam keadaan hampir sekarat, dia perlu mandi, diberi makan, pelukan, dan tempat tinggal! Lalu saya mencoba untuk hanya menggunakan kata-kata yang bijak untuk menyambut dia dan berkata pada dia bahwa saya senang dia merasa mampu datang kepada saya di saat dia punya masalah. Akan ada waktu di kemudian hari nanti ketika dia sudah siap untuk menerima kata-kata saya, tetapi bukan saat itu.
Ada perbedaan antara kritik yang membangun dan yang menghancurkan. Ketika teman-teman Ayub mulai berbicara, mereka mulai merusak hal-hal baik yang telah mereka bangun. Mereka mulai menuduh Ayub, dan dengan demikian mengerjakan pekerjaan si setan baginya. Kasih yang sejati selalu mencari suatu cara yang bersifat membangun.
Diterjemahkan dari Artikel “Comforting Job”, Majalah Just Between Us, Fall 2002, hal. 16-17, 20, yang merupakan saduran dari buku “Out of the Storm and Into God’s Arms”, karangan Jill Briscoe.
===000===
Cerita saya…
Oleh Connie Griffin, Rockford, Illinois
Dengan cepat-cepat saya mengaduk saus di depan saya, dan secara tidak sadar saya melampiaskan emosi saya di sana. Perasaan marah dan frustrasi mulai bertimbun dan saya mulai tidak dapat menguasai diri. Mahasiwi muda yang berdiri tidak jauh dari saya mulai membuat saya merasa tidak sanggup lagi untuk mengatasi dirinya. Masalah yang dihadapinya terlalu rumit. Bagaimana saya bisa mengerti dan melayani dia? Saat itu saya rasanya hanya ingin bebas dari tanggung jawab untuk melayaninya.
Karena bertahun-tahun mengalami pelecehan seksual dari ayah dan saudara lelakinya, dan karena ibunya mengabaikan teriakan permintaan tolongnya, akhirnya dia mulai melampiaskan masalahnya dengan menyayat badannya dan terkena penyakit anoreksia (tidak nafsu makan). Hatinya hancur, sakit, dan kesepian, dia benar-benar membutuhkan keluarga yang dapat mengasihi dan menerima dia. Tetapi dia malah mengasingkan diri dari orang-orang yang paling dia butuhkan. Dia benar-benar sulit untuk dikasihi.
Saya bertanya pada diri sendiri, kenapa sulit sekali bagi saya untuk mengasihi orang yang sulit untuk dikasihi dan hancur hatinya? Cara hidup mereka saja sudah cukup membuat saya ingin lari dari mereka. Saya ingin mengasihi orang yang mudah untuk dikasihi – orang yang berasal dari tingkat eknomi yang sama dengan saya, yang memiliki nilai kehidupan dan prioritas yang sama dengan saya, dan orang-orang yang memiliki kesamaan dengan saya. Saya pada dasarnya egois dan sombong di tengah-tengah dunia ekonomi menengah ke atas. Tuhan, saya mengakui sikap saya yang berdosa.
Orang Samaria yang baik mengabaikan statusnya dan melihat orang yang terluka di pinggir jalan dengan pandangan penuh belas kasihan. Walau sukunya berlainan, hal ini tidak menghalanginya untuk membantu orang yang perlu ditolong tersebut. Orang-orang lain hanya melewati orang tersebut, tidak mengindahkan teriakan permintaan tolong dari orang tersebut yang sangat dihina oleh budaya mereka. Berapa seringkah saya bersalah karena dosa yang sama – merasa diri lebih tinggi dari mereka yang membutuhkan pertolongan secara fisik, mereka yang secara emosi tidak stabil, atau mereka yang lapar secara rohani. Mengasihi orang yang sulit untuk dikasihi dan yang hancur hatinya membutuhkan lebih dari apa yang kita miliki, dan disinilah kita mengalami pemulihan dan kasih Allah terhadap kehancuran diri kita sendiri.
Mahasiswi yang masih muda ini memang sulit untuk dikasihi; tetapi melalui pelayanan saya, dan dukungan dari keluarga saya, dia mulai mengalami kasih Yesus dan pemulihan yang ditawarkan-Nya kepada setiap orang. Saya belajar suatu dimensi yang baru tentang pemberian yang penuh pengorbanan – memberi sampai sakit rasanya – sama seperti apa yang Kristus lakukan di atas kayu salib ketika Dia memberikan sesuatu yang paling berharga, yaitu hidup-Nya.
===000===
Mengasihi Musuh di dalam Jemaat
Oleh Ingrid lawrenz, MSW
“Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu, mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu.” Baca Lukas 6:27-36 & Roma 12:9-21
Sebagai isteri dari hamba Tuhan, kita selalu berusaha untuk “hidup dengan damai dengan setiap orang,” terutama dengan orang-orang di jemaat kita. Kita ingin menjadi contoh dengan memperlihatkan kasih Kristus yang baik dan ingin agar hubungan jemaat menjadi baik, bukan hanya demi suami kita, tetapi juga untuk diri kita sendiri.
Namun pada kenyataannya kita tidak dapat menyenangkan semua orang. Cepat atau lambat kita akan mendengar bahwa seseorang kecewa dengan kita – atau lebih buruk lagi dengan suami atau anak-anak kita. Kecaman/celaan sangat menusuk hati – sampai ke ulu hati rasanya. “Suamimu tidak berbakat untuk berkotbah,” “Kamu sepertinya dingin dan susah didekati,” “Anak-anakmu suka mengganggu dan menjadi bahan omongan yang tidak enak.” Lalu mereka menyerang iman dan karaktermu. Inilah yang nampaknya paling menyakitkan hati – dipandang sebagai tidak cukup rohani karena kita mempunyai pandangan-pandangan tertentu terhadap masalah-masalah seperti aborsi, tim SAR, psikologi, atau masalah mengirim anak-anak ke sekolah negeri.
Rasa malu menyiram tubuh kita: “kamu orang yang tidak baik,” “tidak mampu,” “kamu sebaiknya mengundurkan diri,” dan rasanya kita langsung ingin bersembunyi. Kemudian kita merasa ingin menjadi obyektif dengan mencari-cari apa yang ada di dalam hati nurani kita. Jika hati nurani kita bersih di hadapan Allah, lalu rasa malu terangkat dan berganti dengan perasaan marah karena merasa benar.
Apa yang dapat kita lakukan dengan kemarahan yang kita rasakan terhadap saudara/i kita dalam Kristus? Bagaimana kita dapat terus melayani “musuh” di dalam persekutuan kita sendiri? Kemarahan mengisyaratkan adanya pemutusan hubungan antara kita dan saudara/i kita dalam Kristus. Oleh karenanya, kita harus mengubahnya. Yang paling banyak membantu saya untuk mengatasi hal ini adalah memikirkan tentang “membuang jauh rasa kemarahan saya.” Yesus dalam Markus 3:5 merasa marah dengan orang-orang Farisi, tetapi dia juga berkata dalam Matius 5:22 bahwa kita akan dihukum jika kita marah dengan saudara kita. Jadi, kita boleh marah dengan hal-hal yang Allah juga marah seperti sikap menghakimi, menjelekkan nama orang, dan kesombongan diri. Tetapi hal ini berbeda dengan kemarahan karena harapan atau keinginan kita tidak dituruti. Kadangkala kemarahan kita dapat diredakan dengan merendahkan harapan kita, dengan mengampuni dan mengendalikan diri. Langkah pertama mengatasi kemarahan adalah mau mengaku kepada diri sendiri dan kepada Allah tentang kemarahan kita (mungkin melalui jurnal/catatan doa). Kedua, melihat apakah ini masalah yang perlu kita simpan saja dan bersikap sabar, ataukah perlu kita bicarakan.
Kemarahan paling cepat dapat dihilangkan jika kita dapat berhadapan dengan orang yang bersangkutan secara langsung dan sama-sama mencari penyelesaian. Jika ini tidak berhasil, dan kemarahan itu tetap mendidih, cobalah untuk mengakui kemarahan ini kepada seseorang yang dapat kita percayai, dengan tujuan untuk menghilangkan rasa kemarahan kita. Dengan demikian kita dapat mengampuni orang tersebut dan bukannya menjelek-jelekkan namanya. Isteri-isteri hamba Tuhan biasanya dapat sangat bersimpati tentang masalah-masalah seperti ini. Kita akan terbantu jika kita tidak menyebutkan nama orang yang bermasalah dengan kita tersebut sehingga kita tidak berkeinginan untuk membalas dendam.
Kita dapat saja sudah melakukan segala sesuatu yang benar dalam proses ini, tetapi nantinya masih mengalami kemarahan karena dosa pihak lainnya masih terus berlangsung. Hal ini memerlukan usaha yang lebih keras lagi dari kita untuk menyelesaikannya dan mengampuni orang tersebut. Janji Allah bahwa Dia yang akan membalas bagi kita, akan dapat menghibur kita pada saat ini.
Dengan mengasihi musuh, kita memperlihatkan kemurahan hati Allah yang supranatural terhadap orang lain. Hal ini tidak berarti kita harus menyukai mereka, atau kita harus memiliki rasa kasih sayang untuk mereka, atau bahkan menyukai kehadiran mereka. Tetapi juga tidak berarti kita membiarkan mereka untuk terus berdosa dengan tidak menegur kelakuan mereka. Hal ini berarti mengasihi mereka dengan cara Allah – kasih agape – memperlihatkan itikad baik kita walaupun sebenarnya mereka tidak patut mendapatkannya; berarti kita mengharapkan yang terbaik bagi mereka dan tidak berkeinginan untuk menghukum atau menjelek-jelekkan nama mereka; berarti kita berdoa bagi mereka dan menolong mereka jika mereka membutuhkan pertolongan. Saya rasa menarik sekali bahwa Alkitab mengakui bahwa kita mempunyai musuh-musuh sehingga membenarkan kepedihan hati, rasa ditolak, dan kekecewaan kita. Yesus menunjukkan kasih terhadap Yudas, musuh-Nya, dan membiarkan suara hatinya sendiri yang menyatakan dirinya bersalah.
Ada rasa damai yang menenangkan gejolak kemarahan dan mengangkat rasa malu ketika kita bersandar pada kasih yang tak bersyarat dari Allah (Dia terus mengasihi kita walaupun kita tidak sempurna). Kita akan merasa terhibur dengan mengetahui sikap hati kita yang selalu mencari kuasa Allah untuk memampukan kita agar terus dapat mengasihi ketika kita merasa tidak mampu melakukannya dengan usaha sendiri.
Diterjemahkan dari artikel “Loving Your Enemies in the Church” , majalah Just Between Us, Spring 1995, hal.20.
===000===
Dasar anak-anak!
Seorang guru sekolah Minggu sedang mengajarkan bagaimana Allah menciptakan segala sesuatu, termasuk manusia. Si kecil Johnny nampak begitu serius memperhatikan ketika guru tersebut menjelaskan bagaimana Hawa diciptakan dari salah satu tulang rusuk Adam. Beberapa hari kemudian ibunya melihat Johnny berbaring seperti kesakitan, dan berkata, “Johnny, kamu kenapa?” Si Kecil Johnny menjawab, “Bagian samping badanku sakit. Rasanya saya akan mendapatkan seorang isteri!”
Seorang guru sekolah Minggu bertanya kepada anak-anak sebelum mereka dibawa masuk untuk mengikuti kebaktian, “Kenapa kita tidak boleh ribut di dalam kebaktian?” Ani menjawab, “Karena banyak yang tidur.”
Suatu hari Minggu di kota besar, seorang anak kecil mulai tidak bisa diam pada saat mengikuti kebaktian. Orang tuanya mencoba segala hal untuk membujuk agar anaknya bisa duduk dengan manis, tetapi nampaknya mulai kehilangan akal. Karena kesal, akhirnya, sang ayah mengangkat anak kecil tersebut dan mulai berjalan keluar. Sebelum sampai ke pintu keluar, anak kecil itu dengan kerasnya berteriak, “Tolong doakan saya! Tolong doakan saya!”
===000===
MENDOAKAN ANAK
31 Kebajikan dan sifat baik yang Alkitabiah untuk didoakan bagi anak-anak kita:
1. Keselamatan. “Tuhan, biarlah keselamatan bertunaskan di dalam diri anak-anakku, sehingga mereka mendapat keselamatan dalam Yesus Kristus, dengan kemuliaan yang kekal” (Yes.45:8; 2 Tim.2:10).
2. Bertumbuh dalam kasih karunia. “Aku berdoa agar anak-anakku bertumbuh dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus” (2 Pet. 3:18).
3. Kasih. “Tuhan, ajarlah anak-anakku untuk menjalani hidup di dalam kasih, melalui Roh Kudus yang berdiam di dalam diri mereka” (Gal.5:25, Ef.5:2).
4. Kejujuran dan ketulusan. “Biarlah ketulusan dan kejujuran menjadi sifat baik dan pelindung mereka” (Maz.25:21).
5. Penguasaan diri. “Bapa, tolonglah anak-anakku untuk tidak menjadi seperti anak-anak lainnya di sekitar mereka, tetapi tolonglah mereka untuk senantiasa berjaga-jaga dan sadar, serta untuk menguasai diri di dalam segala tindakan mereka” (1 Tes.5:6).
6. Cinta akan Firman Tuhan. “Biarlah anak-anakku bertumbuh dan mengetahui bahwa Firman-Mu adalah lebih indah daripada emas murni mana pun dan lebih manis daripada madu tetesan dari sarang lebah” (Maz.19:11).
7. Keadilan. “Tuhan, tolonglah anak-anakku untuk mengasihi keadilan sebagaimana Engkau juga mengasihi keadilan, dan tolong mereka untuk berlaku adil dalam segala tindakan mereka” (Maz.11:7; Mik.6:8).
8. Murah hati-berbelas kasihan. “Biarlah anak-anakku senantiasa bermurah hati, seperti Bapa mereka adalah juga murah hati” (Luk.6:36).
9. Hormat (bagi diri sendiri, orang lain, dan para pemimpin). “Bapa, berikanlah anak-anakku kemampuan untuk memiliki rasa hormat yang sepantasnya terhadap setiap orang, seperti yang diperintahkan oleh Firman-Mu” (1 Pet.2:17).
10. Harga diri yang Alkitabiah. “Tolong anak-anakku untuk mengembangkan harga diri yang kuat yang berakarkan kesadaran bahwa mereka adalah buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus” (Ef.2:10).
11. Kesetiaan. “Biarlah kasih dan setia tidak pernah meninggalkan anak-anakku, tetapi kalungkanlah kedua sifat baik itu pada leher mereka dan tuliskanlah itu pada loh hati mereka” (Am.3:3).
12. Keberanian. “Biarlah anak-anakku senantiasa kuat dan berani, baik dalam karakter maupun tindakan mereka” (Maz.51:12).
13. Kemurnian. “Jadikanlah hati mereka suci, ya tuhan, dan biarlah kesucian dalam hati itu terpancar dalam tindakan mereka” (Ul.31:6).
14. Kebaikan. “Biarlah anak-anakku senantiasa mencoba untuk menjadi baik satu terhadap lainnya dan kepada orang lain” (1 Tes.5;15).
15. Murah hati-dermawan. “Berikanlah anak-anakku kemampuan untuk bermurah hati dan suka memberi, dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya” (2 Kor.9:13; 1 Tim.6:18-19).
16. Cinta kedamaian. “Bapa, tolong anak-anakku untuk senantiasa berusaha untuk melakukan hal-hal yang membawa kedamaian” (Rom.14:19).
17. Sukacita. “Penuhilah anak-anakku dengan sukacita yang dikerjakan oleh Roh Kudus” (1 Tes.1:6).
18. Ketekunan. “Tuhan, ajarlah anak-anakku untuk bertekun dalam apa saja yang mereka lakukan, dan tolong mereka untuk terutama berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita” (Ibr.12:1).
19. Ramah dan lemah lembut. “Tuhan, tolong tanamkan kemampuan dalam anak-anakku untuk selalu ramah dan bersikap lemah lembut terhadap semua orang” (Ti.3:2).
20. Belas kasihan. “Tuhan, kenakanlah belas kasihan yang sejati pada anak-anakku” (Kol.3:12).
21. Tanggung jawab. “Tuhan, berikanlah anak-anakku kemampuan untuk belajar bertanggung jawab, karena tiap-tiap orang akan memikul tanggungannya sendiri” (Gal.6:5).
22. Rasa kecukupan. “Bapa, ajarlah anak-anakku rahasia bagaimana mencukupkan diri dalam segala keadaan, melalui Dia yang memberikan kekuatan kepada mereka” (Fil.4:11-13).
23. Iman. “Aku berdoa agar iman akan berakar dan bertumbuh di dalam hati anak-anakku, dan dengan iman, mereka akan memperoleh apa yang telah dijanjikan bagi mereka (Luk.17:5-6; Ibr.11:1-40).
24. Hati ingin melayani. “Tuhan, tolonglah anak-anakku untuk mempunyai hati yang ingin melayani, agar mereka dapat melayani sepenuh hati, seperti mereka melayani Tuhan, bukan manusia” (Ef.6:7).
25. Harapan. “Biarlah Allah sumber pengharapan memberikan anak-anakku harapan secara berkelimpahan oleh kekuatan Roh Kudus” (Rom.15:13).
26. Kerinduan dan kemampuan untuk bekerja. “Tuhan, ajarlah anak-anakku untuk menghargai pekerjaan dan mengerjakannya dengan sepenuh hati, seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia” (Kol.3:23).
27. Gairah bagi Tuhan. “Tuhan, tanamkanlah pada anak-anakku jiwa yang dengan penuh gairah melekat kepada-Mu” (Maz.63:9).
28. Kedisiplinan diri. “Bapa, aku berdoa agar anak-anakku dapat menjalani kehidupan yang penuh disiplin dan bijaksana, melakukan apa yang benar dan adil dan jujur” (Am.1:3).
29. Taat berdoa. “Tuhan, berikanlah anak-anakku kehidupan yang ditandai dengan ketaatan dalam berdoa, sehingga mereka dapat belajar untuk berdoa di dalam Roh di setiap kesempatan untuk mendoakan segala hal dan permohonan” (Ef.6:18).
30. Bersyukur. “Tolong anak-anakku untuk menjalani kehidupan yang selalu berkelimpahan dengan ucapan syukur dan senantiasa mengucap syukur kepada Allah Bapa atas segala sesuatu, dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus” (Ef.5:20; Kol.2:7).
31. Hati untuk misi. “Tuhan, tolonglah anak-anakku untuk memiliki kerinduan agar kemuliaan-Mu dan perbuatan-Mu yang ajaib dinyatakan di antara segala bangsa” (Yes.66:18-19).
Diterjemahkan dari “31 Biblical Virtues to Pray for Your Kids”, di cuplik dari Pray! terbitan ke empat.
Bagaimana cara menolong orang yang dunianya hancur?
Oleh Jill Briscoe
Apakah saudara pernah kehilangan seseorang yang dekat dengan saudara? Mung-kin mereka tinggal jauh sekali dari saudara, tetapi saudara tetap berkata, “Saya harus pergi melawat.” Lalu saudara mengepak baju dan pergi ke sana supaya dapat bertemu dengan keluarga dan teman-teman. Dan apa yang terjadi ketika saudara datang? Saudara disambut di pintu, dan saudara berkata, “Saya merasa saya harus datang ke sini.” Dan rasanya perkataan itu saja sudah cukup untuk menghibur mereka.
Saya merasa diberi kehormatan untuk dapat melayani sebagai anggota pengurus Yayasan Kristen World Relief. Tujuan mereka adalah untuk meringankan penderitaan di seluruh dunia dalam nama Kristus. Suatu musim panas, mereka mengundang saya untuk pergi ke Kroasia, tidak lama setelah bangsa itu perang dengan Serbia. Saya bergabung dengan selusin wanita Kristen lainnya, dan pergilah kami semua. “Setelah sampai di sana, apa yang dapat kami lakukan?” kami bertanya satu terhadap lainnya. Kami tidak tahu, tetapi ternyata pengalaman yang kami dapatkan di sana menjadi pengalaman yang mengubah hidup kami.
Di perbatasan Serbia, kami bertemu dengan para pengungsi – orang Kroasia, Serbia, dan Muslim – yang, baru saja mengalami ngerinya peperangan, menceritakan pengalaman-pengalaman mereka kepada kami. Kami mendengarkan keluhan dan cerita mereka, mengunjungi tempat pengungsian, dan melakukan beberapa hal yang praktis. Tetapi kami kebanyakan hanya berkata, “Kami merasa kami harus datang kemari!” Berulang-ulang kali mereka mengucapkan terima kasih karena kami datang “berada di sana.” Kami belajar bahwa untuk menghibur seseorang, kita harus berada dekat dengannya.
Melayani Dengan Keberadaan Kita Di Sana
Ada beberapa orang dalam kehidupan Ayub yang merasa “harus datang.” Dia punya banyak teman, tetapi Elifas, Zofar, dan Bildad adalah teman-teman yang istimewa. Mereka adalah kawan sebaya Ayub dan menyembah Allah yang sama. Ketika teman-temannya ini mendengar masalah yang menimpa Ayub, bersama-sama mereka jauh-jauh datang sebagai saudara-saudara seiman untuk menyampaikan simpati dan menghibur temannya yang baru jatuh.
Mereka datang dan melihat Ayub dari jauh, dan mereka hampir tidak dapat mengenalinya. Mereka mulai menangis dengan keras dan, seperti kebiasaan pada saat itu, mengoyak jubah mereka serta menaburkan debu di kepala mereka. Kemudian mereka duduk di tanah bersama dengannya selama tujuh hari dan tujuh malam. Tidak ada satu orang pun yang mengucapkan sepatah kata kepadanya karena mereka melihat betapa pilunya penderitaan yang dialaminya (Ayub 2:11-13).
Tidak dapat diragukan bahwa memberi penghiburan itu pasti ada harganya. Teman-teman Ayub bersusah payah datang jauh-jauh untuk menghibur dia. Mereka adalah para pemimpin suku. Mereka meninggalkan rumah mereka, keluarga mereka, dan tanggung jawab mereka, untuk menjadi seorang teman yang sejati. Jika persahabatan benar-benar dihargai, tidak ada yang namanya jalan pintas.
Dalam pasal 30, ayat 22, kita mendapatkan gambaran tentang perasaan Ayub: “Engkau mengangkat aku ke atas angin, melayangkan aku dan menghancurkan aku di dalam angin ribut.” Siapa yang belum pernah mengalami dirinya dilempar ke sana ke mari, oleh suatu kekuatan di luar kendali kita? Pada saat-saat demikian, sangatlah menolong jika ada seseorang yang dapat menghibur kita di tengah-tengah angin ribut.
Jika kita ingin menolong seseorang seperti Ayub, kita harus membayar harga. Kita harus pergi ke tempat saudara-saudari kita berada, jika perlu mengunjungi tumpukan abunya. Ada sesuatu yang sangat menghibur dari orang yang turut “berada di sana.”
Saya ingin tahu teman-teman Ayub yang mana yang punya ide untuk mengunjungi Ayub. Ketika seseorang dilanda musibah, ada baiknya jika kita menghubungi orang lain dan membuat rencana yang matang untuk dapat membantu orang tersebut.
Biarkan Air Matamu Berbicara
Setelah teman-teman Ayub berada cukup dekat untuk menghibur, mereka mengutarakan keprihatinan mereka sesuai dengan kebudayaan mereka: “Ketika mereka memandang dari jauh, mereka mulai menangis dengan suara nyaring.” Mereka membiarkan air mata mereka berbicara. Tidak ada yang mengucapkan sepatah kata pun karena mereka melihat betapa beratnya penderitaan dia.
Apakah saudara dapat menangis? Kadangkala saya mampu dan kadangkala tidak. Saya mengetahui bahwa hati Bapa saya tinggal di dalam diri saya dalam rupa Roh Kudus. Saya belajar untuk meminta-Nya berdoa untuk orang-orang yang menderita yang memerlukan pertolongan atas “keluhan-keluhan yang tidak terucapkan” (Roma 8:26). Ada rintihan dan kesedihan yang diekspresikan oleh air mata yang hanya dapat dihasilkan oleh Roh Kudus di dalam diri kita, yaitu air mata Kristus.
Saya pernah menerima perasaan empati juga. Saya teringat ketika dulu saya merasa susah dan pahit karena saya kesepian. Pekerjaan suami saya mengharuskan dia untuk pergi selama berbulan-bulan lamanya. Saya tahu saya memerlukan seseorang untuk diajak berbicara, tetapi siapa? Suami teman saya yang adalah hamba Tuhan yang sudah senior juga sering pergi, tetapi nampaknya dia baik-baik saja! Bagaimana mungkin saya dapat membagikan kepedihan saya pada dia? Akhirnya suatu hari saya mampu mengumpulkan keberanian untuk pergi mendatangi dia dan berbicara dengan dia.
Saat memasuki ruangan kantornya, saya merasa bersalah karena mengganggu dia. Dia mengangkat pandangannya dan melihat, menurut kata-kata Ayub, “begitu beratnya penderitaan saya.” Langsung dia memberikan saya perhatiannya yang penuh. Berdasarkan pengalamannya selama bertahun-tahun, dia sadar bahwa mendengar adalah sama dengan mengasihi.
Saya mengeluarkan semua uneg-uneg saya. Saya bilang saya sudah tidak sanggup lagi menjadi ibu sekaligus ayah di dalam kehidupan anak-anak saya. Saya sudah mencoba untuk mengikuti contoh yang diberikan dia untuk menjadi isteri hamba Tuhan yang sempurna, tetapi gagal. Yang saya dapati hanyalah kepedihan. Saya berhenti berbicara dan memandang dia. Saya sungguh tidak percaya dengan apa yang saya lihat! Dia sedang menangis – sungguh-sungguh menangis. “Memang sulit sekali, ya?” itu saja yang dia katakan.
Bukan kata-kata tersebut yang berbicara keras kepada saya, melainkan air matanya. Suara air mata yang sedang berbicara tidak akan luput dari siapa pun. “Saya sungguh tidak percaya dengan apa yang saya lihat saat ini,” gumam saya. “Ini semua susah bagi kamu juga ya?” Lalu dia tertawa, dan mempersilahkan saya untuk duduk. Air matanya berkata kepada saya bahwa tidak apa-apa jika saya punya perasaan seperti ini dan bahwa dia juga merasakan kepedihan saya. Karena dia pernah mengalami kepedihan dan dapat mengatasinya, maka saya pun dapat mendapatkan kemenangan dan sukacita di saat-saat saya merasa kesunyian. Kita dapat melayani seseorang dengan berada di samping orang tersebut, dan kita dapat membiarkan air mata kita berbicara.
Menolong untuk Jangka Panjang
Teman-teman yang menghibur Ayub siap menolong untuk jangka panjang. Mungkin Ayub tidak begitu menginginkan kehadiran mereka lagi setelah sekian lamanya waktu berjalan, tetapi paling tidak mereka tidak langsung pergi begitu ada kesempatan. Untuk dapat menjadi penghibur yang sejati, kita harus tinggal sampai dapat mengerti kepedihan orang yang kita hibur.
Suami dari seorang wanita yang masih muda di gereja kami meninggal karena sakit kanker. Pada tahun pertama, teman-teman, keluarga, dan bahkan orang-orang yang tidak dikenalnya, datang berbondong-bondong untuk melayani dia. Lalu datanglah tahun kedua – tahun yang menurut para ahli adalah saat yang terburuk. “Saya harap mereka benar,” tulis dia kepada saya, “karena tahun kedua ini benar-benar berat sekali! Banyak orang-orang yang dulunya memberikan perhatian kepada saya sekarang sibuk dengan kehidupan mereka masing-masing, dan saya kembali sendirian di sini.”
Memang tidak mungkin bagi setiap orang untuk terus-menerus memberikan perhatian yang intensif, tetapi harus ada seseorang yang mampu. Saya belajar untuk bertanya kepada Allah, “Apakah Engkau menginginkan saya di sini untuk jangka panjang?” Jika Dia mengiakan, penting sekali bagi kita untuk terus setia. Belajarlah untuk tahu apa yang harus dikerjakan dan apa yang harus dikatakan. Ketika saat-saat seperti ini tiba, kita harus sudah siap. Jika tidak, kita mungkin akan mendapatkan teguran yang sama dengan teman-teman Ayub karena mereka tidak “berbicara dengan benar.”
Di dalam kata-kata, ada suatu penghiburan yang besar. Kata-kata kita harus selalu berdasarkan Alkitab. Kata-kata yang demikianlah yang dapat digunakan oleh Roh Kudus untuk menghibur dan menyembuhkan. Kata-kata ini tidak boleh dalam bentuk omelan ataupun kritikan. Bagaimanapun juga, luka yang ditimbul kan oleh orang yang dekat dengan kita dapat menjadi luka yang paling hebat. Kata-kata dapat memotong luka jauh lebih dalam daripada batu dan dapat membuat perasaan seseorang babak belur. Kata-kata kita perlu dipilih dengan hati-hati dan digunakan untuk menyembuhkan dan menolong, bukannya untuk melukai, bahkan walaupun penderitaan itu adalah karena kebodohan orang tersebut atau akibat salah pilih.
Juga, kata-kata harus digunakan pada saat yang tepat. Saya yakin kita semua pernah menjadi korban di mana kata-kata yang “benar” diucapkan pada waktu yang salah! Waktu adalah hal yang sangat penting ketika kita sedang mencoba menghibur seseorang. Pengkhotbah 3:7 mengatakan bahwa ada “waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara.”
Saya teringat ketika saya dulu melayani seorang perempuan remaja. Sebelum menemukan Tuhan, dia hidup dalam pergaulan bebas dan jarang mendapatkan perhatian dari rumah. Dia banyak bergumul, tetapi kemudian jatuh ke dalam kebiasaan lamanya lagi. Suatu hari dia datang kepada saya, mengatakan bahwa dia hamil dan orang tuanya sudah mengusir dia. Saya ingat saat itu saya benar-benar merasa gusar. Seharusnya dia tahu akan begini akibatnya! Dulu dia sudah mendapatkan pekerjaan, dan sudah mengubah total kehidupannya. Kenapa dia bodoh sekali? Ada banyak yang perlu dikatakan, tetapi saat itu bukanlah saat yang tepat. Saat itu, dalam keadaan hampir sekarat, dia perlu mandi, diberi makan, pelukan, dan tempat tinggal! Lalu saya mencoba untuk hanya menggunakan kata-kata yang bijak untuk menyambut dia dan berkata pada dia bahwa saya senang dia merasa mampu datang kepada saya di saat dia punya masalah. Akan ada waktu di kemudian hari nanti ketika dia sudah siap untuk menerima kata-kata saya, tetapi bukan saat itu.
Ada perbedaan antara kritik yang membangun dan yang menghancurkan. Ketika teman-teman Ayub mulai berbicara, mereka mulai merusak hal-hal baik yang telah mereka bangun. Mereka mulai menuduh Ayub, dan dengan demikian mengerjakan pekerjaan si setan baginya. Kasih yang sejati selalu mencari suatu cara yang bersifat membangun.
Diterjemahkan dari Artikel “Comforting Job”, Majalah Just Between Us, Fall 2002, hal. 16-17, 20, yang merupakan saduran dari buku “Out of the Storm and Into God’s Arms”, karangan Jill Briscoe.
===000===
Cerita saya…
Oleh Connie Griffin, Rockford, Illinois
Dengan cepat-cepat saya mengaduk saus di depan saya, dan secara tidak sadar saya melampiaskan emosi saya di sana. Perasaan marah dan frustrasi mulai bertimbun dan saya mulai tidak dapat menguasai diri. Mahasiwi muda yang berdiri tidak jauh dari saya mulai membuat saya merasa tidak sanggup lagi untuk mengatasi dirinya. Masalah yang dihadapinya terlalu rumit. Bagaimana saya bisa mengerti dan melayani dia? Saat itu saya rasanya hanya ingin bebas dari tanggung jawab untuk melayaninya.
Karena bertahun-tahun mengalami pelecehan seksual dari ayah dan saudara lelakinya, dan karena ibunya mengabaikan teriakan permintaan tolongnya, akhirnya dia mulai melampiaskan masalahnya dengan menyayat badannya dan terkena penyakit anoreksia (tidak nafsu makan). Hatinya hancur, sakit, dan kesepian, dia benar-benar membutuhkan keluarga yang dapat mengasihi dan menerima dia. Tetapi dia malah mengasingkan diri dari orang-orang yang paling dia butuhkan. Dia benar-benar sulit untuk dikasihi.
Saya bertanya pada diri sendiri, kenapa sulit sekali bagi saya untuk mengasihi orang yang sulit untuk dikasihi dan hancur hatinya? Cara hidup mereka saja sudah cukup membuat saya ingin lari dari mereka. Saya ingin mengasihi orang yang mudah untuk dikasihi – orang yang berasal dari tingkat eknomi yang sama dengan saya, yang memiliki nilai kehidupan dan prioritas yang sama dengan saya, dan orang-orang yang memiliki kesamaan dengan saya. Saya pada dasarnya egois dan sombong di tengah-tengah dunia ekonomi menengah ke atas. Tuhan, saya mengakui sikap saya yang berdosa.
Orang Samaria yang baik mengabaikan statusnya dan melihat orang yang terluka di pinggir jalan dengan pandangan penuh belas kasihan. Walau sukunya berlainan, hal ini tidak menghalanginya untuk membantu orang yang perlu ditolong tersebut. Orang-orang lain hanya melewati orang tersebut, tidak mengindahkan teriakan permintaan tolong dari orang tersebut yang sangat dihina oleh budaya mereka. Berapa seringkah saya bersalah karena dosa yang sama – merasa diri lebih tinggi dari mereka yang membutuhkan pertolongan secara fisik, mereka yang secara emosi tidak stabil, atau mereka yang lapar secara rohani. Mengasihi orang yang sulit untuk dikasihi dan yang hancur hatinya membutuhkan lebih dari apa yang kita miliki, dan disinilah kita mengalami pemulihan dan kasih Allah terhadap kehancuran diri kita sendiri.
Mahasiswi yang masih muda ini memang sulit untuk dikasihi; tetapi melalui pelayanan saya, dan dukungan dari keluarga saya, dia mulai mengalami kasih Yesus dan pemulihan yang ditawarkan-Nya kepada setiap orang. Saya belajar suatu dimensi yang baru tentang pemberian yang penuh pengorbanan – memberi sampai sakit rasanya – sama seperti apa yang Kristus lakukan di atas kayu salib ketika Dia memberikan sesuatu yang paling berharga, yaitu hidup-Nya.
===000===
Mengasihi Musuh di dalam Jemaat
Oleh Ingrid lawrenz, MSW
“Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu, mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu.” Baca Lukas 6:27-36 & Roma 12:9-21
Sebagai isteri dari hamba Tuhan, kita selalu berusaha untuk “hidup dengan damai dengan setiap orang,” terutama dengan orang-orang di jemaat kita. Kita ingin menjadi contoh dengan memperlihatkan kasih Kristus yang baik dan ingin agar hubungan jemaat menjadi baik, bukan hanya demi suami kita, tetapi juga untuk diri kita sendiri.
Namun pada kenyataannya kita tidak dapat menyenangkan semua orang. Cepat atau lambat kita akan mendengar bahwa seseorang kecewa dengan kita – atau lebih buruk lagi dengan suami atau anak-anak kita. Kecaman/celaan sangat menusuk hati – sampai ke ulu hati rasanya. “Suamimu tidak berbakat untuk berkotbah,” “Kamu sepertinya dingin dan susah didekati,” “Anak-anakmu suka mengganggu dan menjadi bahan omongan yang tidak enak.” Lalu mereka menyerang iman dan karaktermu. Inilah yang nampaknya paling menyakitkan hati – dipandang sebagai tidak cukup rohani karena kita mempunyai pandangan-pandangan tertentu terhadap masalah-masalah seperti aborsi, tim SAR, psikologi, atau masalah mengirim anak-anak ke sekolah negeri.
Rasa malu menyiram tubuh kita: “kamu orang yang tidak baik,” “tidak mampu,” “kamu sebaiknya mengundurkan diri,” dan rasanya kita langsung ingin bersembunyi. Kemudian kita merasa ingin menjadi obyektif dengan mencari-cari apa yang ada di dalam hati nurani kita. Jika hati nurani kita bersih di hadapan Allah, lalu rasa malu terangkat dan berganti dengan perasaan marah karena merasa benar.
Apa yang dapat kita lakukan dengan kemarahan yang kita rasakan terhadap saudara/i kita dalam Kristus? Bagaimana kita dapat terus melayani “musuh” di dalam persekutuan kita sendiri? Kemarahan mengisyaratkan adanya pemutusan hubungan antara kita dan saudara/i kita dalam Kristus. Oleh karenanya, kita harus mengubahnya. Yang paling banyak membantu saya untuk mengatasi hal ini adalah memikirkan tentang “membuang jauh rasa kemarahan saya.” Yesus dalam Markus 3:5 merasa marah dengan orang-orang Farisi, tetapi dia juga berkata dalam Matius 5:22 bahwa kita akan dihukum jika kita marah dengan saudara kita. Jadi, kita boleh marah dengan hal-hal yang Allah juga marah seperti sikap menghakimi, menjelekkan nama orang, dan kesombongan diri. Tetapi hal ini berbeda dengan kemarahan karena harapan atau keinginan kita tidak dituruti. Kadangkala kemarahan kita dapat diredakan dengan merendahkan harapan kita, dengan mengampuni dan mengendalikan diri. Langkah pertama mengatasi kemarahan adalah mau mengaku kepada diri sendiri dan kepada Allah tentang kemarahan kita (mungkin melalui jurnal/catatan doa). Kedua, melihat apakah ini masalah yang perlu kita simpan saja dan bersikap sabar, ataukah perlu kita bicarakan.
Kemarahan paling cepat dapat dihilangkan jika kita dapat berhadapan dengan orang yang bersangkutan secara langsung dan sama-sama mencari penyelesaian. Jika ini tidak berhasil, dan kemarahan itu tetap mendidih, cobalah untuk mengakui kemarahan ini kepada seseorang yang dapat kita percayai, dengan tujuan untuk menghilangkan rasa kemarahan kita. Dengan demikian kita dapat mengampuni orang tersebut dan bukannya menjelek-jelekkan namanya. Isteri-isteri hamba Tuhan biasanya dapat sangat bersimpati tentang masalah-masalah seperti ini. Kita akan terbantu jika kita tidak menyebutkan nama orang yang bermasalah dengan kita tersebut sehingga kita tidak berkeinginan untuk membalas dendam.
Kita dapat saja sudah melakukan segala sesuatu yang benar dalam proses ini, tetapi nantinya masih mengalami kemarahan karena dosa pihak lainnya masih terus berlangsung. Hal ini memerlukan usaha yang lebih keras lagi dari kita untuk menyelesaikannya dan mengampuni orang tersebut. Janji Allah bahwa Dia yang akan membalas bagi kita, akan dapat menghibur kita pada saat ini.
Dengan mengasihi musuh, kita memperlihatkan kemurahan hati Allah yang supranatural terhadap orang lain. Hal ini tidak berarti kita harus menyukai mereka, atau kita harus memiliki rasa kasih sayang untuk mereka, atau bahkan menyukai kehadiran mereka. Tetapi juga tidak berarti kita membiarkan mereka untuk terus berdosa dengan tidak menegur kelakuan mereka. Hal ini berarti mengasihi mereka dengan cara Allah – kasih agape – memperlihatkan itikad baik kita walaupun sebenarnya mereka tidak patut mendapatkannya; berarti kita mengharapkan yang terbaik bagi mereka dan tidak berkeinginan untuk menghukum atau menjelek-jelekkan nama mereka; berarti kita berdoa bagi mereka dan menolong mereka jika mereka membutuhkan pertolongan. Saya rasa menarik sekali bahwa Alkitab mengakui bahwa kita mempunyai musuh-musuh sehingga membenarkan kepedihan hati, rasa ditolak, dan kekecewaan kita. Yesus menunjukkan kasih terhadap Yudas, musuh-Nya, dan membiarkan suara hatinya sendiri yang menyatakan dirinya bersalah.
Ada rasa damai yang menenangkan gejolak kemarahan dan mengangkat rasa malu ketika kita bersandar pada kasih yang tak bersyarat dari Allah (Dia terus mengasihi kita walaupun kita tidak sempurna). Kita akan merasa terhibur dengan mengetahui sikap hati kita yang selalu mencari kuasa Allah untuk memampukan kita agar terus dapat mengasihi ketika kita merasa tidak mampu melakukannya dengan usaha sendiri.
Diterjemahkan dari artikel “Loving Your Enemies in the Church” , majalah Just Between Us, Spring 1995, hal.20.
===000===
Dasar anak-anak!
Seorang guru sekolah Minggu sedang mengajarkan bagaimana Allah menciptakan segala sesuatu, termasuk manusia. Si kecil Johnny nampak begitu serius memperhatikan ketika guru tersebut menjelaskan bagaimana Hawa diciptakan dari salah satu tulang rusuk Adam. Beberapa hari kemudian ibunya melihat Johnny berbaring seperti kesakitan, dan berkata, “Johnny, kamu kenapa?” Si Kecil Johnny menjawab, “Bagian samping badanku sakit. Rasanya saya akan mendapatkan seorang isteri!”
Seorang guru sekolah Minggu bertanya kepada anak-anak sebelum mereka dibawa masuk untuk mengikuti kebaktian, “Kenapa kita tidak boleh ribut di dalam kebaktian?” Ani menjawab, “Karena banyak yang tidur.”
Suatu hari Minggu di kota besar, seorang anak kecil mulai tidak bisa diam pada saat mengikuti kebaktian. Orang tuanya mencoba segala hal untuk membujuk agar anaknya bisa duduk dengan manis, tetapi nampaknya mulai kehilangan akal. Karena kesal, akhirnya, sang ayah mengangkat anak kecil tersebut dan mulai berjalan keluar. Sebelum sampai ke pintu keluar, anak kecil itu dengan kerasnya berteriak, “Tolong doakan saya! Tolong doakan saya!”
===000===
MENDOAKAN ANAK
31 Kebajikan dan sifat baik yang Alkitabiah untuk didoakan bagi anak-anak kita:
1. Keselamatan. “Tuhan, biarlah keselamatan bertunaskan di dalam diri anak-anakku, sehingga mereka mendapat keselamatan dalam Yesus Kristus, dengan kemuliaan yang kekal” (Yes.45:8; 2 Tim.2:10).
2. Bertumbuh dalam kasih karunia. “Aku berdoa agar anak-anakku bertumbuh dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus” (2 Pet. 3:18).
3. Kasih. “Tuhan, ajarlah anak-anakku untuk menjalani hidup di dalam kasih, melalui Roh Kudus yang berdiam di dalam diri mereka” (Gal.5:25, Ef.5:2).
4. Kejujuran dan ketulusan. “Biarlah ketulusan dan kejujuran menjadi sifat baik dan pelindung mereka” (Maz.25:21).
5. Penguasaan diri. “Bapa, tolonglah anak-anakku untuk tidak menjadi seperti anak-anak lainnya di sekitar mereka, tetapi tolonglah mereka untuk senantiasa berjaga-jaga dan sadar, serta untuk menguasai diri di dalam segala tindakan mereka” (1 Tes.5:6).
6. Cinta akan Firman Tuhan. “Biarlah anak-anakku bertumbuh dan mengetahui bahwa Firman-Mu adalah lebih indah daripada emas murni mana pun dan lebih manis daripada madu tetesan dari sarang lebah” (Maz.19:11).
7. Keadilan. “Tuhan, tolonglah anak-anakku untuk mengasihi keadilan sebagaimana Engkau juga mengasihi keadilan, dan tolong mereka untuk berlaku adil dalam segala tindakan mereka” (Maz.11:7; Mik.6:8).
8. Murah hati-berbelas kasihan. “Biarlah anak-anakku senantiasa bermurah hati, seperti Bapa mereka adalah juga murah hati” (Luk.6:36).
9. Hormat (bagi diri sendiri, orang lain, dan para pemimpin). “Bapa, berikanlah anak-anakku kemampuan untuk memiliki rasa hormat yang sepantasnya terhadap setiap orang, seperti yang diperintahkan oleh Firman-Mu” (1 Pet.2:17).
10. Harga diri yang Alkitabiah. “Tolong anak-anakku untuk mengembangkan harga diri yang kuat yang berakarkan kesadaran bahwa mereka adalah buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus” (Ef.2:10).
11. Kesetiaan. “Biarlah kasih dan setia tidak pernah meninggalkan anak-anakku, tetapi kalungkanlah kedua sifat baik itu pada leher mereka dan tuliskanlah itu pada loh hati mereka” (Am.3:3).
12. Keberanian. “Biarlah anak-anakku senantiasa kuat dan berani, baik dalam karakter maupun tindakan mereka” (Maz.51:12).
13. Kemurnian. “Jadikanlah hati mereka suci, ya tuhan, dan biarlah kesucian dalam hati itu terpancar dalam tindakan mereka” (Ul.31:6).
14. Kebaikan. “Biarlah anak-anakku senantiasa mencoba untuk menjadi baik satu terhadap lainnya dan kepada orang lain” (1 Tes.5;15).
15. Murah hati-dermawan. “Berikanlah anak-anakku kemampuan untuk bermurah hati dan suka memberi, dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya” (2 Kor.9:13; 1 Tim.6:18-19).
16. Cinta kedamaian. “Bapa, tolong anak-anakku untuk senantiasa berusaha untuk melakukan hal-hal yang membawa kedamaian” (Rom.14:19).
17. Sukacita. “Penuhilah anak-anakku dengan sukacita yang dikerjakan oleh Roh Kudus” (1 Tes.1:6).
18. Ketekunan. “Tuhan, ajarlah anak-anakku untuk bertekun dalam apa saja yang mereka lakukan, dan tolong mereka untuk terutama berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita” (Ibr.12:1).
19. Ramah dan lemah lembut. “Tuhan, tolong tanamkan kemampuan dalam anak-anakku untuk selalu ramah dan bersikap lemah lembut terhadap semua orang” (Ti.3:2).
20. Belas kasihan. “Tuhan, kenakanlah belas kasihan yang sejati pada anak-anakku” (Kol.3:12).
21. Tanggung jawab. “Tuhan, berikanlah anak-anakku kemampuan untuk belajar bertanggung jawab, karena tiap-tiap orang akan memikul tanggungannya sendiri” (Gal.6:5).
22. Rasa kecukupan. “Bapa, ajarlah anak-anakku rahasia bagaimana mencukupkan diri dalam segala keadaan, melalui Dia yang memberikan kekuatan kepada mereka” (Fil.4:11-13).
23. Iman. “Aku berdoa agar iman akan berakar dan bertumbuh di dalam hati anak-anakku, dan dengan iman, mereka akan memperoleh apa yang telah dijanjikan bagi mereka (Luk.17:5-6; Ibr.11:1-40).
24. Hati ingin melayani. “Tuhan, tolonglah anak-anakku untuk mempunyai hati yang ingin melayani, agar mereka dapat melayani sepenuh hati, seperti mereka melayani Tuhan, bukan manusia” (Ef.6:7).
25. Harapan. “Biarlah Allah sumber pengharapan memberikan anak-anakku harapan secara berkelimpahan oleh kekuatan Roh Kudus” (Rom.15:13).
26. Kerinduan dan kemampuan untuk bekerja. “Tuhan, ajarlah anak-anakku untuk menghargai pekerjaan dan mengerjakannya dengan sepenuh hati, seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia” (Kol.3:23).
27. Gairah bagi Tuhan. “Tuhan, tanamkanlah pada anak-anakku jiwa yang dengan penuh gairah melekat kepada-Mu” (Maz.63:9).
28. Kedisiplinan diri. “Bapa, aku berdoa agar anak-anakku dapat menjalani kehidupan yang penuh disiplin dan bijaksana, melakukan apa yang benar dan adil dan jujur” (Am.1:3).
29. Taat berdoa. “Tuhan, berikanlah anak-anakku kehidupan yang ditandai dengan ketaatan dalam berdoa, sehingga mereka dapat belajar untuk berdoa di dalam Roh di setiap kesempatan untuk mendoakan segala hal dan permohonan” (Ef.6:18).
30. Bersyukur. “Tolong anak-anakku untuk menjalani kehidupan yang selalu berkelimpahan dengan ucapan syukur dan senantiasa mengucap syukur kepada Allah Bapa atas segala sesuatu, dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus” (Ef.5:20; Kol.2:7).
31. Hati untuk misi. “Tuhan, tolonglah anak-anakku untuk memiliki kerinduan agar kemuliaan-Mu dan perbuatan-Mu yang ajaib dinyatakan di antara segala bangsa” (Yes.66:18-19).
Diterjemahkan dari “31 Biblical Virtues to Pray for Your Kids”, di cuplik dari Pray! terbitan ke empat.
Bertumbuh Bersama No. 3 - Januari 2003
Perasaan
Oleh Ingrid Lawrenz MSW
Mata Betsy terasa perih karena air mata, dan dadanya seperti tertusuk pisau. Ada seorang wanita lagi di kelompok PA-nya yang baru saja mengumumkan bahwa dia sedang hamil. Betsy memarahi dirinya, “Aku seharusnya turut senang. Iri hati adalah dosa. Saya seperti anak kecil jika menangis. Saya harus beriman – Allah akan memberikan saya seorang anak pada waktu-Nya.” Betsy memutuskan untuk bahkan tidak memberitahu suaminya tentang kabar kehamilan temannya, kuatir jangan-jangan suaminya nanti bisa membaca ada sesuatu yang tidak benar dari nada suaranya yang kemudian membuatnya cemberut. Mukanya terasa panas waktu teringat bagaimana Tim tidak bersedia untuk pergi ke dokter. Dia terlalu gengsi. Betsy boleh pergi ke spesialis kandungan, sepanjang hal itu tidak melibatkan suaminya. Sudah dua tahun dia tidak membicarakan hal ini lagi dengannya. Dia mengingatkan dirinya sendiri bahwa hal ini hanya akan menimbulkan konflik. Dia tidak ingin menambah beban pada suaminya yang sudah cukup stres dengan para jemaatnya. Waktu matanya mengarah ke bawah, dia baru sadar bahwa dia baru saja menghabiskan sepiring penuh kue kering yang ada di depannya.
Betsy telah menggunakan seluruh mekanisme bela dirinya dan strategi menyalahkan diri sendiri untuk melepaskan diri dari perasaan-perasaannya. Dia menganggap perasaan-perasaannya, terutama yang negatif, tidak berguna, tidak dewasa, hanyalah hawa nafsu yang harus dikuasai dan dimusnahkan. Betsy, seperti kebanyakan orang, merasa bertanggung jawab karena membebani orang lain dengan perasaan-perasaannya dan menghindari topik-topik yang mungkin akan membangkitkan perasaan dalam orang lain.
Apakah perasaan itu tidak penting, tidak berguna dan hanya menyusahkan manusia? Apakah perasaan itu sesuatu yang harus kita musnahkan, seperti halnya kuman-kuman, polusi, atau kotoran? Apakah perasaan hanya akan menimbulkan masalah? Tetapi kita tahu bahwa Yesus sebagai manusia yang sempurna juga memiliki perasaan. Dia memiliki perasaan sukacita dan kesedihan, kemarahan dan kasih sayang. Allah Bapa memiliki perasaan murka dan belas kasihan.
Saya percaya bahwa perasaan paling baik dimengerti sebagai tanda/sinyal yang internal. Perasaan sebenarnya adalah reaksi – terhadap pemikiran, sensasi atau kejadian. Perasaan itu sama seperti sinyal sebuah mobil, seperti tanda lampu sen berupa arah panah berwarna hijau untuk berbelok, tanda matahari berwarna biru untuk lampu depan yang terang, dan tanda lampu mesin berwarna merah untuk mesin yang terlalu panas. Sinyal-sinyal ini memberikan informasi yang berguna bagi kendaraan-kendaraan lain agar mereka dapat terus membuat keputusan yang baik.
Namun demikian, kadangkala mobil yang dirancang oleh manusia dan tubuh manusia dapat juga mengirimkan sinyal-sinyal yang salah – meteran bensin bisa menunjukkan bensin masih penuh walaupun tankinya sudah kosong, atau lampu tanda mesin berwarna merah yang menyala terus karena korslet. Si pengemudi harus memutuskan apa yang harus dilakukannya sewaktu menghadapi sinyal-sinyal serta situasi yang demikian. Kita dapat dipenuhi oleh rasa takut sewaktu ada serangan kegelisahan (anxiety attack) walaupun padahal tidak ada bahaya apa pun, atau merasa malu yang luar biasa jika di hari pernikahan anak kita turun hujan yang deras. PMS (pre menstrual syndrome atau gejala-gejala stres sebelum wanita haid, ed.) bahkan dapat membuat kita uring-uringan hanya karena kehilangan sebuah kunci! Emosi-emosi yang keluar tanpa disengaja ini harus dikuasai oleh pikiran kita serta dengan mengetahui mana emosi yang nyata dan sesungguhnya.
Namun demikian, kebanyakan perasaan kita bekerja sebagaimana mestinya dan memberikan kita petunjuk-petunjuk yang bermanfaat dan realistis yang dapat kita gunakan sebagai sumber yang penting di dalam kehidupan kita sehari-hari.
Allah memberikan kita emosi-emosi ini sebagai alat untuk menolong kita menghadapi kehidupan. Emosi-emosi tersebut mendorong kita untuk bertindak dengan sepantasnya. Perasaan malu dapat membawa kita kepada pertobatan, perasaan marah dapat mendorong kita untuk membela keadilan. Perasaan pilu dan sedih akan menolong kita untuk mengerem diri sehingga kita dapat mengatasi rasa kehilangan di dalam diri kita. Berbagi perasaan dengan orang lain dapat membawa kita kepada hubungan yang intim. Menerima dan mendengarkan perasaan seseorang dapat membantu kita untuk mengetahui orang tersebut dan menciptakan ikatan yang empatik. Inilah inti dari keintiman. Kita tidak perlu merasa harus dapat memecahkan persoalan mereka, juga tidak selalu perlu merasa bersalah karena menimbulkan perasaan tertentu pada orang lain. Dengan mendengar dan bersedia untuk mengerti saja sudah menunjukkan kasih. Hubungan yang intim dengan orang lain tidak perlu menjadi beban secara emosional. Juga penting sekali untuk membuat batasan-batasan sehingga kita tidak merasa jenuh dalam pelayanan.
Setiap orang memiliki perasaan-perasaan yang dialami secara terus menerus, baik perasaan yang sangat mendalam maupun yang kadangkala hampir tidak terasa. Setiap orang berbeda-beda di dalam mengatasi perasaan-perasaan tersebut. Perasaan sama halnya seperti cuaca. Tidak pernah ada hari lewat tanpa cuaca. Kadangkala cuaca begitu jelas akan menunjukkan bahwa hari ini akan cerah dan panas, tetapi kadangkala muncul cuaca yang mendung yang tidak menentu. Namun demikian, trauma yang ekstrim dapat mematirasakan perasaan secara total, seperti yang dapat kita lihat pada wajah-wajah para korban peperangan yang berpandangan kosong di TV. Dengan anugerah Allah kita dapat mematikan perasaan kita jika penderitaan yang kita alami terlalu berat, seperti sekering yang korslet.
Sebagai seorang konselor, saya mendorong orang-orang untuk melatih berperasaan yang sehat. Belajarlah bagaimana mengenali perasaan-perasaanmu. Terimalah perasaan-perasaan yang kurang enak, tulislah dalam buku harian perasaan-perasaan yang membingungkan. Mengeluarkan unek-unek melalui penulisan dalam buku harian adalah kebiasaan yang baik. Saya sungguh menyukai pepatah Swedia, “Berbagi penderitaan dapat menjadikannya berkurang separuh, tetapi berbagi sukacita dapat menjadikannya berlipat ganda.” Kita dapat menulis buku harian dalam bentuk doa untuk memproses perasaan kita dengan Allah.
Emosi-emosi adalah seperti energi yang bergerak secara dinamis, yang seharusnya akan muncul dan kemudian pergi lagi. Jadi, berbahaya jika kita macet pada satu emosi saja. Perasaan marah yang disimpan terus dapat membawa kita kepada kepahitan yang mengubah kepribadian kita. Kepedihan hati yang tidak diproses dengan benar akan membawa kita kepada depresi. Banyak orang mengalami kesulitan karena mereka menekan, menghindari, atau mengenyampingkan perasaan-perasaan mereka, dan sebagai gantinya mereka memilih untuk bekerja lebih keras lagi, makan lebih banyak lagi, minum-minum, pergi berbelanja atau berjudi. Ada juga yang mulai mengalami berbagai macam keluhan atau ketidakberesan pada tubuhnya, sebagai akibat dari stres yang dibebani ke tubuh mereka dengan ditekannya perasaan-perasaan mereka. Perasaan-perasaan yang tertahan kemudian akan mengakibatkan timbulnya benteng-benteng pemisah dengan orang lain. Emosi-emosi yang dikubur lebih berbahaya bagi kehidupan kita daripada membiarkan emosi itu untuk keluar dan ditangani. Sekop dapat digunakan untuk memusnahkan kebun atau menanam tanaman-tanaman yang indah.
Saya bersyukur kepada Allah karena kita diberikan emosi-emosi sehingga hidup kita dapat menjadi lebih penuh dan lebih berarti. Emosi hanyalah sekedar alat atau sinyal untuk menolong kita untuk mengerti, menyesuaikan diri, menghadapi, atau mengubah, pada saat kita mengarungi tantangan-tantangan kehidupan.
Sinyal yang diberikan oleh perasaan dasar kita:
Senang: Hore! Ini sungguh baik. Saya ingin terus dalam keadaan seperti ini.
Takut: Bahaya! Saya perlu mengambil tindakan hati-hati dan dalam keadaan awas. Berjuang atau lari!
Sakit hati: Saya dilukai. Saya perlu berhenti atau mundur diri.
Malu: Saya telah melakukan hal yang tidak benar. Saya ingin bersembunyi. Hubungan saya terputus. (Malu dapat diatasi dengan pertobatan, berhubungan kembali dengan orang lain atau berhubungan kembali dengan kebenaran).
Marah: Ada yang tidak benar! Ada yang harus diubah. Tubuh saya menjadi tegang dan siap untuk bertindak. (Marah dapat diatasi dengan mengubah keadaan atau dengan mengubah perasaan serta harapan kita sendiri).
Sedih: Saya kehilangan sesuatu. Tubuh saya melambatkan diri untuk menyesuaikan diri.
Kaget: Saya sungguh tidak mengharapkan kejadian ini! Berhentilah agar saya dapat menyesuaikan diri.
===000===
BAHASA TUBUH
BAB 1 - MEMPERSEMBAHKAN TUBUH KITA
Oleh Jill Briscoe
“Kita hanya menggunakan sekitar duapuluh lima menit per hari untuk kata-kata yang kita ucapkan dalam pembicaraan kita. Sisanya, kita berkomunikasi dengan melambaikan tangan, menyeringai, menggerutu, mengerutkan dahi, mengangkat bahu, atau menulis memo yang panjang.” Dengan kata lain, ada banyak cara lainnya untuk memberitahu suami bahwa kita sedang marah kepadanya selain hanya berteriak-teriak kepadanya. Cobalah membungkam diri, memberi pandangan yang seolah-olah akan menikam suami, atau mencibirkan bibir – pasti dia langsung tahu! Atau pernahkah saudara melihat bagaimana reaksi anak-anak SMP saat khotbah sang pendeta terlalu lama? Dengan sikap duduk agak merosot, atau tangan menopang kepala, bahasa tubuhnya dengan jelas mengatakan, “Saya sudah bosan.” Tetapi, tubuh kita juga dapat mengkomunikasikan pesan-pesan yang baik. Pertanyaannya adalah, pesan apa yang tubuh kita katakan?
Dalam Roma 12:1, Rasul Paulus mengatakan, “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” Jika kita mempersembahkan tubuh kita kepada Tuhan, Dia dapat menggunakannya sebagai alat-Nya di dunia untuk tindakan-tindakan ilahi-Nya. Dan kenapa kita harus mempersembahkan tubuh kita? Paulus memberikan kita alasannya – yaitu karena “kemurahan Allah” (Rom.12:1). Karena kemurahan Allah maka Yesus mempersembahkan Tubuh-Nya, seperti Yohanes 3:16 mengingatkan kita: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal….” Yesus mati di kayu salib sebagai persembahan yang hidup bagi manusia yang berdosa, sehingga kita dapat masuk ke surga. Betapa besar kemurahan Allah! Tutuplah mata saudara untuk sesaat dan cobalah untuk membayangkan kayu salib. Apa yang saudara lihat? Yesus… dengan tangan-Nya yang terlentang untuk menyelamatkan kita, mengatakan, “Aku mengasihimu.” Itulah yang namanya bahasa tubuh! Melalui tubuh-Nya, Yesus menyatakan kasih-Nya yang menyelamatkan, dengan sedalam-dalamnya.
Jika melihat kemurahan-Nya sehingga Dia rela mati bagi kita, paling tidak yang kita dapat lakukan adalah mempersembahkan tubuh kita kembali kepada-Nya. C.T. Studd, seorang misionaris pelopor terkenal mengatakan, “Jika Yesus Kristus adalah Allah dan mati bagiku, maka tidak ada pengorbanan yang terlalu besar bagiku untuk dapat membalas kasih-Nya!” C.T. Studd mengerti arti Roma 12:1.
Dilahirkan di keluarga yang kaya raya, ayah C.T. pergi ke India untuk berkebun teh, dan kemudian kembali ke Inggris untuk menikmati hasil kerja kerasnya. Tidak lama kemudian, D.L. Moody datang ke Inggris, dan ayah C.T. pergi ke pertemuan yang dipimpin oleh tuan Moody, lalu mendengarkan khotbahnya, dan menyerahkan hidupnya kepada Tuhan. Setelah ayahnya meninggal dunia, C.T. mewarisi harta kekayaan yang besar sekali. Dia belajar di universitas di Cambridge dan bermain bola kriket untuk Inggris. Tetapi kemudian dia meninggalkan semuanya ini untuk membawa Injil kepada orang-orang yang belum pernah mendengarnya – pertama-tama ke Cina, kemudian ke India, dan akhirnya ke Afrika. Amatilah bahasa tubuhnya. Tangannya menulis cek-cek yang mengalihkan harta kekayaannya yang begitu besar kepada badan-badan sosial. Kakinya membawa dia ke tiga benua untuk Kristus. Tubuh-nya, terkoyak-koyak karena sakit (tubuhnya dijuluki musium penyakit), penuh dengan tanda-tanda milik Tuhannya. Tubuh – menurut suami saya – adalah “Suatu sarana di dunia ini di mana wujud roh dapat pergi berkeliling di lingkungan ragawi.” Hal inilah yang dilakukan oleh tubuh C.T!
Kita juga melihat prinsip bahasa tubuh yang terdapat dalam kehidupan Rasul Paulus. Dalam KPR 8-9, kita melihat bahwa Paulus menganiaya orang-orang Kristen. Mulutnya menghembuskan ancaman ancaman untuk membunuh (KPR 9:1). Kakinya mengejar orang-orang Kristen sehingga mereka harus bersembunyi (KPR 8:1). Dan tangannya menyeret orang-orang yang mengasihi Tuhan ke penjara (KPR 9:2). Tetapi Saulus, namanya pada saat itu, bertobat di tengah perjalanannya menuju Damsyik. Langsung bahasa tubuhnya berubah. Kakinya membawa dia ke sinagoge. Mulutnya mulai mengabarkan kabar baik tentang Yesus Kristus. Pada akhir perjalanan hidupnya, Paulus mampu mengatakan, “Selanjutnya janganlah ada orang yang menyusahkan aku, karena pada tubuhku ada tanda-tanda milik Yesus.” Paulus punya banyak cara untuk memberitahu orang-orang bahwa dia mengasihi mereka karena Kristus!
Jadi, apa sih arti tubuh yang akan kita persembahkan ini? Pertama-tama, tubuh adalah wujud ragawi. Paulus sangat menghargai tubuh. Tetapi, orang-orang Yunani berpikir tubuh itu sendiri adalah jahat karena tubuh melakukan perbuatan-perbuatan yang jahat. Hal ini tentu saja berlawanan dengan Alkitab. Sejak semula tubuh merupakan bagian yang integral dari manusia. Allah menghargai tubuh melalui penciptaan, memuliakan tubuh melalui inkarnasi, dan menyucikan tubuh melalui pekerjaan Roh Kudus-Nya. Walaupun “bait” tubuh kita tercemar karena dosa, melalui keselamatan tubuh kita berubah. Tubuh bukanlah wujud yang jahat. Tubuh sedang menunggu untuk dipulihkan secara utuh pada saat kebangkitan (1 Kor. 15).
Roma 12:1 juga mengingatkan kita bahwa kita harus secara terus menerus mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan. Pasti ada harga yang harus dibayar untuk itu. Kata persembahan itu sendiri sudah mensyaratkannya terlebih dahulu. Secara pribadi, masalah yang saya hadapi untuk memberikan “persembahan yang hidup” adalah karena saya terus pelan-pelan menjauhi altar! Ketika harus bangun pagi-pagi untuk membersihkan rumah sehingga dapat mengadakan Pemahaman Alkitab bagi para tetangga, saya merasa hal itu lama-lama terasa sangat membebani jika harus melakukannya setiap minggu. Mula-mula nampaknya hal ini begitu menarik dan membuat saya merasa senang karena dapat melakukannya. Tetapi dengan adanya tiga anak yang masih balita yang sudah pasti akan membuat rumah menjadi seperti kapal pecah, lama-lama saya merasa sangat letih. Ya, memang, pelan-pelan menjauhi altar nampaknya merupakan pilihan yang cukup menggiurkan bagi ibu muda yang sedang mencoba untuk menjadi persembahan yang hidup!
Pada awal-awal pernikahan kami, ketika Stuart, suami saya, sering tidak ada di rumah karena harus melakukan pelayanan, saya masih dapat dengan jelas mengingat bagaimana saya harus memandikan dan menyiapkan ketiga anak saya yang masih balita untuk tidur. Lalu saya mulai mengosongkan ruang tamu kami, dengan menumpuk segala perabotan di garasi agar terdapat cukup tempat bagi beberapa baris kursi-kursi di ruang tamu. Setelah pengasuh anak yang saya pesan tiba di rumah dan menolong saya untuk memindahkan perabotan yang agak besar ke luar dari ruang tamu, saya kemudian pergi berkeliling dengan mengendarai mobil mini van ke sekitar tetangga-tetangga kami, menjemput sebanyak mungkin wanita-wanita yang dapat saya bujuki agar mereka sudi datang ke rumah kami untuk ikut Pemahaman Alkitab. Kadang kala saya hanya dapat mengajak dua wanita. “Kamu capai-capai melakukan semua ini hanya untuk dua wanita?” saya bertanya pada diri sendiri. Ya, karena saya tidak pernah tahu berapa banyak wanita yang akan hadir; kadangkala ruang tamu kami yang kecil dipenuhi oleh duapuluh lima wanita yang ingin belajar tentang Kristus. Kemudian setelah Pemahaman Alkitab selesai, saya harus mengantar mereka pulang satu per satu, dan baru dapat tiba kembali ke rumah sekitar jam dua belas malam untuk mengembalikan barang-barang yang ada di garasi kembali ke ruang tamu, dan setelah itu membersihkan dapur. Setelah semuanya selesai, barulah saya dapat membaringkan tubuh di tempat tidur, dan berdoa agar anak-anak saya akan tidur paling tidak sampai jam 6 pagi besok! Rasanya pertemuan mingguan itu datang begitu cepat, dan saya belajar untuk menjadi “persembahan yang hidup”, yaitu mempersembahkan bukan saja tekad (untuk mempersiapkan pelajaran) dan sikap yang terbuka (untuk mengatakan dan melakukan apa yang saya ajarkan), tetapi juga mempersembahkan pelayanan secara fisik kepada Allah yang saya kasihi karena Dia telebih dahulu mengasihi saya!
Untuk “mempersembahkan tubuh saya” berarti tubuh sayalah yang saya persembahkan, bukan tubuh orang lain. Belum lama ini, saya mendengar adik teman saya berkata kepadanya, “Rasanya kamu harus mengurusi ibu setelah ibu pulang dari rumah sakit.” Itu namanya mempersembahkan tubuh orang lain, bukan tubuhmu sendiri!
Pernahkah anda memperhatikan bahwa setelah kita mengaku percaya kepada Yesus Kristus dan berani untuk mengatakan hal itu kepada orang lain, rasanya orang-orang suka memperalat/mengambil keuntungan dari kita? Karena kita dikenal sebagai orang yang “saleh”, kita tiba-tiba harus sukarela melakukan hal-hal yang orang lain tidak ingin melakukannya. Pasti akan ada pengorbanan yang mereka minta untuk kita lakukan. Tetapi kita juga harus tahu bahwa pengorbanan yang kita harus lakukan adalah pengorbanan bagi altar yang telah dibangun oleh Tuhan khusus untuk kita. Kalau tidak, kita akhirnya akan menjadi tumpukan kayu api orang lain, sehingga menghalangi mereka untuk mendapatkan sukacita karena melayani Yesus!
Hal lain yang harus kita perhatikan dalam ayat Roma 12:1 adalah, kita harus mempersembahkan kepada Allah tubuh yang “suci” atau “terpisah dari dosa”. Tubuh inilah yang berkenan kepada Allah. Tentu saja kita tidak mempersembahkan tubuh kepada Allah agar kita memperoleh keselamatan. Kita mempersembahkan tubuh kita sebagai ucapan syukur karena Dia telah memberikan keselamatan kepada kita! Seperti apa yang diingatkan oleh Paulus, ini adalah persembahan kita yang sejati. Beribadah dan menyenangkan hati Allah adalah sesuatu yang setidak-tidaknya dapat saya lakukan untuk apa yang telah Dia lakukan bagi saya.
Bagaimana cara kita mempersembahkan tubuh kita kepada Allah? Dan kemana saya mempersembahkannya? Apakah tubuh kita harus dibawa ke gereja, ditanam di kursi gereja dan ditinggal di sana? Apa arti “mempersembahkan tubuh” yang sebenarnya?
Mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang suci dan secara terus menerus adalah ibadah yang sejati. Secara terus menerus berarti, ibadah yang sejati dapat terjadi baik di dalam maupun di luar gedung gereja. Dengan kata lain, hal-hal seperti pekerjaan – apakah itu sekuler atau pun bukan – dapat menjadi suatu ibadah yang sejati. Ibadah yang sejati juga dapat melibatkan kegiatan secara fisik, karena kehidupan orang Kristen bukanlah kehidupan yang terisolir. Sudah pasti kita perlu memasukkan pikiran serta keinginan kita dalam ibadah yang sejati. Kita juga perlu memasukkan emosi/perasaan kita. Tetapi pada akhirnya, tubuh kitalah yang menjadi agen dari pelayanan kerohanian kita.
Nasihat untuk mempersembahkan tubuh kita bukanlah untuk orang-orang seperti Paulus saja. Paulus berkata, “Aku menasihatkan kamu” – kamu artinya orang-orang yang biasa, orang Kristen jaman ini, orang seperti kamu dan saya.
Suatu pagi saat saya mengajarkan bagian ini untuk Pemahaman Alkitab, kami membutuhkan beberapa pengasuh anak (sehingga ibu-ibu dapat ikut PA tanpa diganggu anak-anak, ed.). Sayangnya, tidak ada yang mau bertugas sebagai pengasuh anak. Tidak lama kemudian saya mendengar dua wanita sedang berbicara.
“Saya sangat menyukai anak-anak,” kata wanita yang pertama dengan semangat.
Wanita yang kedua berkata sambil memamerkan foto-foto cucu-cucunya, “Saya juga!”
“Kalau begitu boleh saya minta agar kalian mempersembahkan tubuh kalian sebagai persembahan yang hidup di ruang tunggu anak,” saya menyela dengan senyum yang lebar. “Mereka sangat membutuhkan pertolongan di sana!” Langsung mereka mengerti. Memang, belum tentu orang yang mengetahui teologia dapat mempraktekkannya.
Sebelas pasal yang pertama dalam kitab Roma, Paulus menjelaskan “belas kasihan Allah.” Tetapi pada permulaan pasal ke 12, dia menggunakan kata sambung karena itu, yang menekankan kembali bahwa belas kasihan Allah seharusnya menjadi tujuan dari ibadah kita. Jika kita tidak pernah belajar bahwa ada harga yang harus dibayar untuk menjadi orang Kristen, maka kita mungkin tidak akan pernah secara penuh menikmati sukacita dalam melayani Allah. Jika dasar dari keKristenan kita bukanlah kasih sebagai ucapan syukur, langkah iman kita akan menjadi pengalaman yang sangat buruk. “Karena itu,” kata Paulus, “saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna” (Roma 12:1-2).
Bahan PA:
1. Kata karena itu dalam Roma 12:1 mengatakan kepada kita bahwa penulisnya, yaitu Paulus, sedang melakukan transisi, dan bahwa apa yang akan dikatakannya secara logis berhubungan dengan apa yang baru saja dia katakan. Bacalah pasal 11 dan jawablah pertanyaan ini: Dengan mengingat pernyataan Paulus – “Karena itu… demi kemurahan Allah” – alasan-alasan apa yang diberikan Paulus di pasal sebelum pasal 11 untuk apa yang akan dikatakan dalam pasal 11?
2. Dengan cara apa saja Allah menunjukkan kemurahan-Nya di dalam kehidupan anda?
3. Sebelum Paulus menasihati para pembacanya untuk bertindak (“mempersembahkan tubuhmu”), dia mengingatkan mereka kenapa mereka harus mematuhi permintaannya (“kemurahan Allah”). Sebagai orang Kristen, apa yang seharusnya menjadi motivasi kita untuk mematuhi perintah-perintah Allah?
4. Manusia mematuhi Allah karena berbagai alasan, di mana beberapa di antaranya adalah tidak benar. Cobalah mengingat-ingat kejadian di masa lalu di mana anda patuh karena alasan yang salah. Hal-hal apa saja yang menyebabkan anda ingin menjadi patuh?
5. Setelah mengetahui apa yang seharusnya menjadi motivasi kita sebagai orang Kristen, bagaimana anda akan meresponi pimpinan Allah pada minggu ini?
6. Jelaskan suasana hati serta kekuatan di belakang kata-kata Paulus dalam Roma 12:1-2.
7. Menurut Roma 12:1, apa syarat penyembahan orang Kristen yang sejati? Apa lagi yang dapat ditambahkan oleh Yohanes 4:23-24 kepada pengertian kita tentang penyembahan yang sejati?
Diterjemahkan dari buku “Body Language”.
===000===
MENGEMBANGKAN HUBUNGAN YANG POSITIF DENGAN ISTERI-ISTERI STAF LAINNYA
Oleh Nancy Pannell
Membangun dan menjaga hubungan staf yang baik tidaklah selalu mudah. Semakin besar jumlah staf, semakin banyak jenis kepribadian yang kita harus hadapi. Seringkali di pertemuan isteri staf saya mendengar keluhan: “Saya butuh nasihat. Bagaimana cara mengatasi masalah yang sulit dengan seorang isteri staf lainnya?” Atau, saya mendengar, “Banyak sekali perlakuan yang tidak adil di antara para staf di gereja kami. Suami saya merasa tawar hati dan tidak dihargai. Bagaimana cara menolong dia untuk mengatasi hal ini?”
Banyak isteri staf (dan juga suaminya) berperasaan negatif. Seseorang mungkin mulai merasa kesal ketika melihat staf lain mendapat gaji lebih besar, fasilitas yang lebih baik, dst. Karena kita hanyalah manusia biasa, kita harus menghadapi perasaan iri hati, ingin bersaing, dan ya, bahkan kecemburuan dari waktu ke waktu.
Bagaimana Cara Mengatasi Perasaan yang Negatif?
Ada tiga pilihan. Kita dapat membiarkan perasaan negatif tersebut berkembang sehingga kasus menjadi membesar yang mengakibatkan timbulnya rasa sakit hati (kita dapat mengakibatkan perpecahan yang serius dengan melontarkan kritik terhadap sesama anggota staf lainnya dan dengan mencoba mencari “pengikut” kita sendiri). Atau, kita dapat memendam perasaan-perasaan negatif tersebut, menipu diri sendiri, dan bertanya-tanya kenapa hidup kita sangat tidak bahagia. Atau, kita dapat menghadapinya dengan jujur dan dengan etika yang benar.
Menghadapi perasaan-perasaan negatif ini berarti mengakui masalah kita secara jujur di hadapan Allah, apakah itu iri hati, kecemburuan, penolakan, sakit hati, atau kemarahan. Mulailah dengan sikap yang jujur terhadap diri sendiri dan terhadap Tuhan. Anda dapat mengatakan kepada-Nya masalah yang sebenarnya dan perasaan anda. Dia sebenarnya sudah tahu semuanya. Doakanlah keadaan yang sulit ini dan doakan orang yang bermasalah dengan anda. Minta kepada Tuhan untuk menunjukkan anda di mana kesalahan anda – mungkin anda seharusnya bisa bersikap lebih pengertian atau lebih sadar terhadap kebutuhan orang lain. Mungkin anda memang hanya cemburu belaka karena anda ingin kekuasaan yang lebih banyak atau ingin lebih dihargai.
Menghadapi perasaan-perasaan negatif dengan etika yang benar berarti tidak membicarakan tentang kejelekan seorang staf kepada staf lainnya. Jika oleh karena suatu hal, yaitu dalam kasus yang sangat jarang terjadi, anda yakin seorang staf melakukan perbuatan immoral atau tidak beretika baik, atau jika ada perbedaan pendapat yang cukup serius, anda harus pergi ke orang tersebut untuk membicarakan masalah tersebut. Jangan membicarakannya dengan staf lainnya. Jika anda ada masalah dengan seorang staf atau isterinya, pergilah kepada dia (sebaiknya ada orang ketiga yang obyektif yang ikut hadir) dan dengan sikap yang penuh doa, terbuka, dan mau memaafkan, bicarakan masalah yang ada. Inilah cara yang Alkitabiah, dan ini cara satu-satunya yang menuju ke hubungan yang harmonis. Jangan terbawa arus untuk masuk ke dalam percakapan yang sifatnya mengkritik mitra kerja. Menyerang mitra kerja bukan hanya tidak profesional, tetapi juga bukan sifat seorang Kristen. Rasul Paulus dengan jelas menyatakan hal ini dalam Efesus 4:32: “Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.”
Jika anda adalah isteri seorang staf yang sulit untuk mengasihi sesama isteri staf lainnya, ingatlah bahwa dia juga hanya manusia biasa. Kalau anda bersikap kritis dan cemburuan, jangan harap dia dapat bersikap seperti teman baik anda!
Tetapi Bagaimana Jika Setelah Anda Mencoba Segala Cara Untuk Berteman dengan Isteri Staf Lainnya, Anda Tetap Ditolak?
Satu-satunya formula yang sukses yang saya tahu adalah tetap mendoakan orang tersebut! (Rasanya sudah pernah dengar, ya?) Saya yakin Allah akan mengubah hubungan anda atau menunjukkan anda bagaimana menghadapi hubungan ini dengan kasih. Allah mungkin akan menggerakkan salah satu dari kalian!
Retret staf yang melibatkan para isteri adalah cara yang baik sekali untuk menumbuhkan hubungan antar staf yang positif. Mengundang pada isteri staf untuk berkumpul untuk acara ulang tahun atau acara khusus lainnya juga akan menolong mereka untuk lebih saling mengenal.
Persahabatan yang dekat seringkali bertumbuh di antara para isteri staf. Karena mereka memiliki masalah yang sama, mereka dapat saling mendorong. Saya banyak dipengaruhi oleh isteri staf lainnya, yang tidak hanya menjadi teman saya, tetapi juga menjadi contoh bagi saya dalam hal cara hidup mereka yang penuh keramahan dan kemuliaan dan rasa humor yang tinggi.
Tetapi, para isteri staf tidak diharuskan menjadi teman baik satu terhadap lainnya, terutama jika minat, pekerjaan, dan umur mereka berbeda. Para isteri staf masih tetap dapat berkumpul bersama untuk acara-acara tertentu dan tetap dapat saling mendorong/menolong.
Pernahkah Saya Mengalami Hubungan Yang Retak Dengan Isteri Staf Lainnya?
Tentu saja! Saya akan ceritakan hubungan saya dengan LaVon.
LaVon adalah seorang isteri pendeta yang sangat cantik dan berbakat. Kami menjadi teman baik. Suatu hari Minggu ketika beberapa keluarga sedang berkumpul untuk makan malam bersama, LaVon dan saya tiba-tiba berargumentasi dengan hebatnya. Yang menarik, saya tidak ingat lagi apa yang menjadi penyebab pertengkaran kami. Saya hanya ingat betapa tidak enaknya perasaan saya. Malam itu ketika berada di gereja, kami masing-masing saling menghindar. Tentu saja, saya menjadi ingin membela diri dan meyakinkan diri bahwa dialah yang salah mengerti.
Jadi, saya mulai berdoa. Ketika saya berdoa, air mata saya mulai bercucuran. “Tuhan,” saya memohon, “tolonglah agar persahabatan saya dengan LaVon dipulihkan kembali. Saya tidak tahan jika persahabatan ini menjadi hancur.”
Allah tidak harus berbicara dengan keras supaya saya dapat mengerti apa yang Ia hendak katakan. Engkau sudah tahu apa yang engkau harus lakukan. Engkau harus datang ke LaVon dan meminta maaf.
“Tapi Tuhan, sulit sekali kalau saya yang harus minta maaf padanya!”
Hati saya semakin tertusuk. Akhirnya saya tidak tahan lagi. “Baiklah, Tuhan, kalau Engkau akan menyertai saya dan menunjukkan jalan, saya akan pergi malam ini.”
Saya mampir sebentar ke rumah untuk mengecek anak-anak dan beritahu mereka ke mana saya akan pergi. Ketika saya sedang bersiap-siap untuk pergi kembali, pintu bel rumah berbunyi.
LaVon sudah berdiri di depan pintu rumah saya! Dia yang datang ke rumah saya! Kami langsung berpelukan, tertawa dan menangis bersama, dan kami saling mengucapkan kata kasih dan minta maaf. Malam itu menjadi malam yang tidak terlupakan buat saya. Betapa berharganya pengalaman ini!
Tuhan kita memang senang menolong membangun kembali hubungan yang rusak jika kita menyerahkan diri dan hubungan tersebut kepada-Nya. Dan jika Dia mengembalikan hubungan tersebut menjadi baik, Dia akan melakukannya dengan baik sekali!
Saya tidak bermaksud untuk menyatakan bahwa mudah sekali untuk mencegah atau memecahkan masalah yang serius dalam hubungan antar staf.
Tetapi banyak Firman Tuhan yang dapat diaplikasikan untuk hubungan antar staf. Ayat-ayat pertama yang saya ingat adalah Filipi 2:3-7. “Dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingan sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.”
Kalimat, “mengambil rupa seorang hamba,” telah mengatakan segalanya. Ini berarti adanya pemikiran mau melayani, bukannya ingin dilayani, mau mengalah, bukannya menuntut agar keinginannya sendiri yang dituruti.
Berhubungan dengan orang lain dengan kasih Kristiani selalu banyak tantangan. Di luar hubungan keluarga, yang paling banyak tantangan adalah hubungan kerja. Tentu saja, ketika kita bekerja dengan seseorang dari hari ke hari, kita menjadi sadar akan kelemahan dan kekuatan orang tersebut. Umumnya, kita dapat menerima kebiasaan kecil yang menjengkelkan, sikap eksentrik dan suasana hati yang berubah-ubah dari anggota keluarga kita, tapi kita cenderung untuk kurang dapat menerima sifat mereka yang bekerja bersama kita.
Hubungan dengan para isteri staf memberikan saya beberapa kebahagiaan yang terbesar dalam pelayanan. Kalau bukan karena isteri-isteri para staf yang bijaksana, lebih dewasa rohaninya yang dengan kasih dan penuh kesabaran memberikan dorongan dan meneguhkan saya, saya mungkin sudah gagal dan tambah putus asa. Kadangkala, sesama isteri staf lainnya juga menolong membentuk saya.
Untung sekali semua isteri staf bukan hanya manusia biasa, tetapi juga secara luar biasa berbeda satu terhadap yang lainnya. Luar biasa ya, mereka memiliki bakat dan kerpibadian yang berbeda-beda? Tidak semua bisa menyanyi solo, tidak semua bisa main piano, tidak semua bisa mengajar, tidak semua bisa masak pastel tutup, tidak semua ibu rumah tangga yang sempurna (saya lontarkan ini karena saya termasuk dalam bagian yang ini), dan tidak semua setuju dengan saya!
Diterjemahkan dari artikel “Developing Positive Relationships with Other Staff Wives”, majalah Just Between Us, Edisi Summer 1996, hal.14-15,18.
===000===
Kata-Kata Mutiara
“Jangan takut untuk mengasihi sesama sampai perlu berkorban, sampai sakit rasanya. Kasih Yesus bagi kita membawa Dia ke kematian-Nya.” – Ibu Theresa
“Seni untuk melayani orang lain adalah menyerahkan segala kebutuhan anda kepada Allah sehingga anda bebas untuk melayani orang lain.” – Ron DiCianni
“Panggilan setiap orang adalah untuk melayani orang lain.” – Leo Tostoy
“Jangan menganggap anda sudah mengalami kemajuan dalam perjalanan rohani anda, kecuali jika anda menganggap dirimu paling rendah dari antara semua manusia.” –Thomas A Kempis
“Barangsiapa hendak menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barang-siapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang,” –Matius 20:26-28
Oleh Ingrid Lawrenz MSW
Mata Betsy terasa perih karena air mata, dan dadanya seperti tertusuk pisau. Ada seorang wanita lagi di kelompok PA-nya yang baru saja mengumumkan bahwa dia sedang hamil. Betsy memarahi dirinya, “Aku seharusnya turut senang. Iri hati adalah dosa. Saya seperti anak kecil jika menangis. Saya harus beriman – Allah akan memberikan saya seorang anak pada waktu-Nya.” Betsy memutuskan untuk bahkan tidak memberitahu suaminya tentang kabar kehamilan temannya, kuatir jangan-jangan suaminya nanti bisa membaca ada sesuatu yang tidak benar dari nada suaranya yang kemudian membuatnya cemberut. Mukanya terasa panas waktu teringat bagaimana Tim tidak bersedia untuk pergi ke dokter. Dia terlalu gengsi. Betsy boleh pergi ke spesialis kandungan, sepanjang hal itu tidak melibatkan suaminya. Sudah dua tahun dia tidak membicarakan hal ini lagi dengannya. Dia mengingatkan dirinya sendiri bahwa hal ini hanya akan menimbulkan konflik. Dia tidak ingin menambah beban pada suaminya yang sudah cukup stres dengan para jemaatnya. Waktu matanya mengarah ke bawah, dia baru sadar bahwa dia baru saja menghabiskan sepiring penuh kue kering yang ada di depannya.
Betsy telah menggunakan seluruh mekanisme bela dirinya dan strategi menyalahkan diri sendiri untuk melepaskan diri dari perasaan-perasaannya. Dia menganggap perasaan-perasaannya, terutama yang negatif, tidak berguna, tidak dewasa, hanyalah hawa nafsu yang harus dikuasai dan dimusnahkan. Betsy, seperti kebanyakan orang, merasa bertanggung jawab karena membebani orang lain dengan perasaan-perasaannya dan menghindari topik-topik yang mungkin akan membangkitkan perasaan dalam orang lain.
Apakah perasaan itu tidak penting, tidak berguna dan hanya menyusahkan manusia? Apakah perasaan itu sesuatu yang harus kita musnahkan, seperti halnya kuman-kuman, polusi, atau kotoran? Apakah perasaan hanya akan menimbulkan masalah? Tetapi kita tahu bahwa Yesus sebagai manusia yang sempurna juga memiliki perasaan. Dia memiliki perasaan sukacita dan kesedihan, kemarahan dan kasih sayang. Allah Bapa memiliki perasaan murka dan belas kasihan.
Saya percaya bahwa perasaan paling baik dimengerti sebagai tanda/sinyal yang internal. Perasaan sebenarnya adalah reaksi – terhadap pemikiran, sensasi atau kejadian. Perasaan itu sama seperti sinyal sebuah mobil, seperti tanda lampu sen berupa arah panah berwarna hijau untuk berbelok, tanda matahari berwarna biru untuk lampu depan yang terang, dan tanda lampu mesin berwarna merah untuk mesin yang terlalu panas. Sinyal-sinyal ini memberikan informasi yang berguna bagi kendaraan-kendaraan lain agar mereka dapat terus membuat keputusan yang baik.
Namun demikian, kadangkala mobil yang dirancang oleh manusia dan tubuh manusia dapat juga mengirimkan sinyal-sinyal yang salah – meteran bensin bisa menunjukkan bensin masih penuh walaupun tankinya sudah kosong, atau lampu tanda mesin berwarna merah yang menyala terus karena korslet. Si pengemudi harus memutuskan apa yang harus dilakukannya sewaktu menghadapi sinyal-sinyal serta situasi yang demikian. Kita dapat dipenuhi oleh rasa takut sewaktu ada serangan kegelisahan (anxiety attack) walaupun padahal tidak ada bahaya apa pun, atau merasa malu yang luar biasa jika di hari pernikahan anak kita turun hujan yang deras. PMS (pre menstrual syndrome atau gejala-gejala stres sebelum wanita haid, ed.) bahkan dapat membuat kita uring-uringan hanya karena kehilangan sebuah kunci! Emosi-emosi yang keluar tanpa disengaja ini harus dikuasai oleh pikiran kita serta dengan mengetahui mana emosi yang nyata dan sesungguhnya.
Namun demikian, kebanyakan perasaan kita bekerja sebagaimana mestinya dan memberikan kita petunjuk-petunjuk yang bermanfaat dan realistis yang dapat kita gunakan sebagai sumber yang penting di dalam kehidupan kita sehari-hari.
Allah memberikan kita emosi-emosi ini sebagai alat untuk menolong kita menghadapi kehidupan. Emosi-emosi tersebut mendorong kita untuk bertindak dengan sepantasnya. Perasaan malu dapat membawa kita kepada pertobatan, perasaan marah dapat mendorong kita untuk membela keadilan. Perasaan pilu dan sedih akan menolong kita untuk mengerem diri sehingga kita dapat mengatasi rasa kehilangan di dalam diri kita. Berbagi perasaan dengan orang lain dapat membawa kita kepada hubungan yang intim. Menerima dan mendengarkan perasaan seseorang dapat membantu kita untuk mengetahui orang tersebut dan menciptakan ikatan yang empatik. Inilah inti dari keintiman. Kita tidak perlu merasa harus dapat memecahkan persoalan mereka, juga tidak selalu perlu merasa bersalah karena menimbulkan perasaan tertentu pada orang lain. Dengan mendengar dan bersedia untuk mengerti saja sudah menunjukkan kasih. Hubungan yang intim dengan orang lain tidak perlu menjadi beban secara emosional. Juga penting sekali untuk membuat batasan-batasan sehingga kita tidak merasa jenuh dalam pelayanan.
Setiap orang memiliki perasaan-perasaan yang dialami secara terus menerus, baik perasaan yang sangat mendalam maupun yang kadangkala hampir tidak terasa. Setiap orang berbeda-beda di dalam mengatasi perasaan-perasaan tersebut. Perasaan sama halnya seperti cuaca. Tidak pernah ada hari lewat tanpa cuaca. Kadangkala cuaca begitu jelas akan menunjukkan bahwa hari ini akan cerah dan panas, tetapi kadangkala muncul cuaca yang mendung yang tidak menentu. Namun demikian, trauma yang ekstrim dapat mematirasakan perasaan secara total, seperti yang dapat kita lihat pada wajah-wajah para korban peperangan yang berpandangan kosong di TV. Dengan anugerah Allah kita dapat mematikan perasaan kita jika penderitaan yang kita alami terlalu berat, seperti sekering yang korslet.
Sebagai seorang konselor, saya mendorong orang-orang untuk melatih berperasaan yang sehat. Belajarlah bagaimana mengenali perasaan-perasaanmu. Terimalah perasaan-perasaan yang kurang enak, tulislah dalam buku harian perasaan-perasaan yang membingungkan. Mengeluarkan unek-unek melalui penulisan dalam buku harian adalah kebiasaan yang baik. Saya sungguh menyukai pepatah Swedia, “Berbagi penderitaan dapat menjadikannya berkurang separuh, tetapi berbagi sukacita dapat menjadikannya berlipat ganda.” Kita dapat menulis buku harian dalam bentuk doa untuk memproses perasaan kita dengan Allah.
Emosi-emosi adalah seperti energi yang bergerak secara dinamis, yang seharusnya akan muncul dan kemudian pergi lagi. Jadi, berbahaya jika kita macet pada satu emosi saja. Perasaan marah yang disimpan terus dapat membawa kita kepada kepahitan yang mengubah kepribadian kita. Kepedihan hati yang tidak diproses dengan benar akan membawa kita kepada depresi. Banyak orang mengalami kesulitan karena mereka menekan, menghindari, atau mengenyampingkan perasaan-perasaan mereka, dan sebagai gantinya mereka memilih untuk bekerja lebih keras lagi, makan lebih banyak lagi, minum-minum, pergi berbelanja atau berjudi. Ada juga yang mulai mengalami berbagai macam keluhan atau ketidakberesan pada tubuhnya, sebagai akibat dari stres yang dibebani ke tubuh mereka dengan ditekannya perasaan-perasaan mereka. Perasaan-perasaan yang tertahan kemudian akan mengakibatkan timbulnya benteng-benteng pemisah dengan orang lain. Emosi-emosi yang dikubur lebih berbahaya bagi kehidupan kita daripada membiarkan emosi itu untuk keluar dan ditangani. Sekop dapat digunakan untuk memusnahkan kebun atau menanam tanaman-tanaman yang indah.
Saya bersyukur kepada Allah karena kita diberikan emosi-emosi sehingga hidup kita dapat menjadi lebih penuh dan lebih berarti. Emosi hanyalah sekedar alat atau sinyal untuk menolong kita untuk mengerti, menyesuaikan diri, menghadapi, atau mengubah, pada saat kita mengarungi tantangan-tantangan kehidupan.
Sinyal yang diberikan oleh perasaan dasar kita:
Senang: Hore! Ini sungguh baik. Saya ingin terus dalam keadaan seperti ini.
Takut: Bahaya! Saya perlu mengambil tindakan hati-hati dan dalam keadaan awas. Berjuang atau lari!
Sakit hati: Saya dilukai. Saya perlu berhenti atau mundur diri.
Malu: Saya telah melakukan hal yang tidak benar. Saya ingin bersembunyi. Hubungan saya terputus. (Malu dapat diatasi dengan pertobatan, berhubungan kembali dengan orang lain atau berhubungan kembali dengan kebenaran).
Marah: Ada yang tidak benar! Ada yang harus diubah. Tubuh saya menjadi tegang dan siap untuk bertindak. (Marah dapat diatasi dengan mengubah keadaan atau dengan mengubah perasaan serta harapan kita sendiri).
Sedih: Saya kehilangan sesuatu. Tubuh saya melambatkan diri untuk menyesuaikan diri.
Kaget: Saya sungguh tidak mengharapkan kejadian ini! Berhentilah agar saya dapat menyesuaikan diri.
===000===
BAHASA TUBUH
BAB 1 - MEMPERSEMBAHKAN TUBUH KITA
Oleh Jill Briscoe
“Kita hanya menggunakan sekitar duapuluh lima menit per hari untuk kata-kata yang kita ucapkan dalam pembicaraan kita. Sisanya, kita berkomunikasi dengan melambaikan tangan, menyeringai, menggerutu, mengerutkan dahi, mengangkat bahu, atau menulis memo yang panjang.” Dengan kata lain, ada banyak cara lainnya untuk memberitahu suami bahwa kita sedang marah kepadanya selain hanya berteriak-teriak kepadanya. Cobalah membungkam diri, memberi pandangan yang seolah-olah akan menikam suami, atau mencibirkan bibir – pasti dia langsung tahu! Atau pernahkah saudara melihat bagaimana reaksi anak-anak SMP saat khotbah sang pendeta terlalu lama? Dengan sikap duduk agak merosot, atau tangan menopang kepala, bahasa tubuhnya dengan jelas mengatakan, “Saya sudah bosan.” Tetapi, tubuh kita juga dapat mengkomunikasikan pesan-pesan yang baik. Pertanyaannya adalah, pesan apa yang tubuh kita katakan?
Dalam Roma 12:1, Rasul Paulus mengatakan, “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” Jika kita mempersembahkan tubuh kita kepada Tuhan, Dia dapat menggunakannya sebagai alat-Nya di dunia untuk tindakan-tindakan ilahi-Nya. Dan kenapa kita harus mempersembahkan tubuh kita? Paulus memberikan kita alasannya – yaitu karena “kemurahan Allah” (Rom.12:1). Karena kemurahan Allah maka Yesus mempersembahkan Tubuh-Nya, seperti Yohanes 3:16 mengingatkan kita: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal….” Yesus mati di kayu salib sebagai persembahan yang hidup bagi manusia yang berdosa, sehingga kita dapat masuk ke surga. Betapa besar kemurahan Allah! Tutuplah mata saudara untuk sesaat dan cobalah untuk membayangkan kayu salib. Apa yang saudara lihat? Yesus… dengan tangan-Nya yang terlentang untuk menyelamatkan kita, mengatakan, “Aku mengasihimu.” Itulah yang namanya bahasa tubuh! Melalui tubuh-Nya, Yesus menyatakan kasih-Nya yang menyelamatkan, dengan sedalam-dalamnya.
Jika melihat kemurahan-Nya sehingga Dia rela mati bagi kita, paling tidak yang kita dapat lakukan adalah mempersembahkan tubuh kita kembali kepada-Nya. C.T. Studd, seorang misionaris pelopor terkenal mengatakan, “Jika Yesus Kristus adalah Allah dan mati bagiku, maka tidak ada pengorbanan yang terlalu besar bagiku untuk dapat membalas kasih-Nya!” C.T. Studd mengerti arti Roma 12:1.
Dilahirkan di keluarga yang kaya raya, ayah C.T. pergi ke India untuk berkebun teh, dan kemudian kembali ke Inggris untuk menikmati hasil kerja kerasnya. Tidak lama kemudian, D.L. Moody datang ke Inggris, dan ayah C.T. pergi ke pertemuan yang dipimpin oleh tuan Moody, lalu mendengarkan khotbahnya, dan menyerahkan hidupnya kepada Tuhan. Setelah ayahnya meninggal dunia, C.T. mewarisi harta kekayaan yang besar sekali. Dia belajar di universitas di Cambridge dan bermain bola kriket untuk Inggris. Tetapi kemudian dia meninggalkan semuanya ini untuk membawa Injil kepada orang-orang yang belum pernah mendengarnya – pertama-tama ke Cina, kemudian ke India, dan akhirnya ke Afrika. Amatilah bahasa tubuhnya. Tangannya menulis cek-cek yang mengalihkan harta kekayaannya yang begitu besar kepada badan-badan sosial. Kakinya membawa dia ke tiga benua untuk Kristus. Tubuh-nya, terkoyak-koyak karena sakit (tubuhnya dijuluki musium penyakit), penuh dengan tanda-tanda milik Tuhannya. Tubuh – menurut suami saya – adalah “Suatu sarana di dunia ini di mana wujud roh dapat pergi berkeliling di lingkungan ragawi.” Hal inilah yang dilakukan oleh tubuh C.T!
Kita juga melihat prinsip bahasa tubuh yang terdapat dalam kehidupan Rasul Paulus. Dalam KPR 8-9, kita melihat bahwa Paulus menganiaya orang-orang Kristen. Mulutnya menghembuskan ancaman ancaman untuk membunuh (KPR 9:1). Kakinya mengejar orang-orang Kristen sehingga mereka harus bersembunyi (KPR 8:1). Dan tangannya menyeret orang-orang yang mengasihi Tuhan ke penjara (KPR 9:2). Tetapi Saulus, namanya pada saat itu, bertobat di tengah perjalanannya menuju Damsyik. Langsung bahasa tubuhnya berubah. Kakinya membawa dia ke sinagoge. Mulutnya mulai mengabarkan kabar baik tentang Yesus Kristus. Pada akhir perjalanan hidupnya, Paulus mampu mengatakan, “Selanjutnya janganlah ada orang yang menyusahkan aku, karena pada tubuhku ada tanda-tanda milik Yesus.” Paulus punya banyak cara untuk memberitahu orang-orang bahwa dia mengasihi mereka karena Kristus!
Jadi, apa sih arti tubuh yang akan kita persembahkan ini? Pertama-tama, tubuh adalah wujud ragawi. Paulus sangat menghargai tubuh. Tetapi, orang-orang Yunani berpikir tubuh itu sendiri adalah jahat karena tubuh melakukan perbuatan-perbuatan yang jahat. Hal ini tentu saja berlawanan dengan Alkitab. Sejak semula tubuh merupakan bagian yang integral dari manusia. Allah menghargai tubuh melalui penciptaan, memuliakan tubuh melalui inkarnasi, dan menyucikan tubuh melalui pekerjaan Roh Kudus-Nya. Walaupun “bait” tubuh kita tercemar karena dosa, melalui keselamatan tubuh kita berubah. Tubuh bukanlah wujud yang jahat. Tubuh sedang menunggu untuk dipulihkan secara utuh pada saat kebangkitan (1 Kor. 15).
Roma 12:1 juga mengingatkan kita bahwa kita harus secara terus menerus mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan. Pasti ada harga yang harus dibayar untuk itu. Kata persembahan itu sendiri sudah mensyaratkannya terlebih dahulu. Secara pribadi, masalah yang saya hadapi untuk memberikan “persembahan yang hidup” adalah karena saya terus pelan-pelan menjauhi altar! Ketika harus bangun pagi-pagi untuk membersihkan rumah sehingga dapat mengadakan Pemahaman Alkitab bagi para tetangga, saya merasa hal itu lama-lama terasa sangat membebani jika harus melakukannya setiap minggu. Mula-mula nampaknya hal ini begitu menarik dan membuat saya merasa senang karena dapat melakukannya. Tetapi dengan adanya tiga anak yang masih balita yang sudah pasti akan membuat rumah menjadi seperti kapal pecah, lama-lama saya merasa sangat letih. Ya, memang, pelan-pelan menjauhi altar nampaknya merupakan pilihan yang cukup menggiurkan bagi ibu muda yang sedang mencoba untuk menjadi persembahan yang hidup!
Pada awal-awal pernikahan kami, ketika Stuart, suami saya, sering tidak ada di rumah karena harus melakukan pelayanan, saya masih dapat dengan jelas mengingat bagaimana saya harus memandikan dan menyiapkan ketiga anak saya yang masih balita untuk tidur. Lalu saya mulai mengosongkan ruang tamu kami, dengan menumpuk segala perabotan di garasi agar terdapat cukup tempat bagi beberapa baris kursi-kursi di ruang tamu. Setelah pengasuh anak yang saya pesan tiba di rumah dan menolong saya untuk memindahkan perabotan yang agak besar ke luar dari ruang tamu, saya kemudian pergi berkeliling dengan mengendarai mobil mini van ke sekitar tetangga-tetangga kami, menjemput sebanyak mungkin wanita-wanita yang dapat saya bujuki agar mereka sudi datang ke rumah kami untuk ikut Pemahaman Alkitab. Kadang kala saya hanya dapat mengajak dua wanita. “Kamu capai-capai melakukan semua ini hanya untuk dua wanita?” saya bertanya pada diri sendiri. Ya, karena saya tidak pernah tahu berapa banyak wanita yang akan hadir; kadangkala ruang tamu kami yang kecil dipenuhi oleh duapuluh lima wanita yang ingin belajar tentang Kristus. Kemudian setelah Pemahaman Alkitab selesai, saya harus mengantar mereka pulang satu per satu, dan baru dapat tiba kembali ke rumah sekitar jam dua belas malam untuk mengembalikan barang-barang yang ada di garasi kembali ke ruang tamu, dan setelah itu membersihkan dapur. Setelah semuanya selesai, barulah saya dapat membaringkan tubuh di tempat tidur, dan berdoa agar anak-anak saya akan tidur paling tidak sampai jam 6 pagi besok! Rasanya pertemuan mingguan itu datang begitu cepat, dan saya belajar untuk menjadi “persembahan yang hidup”, yaitu mempersembahkan bukan saja tekad (untuk mempersiapkan pelajaran) dan sikap yang terbuka (untuk mengatakan dan melakukan apa yang saya ajarkan), tetapi juga mempersembahkan pelayanan secara fisik kepada Allah yang saya kasihi karena Dia telebih dahulu mengasihi saya!
Untuk “mempersembahkan tubuh saya” berarti tubuh sayalah yang saya persembahkan, bukan tubuh orang lain. Belum lama ini, saya mendengar adik teman saya berkata kepadanya, “Rasanya kamu harus mengurusi ibu setelah ibu pulang dari rumah sakit.” Itu namanya mempersembahkan tubuh orang lain, bukan tubuhmu sendiri!
Pernahkah anda memperhatikan bahwa setelah kita mengaku percaya kepada Yesus Kristus dan berani untuk mengatakan hal itu kepada orang lain, rasanya orang-orang suka memperalat/mengambil keuntungan dari kita? Karena kita dikenal sebagai orang yang “saleh”, kita tiba-tiba harus sukarela melakukan hal-hal yang orang lain tidak ingin melakukannya. Pasti akan ada pengorbanan yang mereka minta untuk kita lakukan. Tetapi kita juga harus tahu bahwa pengorbanan yang kita harus lakukan adalah pengorbanan bagi altar yang telah dibangun oleh Tuhan khusus untuk kita. Kalau tidak, kita akhirnya akan menjadi tumpukan kayu api orang lain, sehingga menghalangi mereka untuk mendapatkan sukacita karena melayani Yesus!
Hal lain yang harus kita perhatikan dalam ayat Roma 12:1 adalah, kita harus mempersembahkan kepada Allah tubuh yang “suci” atau “terpisah dari dosa”. Tubuh inilah yang berkenan kepada Allah. Tentu saja kita tidak mempersembahkan tubuh kepada Allah agar kita memperoleh keselamatan. Kita mempersembahkan tubuh kita sebagai ucapan syukur karena Dia telah memberikan keselamatan kepada kita! Seperti apa yang diingatkan oleh Paulus, ini adalah persembahan kita yang sejati. Beribadah dan menyenangkan hati Allah adalah sesuatu yang setidak-tidaknya dapat saya lakukan untuk apa yang telah Dia lakukan bagi saya.
Bagaimana cara kita mempersembahkan tubuh kita kepada Allah? Dan kemana saya mempersembahkannya? Apakah tubuh kita harus dibawa ke gereja, ditanam di kursi gereja dan ditinggal di sana? Apa arti “mempersembahkan tubuh” yang sebenarnya?
Mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang suci dan secara terus menerus adalah ibadah yang sejati. Secara terus menerus berarti, ibadah yang sejati dapat terjadi baik di dalam maupun di luar gedung gereja. Dengan kata lain, hal-hal seperti pekerjaan – apakah itu sekuler atau pun bukan – dapat menjadi suatu ibadah yang sejati. Ibadah yang sejati juga dapat melibatkan kegiatan secara fisik, karena kehidupan orang Kristen bukanlah kehidupan yang terisolir. Sudah pasti kita perlu memasukkan pikiran serta keinginan kita dalam ibadah yang sejati. Kita juga perlu memasukkan emosi/perasaan kita. Tetapi pada akhirnya, tubuh kitalah yang menjadi agen dari pelayanan kerohanian kita.
Nasihat untuk mempersembahkan tubuh kita bukanlah untuk orang-orang seperti Paulus saja. Paulus berkata, “Aku menasihatkan kamu” – kamu artinya orang-orang yang biasa, orang Kristen jaman ini, orang seperti kamu dan saya.
Suatu pagi saat saya mengajarkan bagian ini untuk Pemahaman Alkitab, kami membutuhkan beberapa pengasuh anak (sehingga ibu-ibu dapat ikut PA tanpa diganggu anak-anak, ed.). Sayangnya, tidak ada yang mau bertugas sebagai pengasuh anak. Tidak lama kemudian saya mendengar dua wanita sedang berbicara.
“Saya sangat menyukai anak-anak,” kata wanita yang pertama dengan semangat.
Wanita yang kedua berkata sambil memamerkan foto-foto cucu-cucunya, “Saya juga!”
“Kalau begitu boleh saya minta agar kalian mempersembahkan tubuh kalian sebagai persembahan yang hidup di ruang tunggu anak,” saya menyela dengan senyum yang lebar. “Mereka sangat membutuhkan pertolongan di sana!” Langsung mereka mengerti. Memang, belum tentu orang yang mengetahui teologia dapat mempraktekkannya.
Sebelas pasal yang pertama dalam kitab Roma, Paulus menjelaskan “belas kasihan Allah.” Tetapi pada permulaan pasal ke 12, dia menggunakan kata sambung karena itu, yang menekankan kembali bahwa belas kasihan Allah seharusnya menjadi tujuan dari ibadah kita. Jika kita tidak pernah belajar bahwa ada harga yang harus dibayar untuk menjadi orang Kristen, maka kita mungkin tidak akan pernah secara penuh menikmati sukacita dalam melayani Allah. Jika dasar dari keKristenan kita bukanlah kasih sebagai ucapan syukur, langkah iman kita akan menjadi pengalaman yang sangat buruk. “Karena itu,” kata Paulus, “saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna” (Roma 12:1-2).
Bahan PA:
1. Kata karena itu dalam Roma 12:1 mengatakan kepada kita bahwa penulisnya, yaitu Paulus, sedang melakukan transisi, dan bahwa apa yang akan dikatakannya secara logis berhubungan dengan apa yang baru saja dia katakan. Bacalah pasal 11 dan jawablah pertanyaan ini: Dengan mengingat pernyataan Paulus – “Karena itu… demi kemurahan Allah” – alasan-alasan apa yang diberikan Paulus di pasal sebelum pasal 11 untuk apa yang akan dikatakan dalam pasal 11?
2. Dengan cara apa saja Allah menunjukkan kemurahan-Nya di dalam kehidupan anda?
3. Sebelum Paulus menasihati para pembacanya untuk bertindak (“mempersembahkan tubuhmu”), dia mengingatkan mereka kenapa mereka harus mematuhi permintaannya (“kemurahan Allah”). Sebagai orang Kristen, apa yang seharusnya menjadi motivasi kita untuk mematuhi perintah-perintah Allah?
4. Manusia mematuhi Allah karena berbagai alasan, di mana beberapa di antaranya adalah tidak benar. Cobalah mengingat-ingat kejadian di masa lalu di mana anda patuh karena alasan yang salah. Hal-hal apa saja yang menyebabkan anda ingin menjadi patuh?
5. Setelah mengetahui apa yang seharusnya menjadi motivasi kita sebagai orang Kristen, bagaimana anda akan meresponi pimpinan Allah pada minggu ini?
6. Jelaskan suasana hati serta kekuatan di belakang kata-kata Paulus dalam Roma 12:1-2.
7. Menurut Roma 12:1, apa syarat penyembahan orang Kristen yang sejati? Apa lagi yang dapat ditambahkan oleh Yohanes 4:23-24 kepada pengertian kita tentang penyembahan yang sejati?
Diterjemahkan dari buku “Body Language”.
===000===
MENGEMBANGKAN HUBUNGAN YANG POSITIF DENGAN ISTERI-ISTERI STAF LAINNYA
Oleh Nancy Pannell
Membangun dan menjaga hubungan staf yang baik tidaklah selalu mudah. Semakin besar jumlah staf, semakin banyak jenis kepribadian yang kita harus hadapi. Seringkali di pertemuan isteri staf saya mendengar keluhan: “Saya butuh nasihat. Bagaimana cara mengatasi masalah yang sulit dengan seorang isteri staf lainnya?” Atau, saya mendengar, “Banyak sekali perlakuan yang tidak adil di antara para staf di gereja kami. Suami saya merasa tawar hati dan tidak dihargai. Bagaimana cara menolong dia untuk mengatasi hal ini?”
Banyak isteri staf (dan juga suaminya) berperasaan negatif. Seseorang mungkin mulai merasa kesal ketika melihat staf lain mendapat gaji lebih besar, fasilitas yang lebih baik, dst. Karena kita hanyalah manusia biasa, kita harus menghadapi perasaan iri hati, ingin bersaing, dan ya, bahkan kecemburuan dari waktu ke waktu.
Bagaimana Cara Mengatasi Perasaan yang Negatif?
Ada tiga pilihan. Kita dapat membiarkan perasaan negatif tersebut berkembang sehingga kasus menjadi membesar yang mengakibatkan timbulnya rasa sakit hati (kita dapat mengakibatkan perpecahan yang serius dengan melontarkan kritik terhadap sesama anggota staf lainnya dan dengan mencoba mencari “pengikut” kita sendiri). Atau, kita dapat memendam perasaan-perasaan negatif tersebut, menipu diri sendiri, dan bertanya-tanya kenapa hidup kita sangat tidak bahagia. Atau, kita dapat menghadapinya dengan jujur dan dengan etika yang benar.
Menghadapi perasaan-perasaan negatif ini berarti mengakui masalah kita secara jujur di hadapan Allah, apakah itu iri hati, kecemburuan, penolakan, sakit hati, atau kemarahan. Mulailah dengan sikap yang jujur terhadap diri sendiri dan terhadap Tuhan. Anda dapat mengatakan kepada-Nya masalah yang sebenarnya dan perasaan anda. Dia sebenarnya sudah tahu semuanya. Doakanlah keadaan yang sulit ini dan doakan orang yang bermasalah dengan anda. Minta kepada Tuhan untuk menunjukkan anda di mana kesalahan anda – mungkin anda seharusnya bisa bersikap lebih pengertian atau lebih sadar terhadap kebutuhan orang lain. Mungkin anda memang hanya cemburu belaka karena anda ingin kekuasaan yang lebih banyak atau ingin lebih dihargai.
Menghadapi perasaan-perasaan negatif dengan etika yang benar berarti tidak membicarakan tentang kejelekan seorang staf kepada staf lainnya. Jika oleh karena suatu hal, yaitu dalam kasus yang sangat jarang terjadi, anda yakin seorang staf melakukan perbuatan immoral atau tidak beretika baik, atau jika ada perbedaan pendapat yang cukup serius, anda harus pergi ke orang tersebut untuk membicarakan masalah tersebut. Jangan membicarakannya dengan staf lainnya. Jika anda ada masalah dengan seorang staf atau isterinya, pergilah kepada dia (sebaiknya ada orang ketiga yang obyektif yang ikut hadir) dan dengan sikap yang penuh doa, terbuka, dan mau memaafkan, bicarakan masalah yang ada. Inilah cara yang Alkitabiah, dan ini cara satu-satunya yang menuju ke hubungan yang harmonis. Jangan terbawa arus untuk masuk ke dalam percakapan yang sifatnya mengkritik mitra kerja. Menyerang mitra kerja bukan hanya tidak profesional, tetapi juga bukan sifat seorang Kristen. Rasul Paulus dengan jelas menyatakan hal ini dalam Efesus 4:32: “Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.”
Jika anda adalah isteri seorang staf yang sulit untuk mengasihi sesama isteri staf lainnya, ingatlah bahwa dia juga hanya manusia biasa. Kalau anda bersikap kritis dan cemburuan, jangan harap dia dapat bersikap seperti teman baik anda!
Tetapi Bagaimana Jika Setelah Anda Mencoba Segala Cara Untuk Berteman dengan Isteri Staf Lainnya, Anda Tetap Ditolak?
Satu-satunya formula yang sukses yang saya tahu adalah tetap mendoakan orang tersebut! (Rasanya sudah pernah dengar, ya?) Saya yakin Allah akan mengubah hubungan anda atau menunjukkan anda bagaimana menghadapi hubungan ini dengan kasih. Allah mungkin akan menggerakkan salah satu dari kalian!
Retret staf yang melibatkan para isteri adalah cara yang baik sekali untuk menumbuhkan hubungan antar staf yang positif. Mengundang pada isteri staf untuk berkumpul untuk acara ulang tahun atau acara khusus lainnya juga akan menolong mereka untuk lebih saling mengenal.
Persahabatan yang dekat seringkali bertumbuh di antara para isteri staf. Karena mereka memiliki masalah yang sama, mereka dapat saling mendorong. Saya banyak dipengaruhi oleh isteri staf lainnya, yang tidak hanya menjadi teman saya, tetapi juga menjadi contoh bagi saya dalam hal cara hidup mereka yang penuh keramahan dan kemuliaan dan rasa humor yang tinggi.
Tetapi, para isteri staf tidak diharuskan menjadi teman baik satu terhadap lainnya, terutama jika minat, pekerjaan, dan umur mereka berbeda. Para isteri staf masih tetap dapat berkumpul bersama untuk acara-acara tertentu dan tetap dapat saling mendorong/menolong.
Pernahkah Saya Mengalami Hubungan Yang Retak Dengan Isteri Staf Lainnya?
Tentu saja! Saya akan ceritakan hubungan saya dengan LaVon.
LaVon adalah seorang isteri pendeta yang sangat cantik dan berbakat. Kami menjadi teman baik. Suatu hari Minggu ketika beberapa keluarga sedang berkumpul untuk makan malam bersama, LaVon dan saya tiba-tiba berargumentasi dengan hebatnya. Yang menarik, saya tidak ingat lagi apa yang menjadi penyebab pertengkaran kami. Saya hanya ingat betapa tidak enaknya perasaan saya. Malam itu ketika berada di gereja, kami masing-masing saling menghindar. Tentu saja, saya menjadi ingin membela diri dan meyakinkan diri bahwa dialah yang salah mengerti.
Jadi, saya mulai berdoa. Ketika saya berdoa, air mata saya mulai bercucuran. “Tuhan,” saya memohon, “tolonglah agar persahabatan saya dengan LaVon dipulihkan kembali. Saya tidak tahan jika persahabatan ini menjadi hancur.”
Allah tidak harus berbicara dengan keras supaya saya dapat mengerti apa yang Ia hendak katakan. Engkau sudah tahu apa yang engkau harus lakukan. Engkau harus datang ke LaVon dan meminta maaf.
“Tapi Tuhan, sulit sekali kalau saya yang harus minta maaf padanya!”
Hati saya semakin tertusuk. Akhirnya saya tidak tahan lagi. “Baiklah, Tuhan, kalau Engkau akan menyertai saya dan menunjukkan jalan, saya akan pergi malam ini.”
Saya mampir sebentar ke rumah untuk mengecek anak-anak dan beritahu mereka ke mana saya akan pergi. Ketika saya sedang bersiap-siap untuk pergi kembali, pintu bel rumah berbunyi.
LaVon sudah berdiri di depan pintu rumah saya! Dia yang datang ke rumah saya! Kami langsung berpelukan, tertawa dan menangis bersama, dan kami saling mengucapkan kata kasih dan minta maaf. Malam itu menjadi malam yang tidak terlupakan buat saya. Betapa berharganya pengalaman ini!
Tuhan kita memang senang menolong membangun kembali hubungan yang rusak jika kita menyerahkan diri dan hubungan tersebut kepada-Nya. Dan jika Dia mengembalikan hubungan tersebut menjadi baik, Dia akan melakukannya dengan baik sekali!
Saya tidak bermaksud untuk menyatakan bahwa mudah sekali untuk mencegah atau memecahkan masalah yang serius dalam hubungan antar staf.
Tetapi banyak Firman Tuhan yang dapat diaplikasikan untuk hubungan antar staf. Ayat-ayat pertama yang saya ingat adalah Filipi 2:3-7. “Dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingan sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.”
Kalimat, “mengambil rupa seorang hamba,” telah mengatakan segalanya. Ini berarti adanya pemikiran mau melayani, bukannya ingin dilayani, mau mengalah, bukannya menuntut agar keinginannya sendiri yang dituruti.
Berhubungan dengan orang lain dengan kasih Kristiani selalu banyak tantangan. Di luar hubungan keluarga, yang paling banyak tantangan adalah hubungan kerja. Tentu saja, ketika kita bekerja dengan seseorang dari hari ke hari, kita menjadi sadar akan kelemahan dan kekuatan orang tersebut. Umumnya, kita dapat menerima kebiasaan kecil yang menjengkelkan, sikap eksentrik dan suasana hati yang berubah-ubah dari anggota keluarga kita, tapi kita cenderung untuk kurang dapat menerima sifat mereka yang bekerja bersama kita.
Hubungan dengan para isteri staf memberikan saya beberapa kebahagiaan yang terbesar dalam pelayanan. Kalau bukan karena isteri-isteri para staf yang bijaksana, lebih dewasa rohaninya yang dengan kasih dan penuh kesabaran memberikan dorongan dan meneguhkan saya, saya mungkin sudah gagal dan tambah putus asa. Kadangkala, sesama isteri staf lainnya juga menolong membentuk saya.
Untung sekali semua isteri staf bukan hanya manusia biasa, tetapi juga secara luar biasa berbeda satu terhadap yang lainnya. Luar biasa ya, mereka memiliki bakat dan kerpibadian yang berbeda-beda? Tidak semua bisa menyanyi solo, tidak semua bisa main piano, tidak semua bisa mengajar, tidak semua bisa masak pastel tutup, tidak semua ibu rumah tangga yang sempurna (saya lontarkan ini karena saya termasuk dalam bagian yang ini), dan tidak semua setuju dengan saya!
Diterjemahkan dari artikel “Developing Positive Relationships with Other Staff Wives”, majalah Just Between Us, Edisi Summer 1996, hal.14-15,18.
===000===
Kata-Kata Mutiara
“Jangan takut untuk mengasihi sesama sampai perlu berkorban, sampai sakit rasanya. Kasih Yesus bagi kita membawa Dia ke kematian-Nya.” – Ibu Theresa
“Seni untuk melayani orang lain adalah menyerahkan segala kebutuhan anda kepada Allah sehingga anda bebas untuk melayani orang lain.” – Ron DiCianni
“Panggilan setiap orang adalah untuk melayani orang lain.” – Leo Tostoy
“Jangan menganggap anda sudah mengalami kemajuan dalam perjalanan rohani anda, kecuali jika anda menganggap dirimu paling rendah dari antara semua manusia.” –Thomas A Kempis
“Barangsiapa hendak menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barang-siapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang,” –Matius 20:26-28
Subscribe to:
Posts (Atom)