MENGHIBUR AYUB
Bagaimana cara menolong orang yang dunianya hancur?
Oleh Jill Briscoe
Apakah saudara pernah kehilangan seseorang yang dekat dengan saudara? Mung-kin mereka tinggal jauh sekali dari saudara, tetapi saudara tetap berkata, “Saya harus pergi melawat.” Lalu saudara mengepak baju dan pergi ke sana supaya dapat bertemu dengan keluarga dan teman-teman. Dan apa yang terjadi ketika saudara datang? Saudara disambut di pintu, dan saudara berkata, “Saya merasa saya harus datang ke sini.” Dan rasanya perkataan itu saja sudah cukup untuk menghibur mereka.
Saya merasa diberi kehormatan untuk dapat melayani sebagai anggota pengurus Yayasan Kristen World Relief. Tujuan mereka adalah untuk meringankan penderitaan di seluruh dunia dalam nama Kristus. Suatu musim panas, mereka mengundang saya untuk pergi ke Kroasia, tidak lama setelah bangsa itu perang dengan Serbia. Saya bergabung dengan selusin wanita Kristen lainnya, dan pergilah kami semua. “Setelah sampai di sana, apa yang dapat kami lakukan?” kami bertanya satu terhadap lainnya. Kami tidak tahu, tetapi ternyata pengalaman yang kami dapatkan di sana menjadi pengalaman yang mengubah hidup kami.
Di perbatasan Serbia, kami bertemu dengan para pengungsi – orang Kroasia, Serbia, dan Muslim – yang, baru saja mengalami ngerinya peperangan, menceritakan pengalaman-pengalaman mereka kepada kami. Kami mendengarkan keluhan dan cerita mereka, mengunjungi tempat pengungsian, dan melakukan beberapa hal yang praktis. Tetapi kami kebanyakan hanya berkata, “Kami merasa kami harus datang kemari!” Berulang-ulang kali mereka mengucapkan terima kasih karena kami datang “berada di sana.” Kami belajar bahwa untuk menghibur seseorang, kita harus berada dekat dengannya.
Melayani Dengan Keberadaan Kita Di Sana
Ada beberapa orang dalam kehidupan Ayub yang merasa “harus datang.” Dia punya banyak teman, tetapi Elifas, Zofar, dan Bildad adalah teman-teman yang istimewa. Mereka adalah kawan sebaya Ayub dan menyembah Allah yang sama. Ketika teman-temannya ini mendengar masalah yang menimpa Ayub, bersama-sama mereka jauh-jauh datang sebagai saudara-saudara seiman untuk menyampaikan simpati dan menghibur temannya yang baru jatuh.
Mereka datang dan melihat Ayub dari jauh, dan mereka hampir tidak dapat mengenalinya. Mereka mulai menangis dengan keras dan, seperti kebiasaan pada saat itu, mengoyak jubah mereka serta menaburkan debu di kepala mereka. Kemudian mereka duduk di tanah bersama dengannya selama tujuh hari dan tujuh malam. Tidak ada satu orang pun yang mengucapkan sepatah kata kepadanya karena mereka melihat betapa pilunya penderitaan yang dialaminya (Ayub 2:11-13).
Tidak dapat diragukan bahwa memberi penghiburan itu pasti ada harganya. Teman-teman Ayub bersusah payah datang jauh-jauh untuk menghibur dia. Mereka adalah para pemimpin suku. Mereka meninggalkan rumah mereka, keluarga mereka, dan tanggung jawab mereka, untuk menjadi seorang teman yang sejati. Jika persahabatan benar-benar dihargai, tidak ada yang namanya jalan pintas.
Dalam pasal 30, ayat 22, kita mendapatkan gambaran tentang perasaan Ayub: “Engkau mengangkat aku ke atas angin, melayangkan aku dan menghancurkan aku di dalam angin ribut.” Siapa yang belum pernah mengalami dirinya dilempar ke sana ke mari, oleh suatu kekuatan di luar kendali kita? Pada saat-saat demikian, sangatlah menolong jika ada seseorang yang dapat menghibur kita di tengah-tengah angin ribut.
Jika kita ingin menolong seseorang seperti Ayub, kita harus membayar harga. Kita harus pergi ke tempat saudara-saudari kita berada, jika perlu mengunjungi tumpukan abunya. Ada sesuatu yang sangat menghibur dari orang yang turut “berada di sana.”
Saya ingin tahu teman-teman Ayub yang mana yang punya ide untuk mengunjungi Ayub. Ketika seseorang dilanda musibah, ada baiknya jika kita menghubungi orang lain dan membuat rencana yang matang untuk dapat membantu orang tersebut.
Biarkan Air Matamu Berbicara
Setelah teman-teman Ayub berada cukup dekat untuk menghibur, mereka mengutarakan keprihatinan mereka sesuai dengan kebudayaan mereka: “Ketika mereka memandang dari jauh, mereka mulai menangis dengan suara nyaring.” Mereka membiarkan air mata mereka berbicara. Tidak ada yang mengucapkan sepatah kata pun karena mereka melihat betapa beratnya penderitaan dia.
Apakah saudara dapat menangis? Kadangkala saya mampu dan kadangkala tidak. Saya mengetahui bahwa hati Bapa saya tinggal di dalam diri saya dalam rupa Roh Kudus. Saya belajar untuk meminta-Nya berdoa untuk orang-orang yang menderita yang memerlukan pertolongan atas “keluhan-keluhan yang tidak terucapkan” (Roma 8:26). Ada rintihan dan kesedihan yang diekspresikan oleh air mata yang hanya dapat dihasilkan oleh Roh Kudus di dalam diri kita, yaitu air mata Kristus.
Saya pernah menerima perasaan empati juga. Saya teringat ketika dulu saya merasa susah dan pahit karena saya kesepian. Pekerjaan suami saya mengharuskan dia untuk pergi selama berbulan-bulan lamanya. Saya tahu saya memerlukan seseorang untuk diajak berbicara, tetapi siapa? Suami teman saya yang adalah hamba Tuhan yang sudah senior juga sering pergi, tetapi nampaknya dia baik-baik saja! Bagaimana mungkin saya dapat membagikan kepedihan saya pada dia? Akhirnya suatu hari saya mampu mengumpulkan keberanian untuk pergi mendatangi dia dan berbicara dengan dia.
Saat memasuki ruangan kantornya, saya merasa bersalah karena mengganggu dia. Dia mengangkat pandangannya dan melihat, menurut kata-kata Ayub, “begitu beratnya penderitaan saya.” Langsung dia memberikan saya perhatiannya yang penuh. Berdasarkan pengalamannya selama bertahun-tahun, dia sadar bahwa mendengar adalah sama dengan mengasihi.
Saya mengeluarkan semua uneg-uneg saya. Saya bilang saya sudah tidak sanggup lagi menjadi ibu sekaligus ayah di dalam kehidupan anak-anak saya. Saya sudah mencoba untuk mengikuti contoh yang diberikan dia untuk menjadi isteri hamba Tuhan yang sempurna, tetapi gagal. Yang saya dapati hanyalah kepedihan. Saya berhenti berbicara dan memandang dia. Saya sungguh tidak percaya dengan apa yang saya lihat! Dia sedang menangis – sungguh-sungguh menangis. “Memang sulit sekali, ya?” itu saja yang dia katakan.
Bukan kata-kata tersebut yang berbicara keras kepada saya, melainkan air matanya. Suara air mata yang sedang berbicara tidak akan luput dari siapa pun. “Saya sungguh tidak percaya dengan apa yang saya lihat saat ini,” gumam saya. “Ini semua susah bagi kamu juga ya?” Lalu dia tertawa, dan mempersilahkan saya untuk duduk. Air matanya berkata kepada saya bahwa tidak apa-apa jika saya punya perasaan seperti ini dan bahwa dia juga merasakan kepedihan saya. Karena dia pernah mengalami kepedihan dan dapat mengatasinya, maka saya pun dapat mendapatkan kemenangan dan sukacita di saat-saat saya merasa kesunyian. Kita dapat melayani seseorang dengan berada di samping orang tersebut, dan kita dapat membiarkan air mata kita berbicara.
Menolong untuk Jangka Panjang
Teman-teman yang menghibur Ayub siap menolong untuk jangka panjang. Mungkin Ayub tidak begitu menginginkan kehadiran mereka lagi setelah sekian lamanya waktu berjalan, tetapi paling tidak mereka tidak langsung pergi begitu ada kesempatan. Untuk dapat menjadi penghibur yang sejati, kita harus tinggal sampai dapat mengerti kepedihan orang yang kita hibur.
Suami dari seorang wanita yang masih muda di gereja kami meninggal karena sakit kanker. Pada tahun pertama, teman-teman, keluarga, dan bahkan orang-orang yang tidak dikenalnya, datang berbondong-bondong untuk melayani dia. Lalu datanglah tahun kedua – tahun yang menurut para ahli adalah saat yang terburuk. “Saya harap mereka benar,” tulis dia kepada saya, “karena tahun kedua ini benar-benar berat sekali! Banyak orang-orang yang dulunya memberikan perhatian kepada saya sekarang sibuk dengan kehidupan mereka masing-masing, dan saya kembali sendirian di sini.”
Memang tidak mungkin bagi setiap orang untuk terus-menerus memberikan perhatian yang intensif, tetapi harus ada seseorang yang mampu. Saya belajar untuk bertanya kepada Allah, “Apakah Engkau menginginkan saya di sini untuk jangka panjang?” Jika Dia mengiakan, penting sekali bagi kita untuk terus setia. Belajarlah untuk tahu apa yang harus dikerjakan dan apa yang harus dikatakan. Ketika saat-saat seperti ini tiba, kita harus sudah siap. Jika tidak, kita mungkin akan mendapatkan teguran yang sama dengan teman-teman Ayub karena mereka tidak “berbicara dengan benar.”
Di dalam kata-kata, ada suatu penghiburan yang besar. Kata-kata kita harus selalu berdasarkan Alkitab. Kata-kata yang demikianlah yang dapat digunakan oleh Roh Kudus untuk menghibur dan menyembuhkan. Kata-kata ini tidak boleh dalam bentuk omelan ataupun kritikan. Bagaimanapun juga, luka yang ditimbul kan oleh orang yang dekat dengan kita dapat menjadi luka yang paling hebat. Kata-kata dapat memotong luka jauh lebih dalam daripada batu dan dapat membuat perasaan seseorang babak belur. Kata-kata kita perlu dipilih dengan hati-hati dan digunakan untuk menyembuhkan dan menolong, bukannya untuk melukai, bahkan walaupun penderitaan itu adalah karena kebodohan orang tersebut atau akibat salah pilih.
Juga, kata-kata harus digunakan pada saat yang tepat. Saya yakin kita semua pernah menjadi korban di mana kata-kata yang “benar” diucapkan pada waktu yang salah! Waktu adalah hal yang sangat penting ketika kita sedang mencoba menghibur seseorang. Pengkhotbah 3:7 mengatakan bahwa ada “waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara.”
Saya teringat ketika saya dulu melayani seorang perempuan remaja. Sebelum menemukan Tuhan, dia hidup dalam pergaulan bebas dan jarang mendapatkan perhatian dari rumah. Dia banyak bergumul, tetapi kemudian jatuh ke dalam kebiasaan lamanya lagi. Suatu hari dia datang kepada saya, mengatakan bahwa dia hamil dan orang tuanya sudah mengusir dia. Saya ingat saat itu saya benar-benar merasa gusar. Seharusnya dia tahu akan begini akibatnya! Dulu dia sudah mendapatkan pekerjaan, dan sudah mengubah total kehidupannya. Kenapa dia bodoh sekali? Ada banyak yang perlu dikatakan, tetapi saat itu bukanlah saat yang tepat. Saat itu, dalam keadaan hampir sekarat, dia perlu mandi, diberi makan, pelukan, dan tempat tinggal! Lalu saya mencoba untuk hanya menggunakan kata-kata yang bijak untuk menyambut dia dan berkata pada dia bahwa saya senang dia merasa mampu datang kepada saya di saat dia punya masalah. Akan ada waktu di kemudian hari nanti ketika dia sudah siap untuk menerima kata-kata saya, tetapi bukan saat itu.
Ada perbedaan antara kritik yang membangun dan yang menghancurkan. Ketika teman-teman Ayub mulai berbicara, mereka mulai merusak hal-hal baik yang telah mereka bangun. Mereka mulai menuduh Ayub, dan dengan demikian mengerjakan pekerjaan si setan baginya. Kasih yang sejati selalu mencari suatu cara yang bersifat membangun.
Diterjemahkan dari Artikel “Comforting Job”, Majalah Just Between Us, Fall 2002, hal. 16-17, 20, yang merupakan saduran dari buku “Out of the Storm and Into God’s Arms”, karangan Jill Briscoe.
===000===
Cerita saya…
Oleh Connie Griffin, Rockford, Illinois
Dengan cepat-cepat saya mengaduk saus di depan saya, dan secara tidak sadar saya melampiaskan emosi saya di sana. Perasaan marah dan frustrasi mulai bertimbun dan saya mulai tidak dapat menguasai diri. Mahasiwi muda yang berdiri tidak jauh dari saya mulai membuat saya merasa tidak sanggup lagi untuk mengatasi dirinya. Masalah yang dihadapinya terlalu rumit. Bagaimana saya bisa mengerti dan melayani dia? Saat itu saya rasanya hanya ingin bebas dari tanggung jawab untuk melayaninya.
Karena bertahun-tahun mengalami pelecehan seksual dari ayah dan saudara lelakinya, dan karena ibunya mengabaikan teriakan permintaan tolongnya, akhirnya dia mulai melampiaskan masalahnya dengan menyayat badannya dan terkena penyakit anoreksia (tidak nafsu makan). Hatinya hancur, sakit, dan kesepian, dia benar-benar membutuhkan keluarga yang dapat mengasihi dan menerima dia. Tetapi dia malah mengasingkan diri dari orang-orang yang paling dia butuhkan. Dia benar-benar sulit untuk dikasihi.
Saya bertanya pada diri sendiri, kenapa sulit sekali bagi saya untuk mengasihi orang yang sulit untuk dikasihi dan hancur hatinya? Cara hidup mereka saja sudah cukup membuat saya ingin lari dari mereka. Saya ingin mengasihi orang yang mudah untuk dikasihi – orang yang berasal dari tingkat eknomi yang sama dengan saya, yang memiliki nilai kehidupan dan prioritas yang sama dengan saya, dan orang-orang yang memiliki kesamaan dengan saya. Saya pada dasarnya egois dan sombong di tengah-tengah dunia ekonomi menengah ke atas. Tuhan, saya mengakui sikap saya yang berdosa.
Orang Samaria yang baik mengabaikan statusnya dan melihat orang yang terluka di pinggir jalan dengan pandangan penuh belas kasihan. Walau sukunya berlainan, hal ini tidak menghalanginya untuk membantu orang yang perlu ditolong tersebut. Orang-orang lain hanya melewati orang tersebut, tidak mengindahkan teriakan permintaan tolong dari orang tersebut yang sangat dihina oleh budaya mereka. Berapa seringkah saya bersalah karena dosa yang sama – merasa diri lebih tinggi dari mereka yang membutuhkan pertolongan secara fisik, mereka yang secara emosi tidak stabil, atau mereka yang lapar secara rohani. Mengasihi orang yang sulit untuk dikasihi dan yang hancur hatinya membutuhkan lebih dari apa yang kita miliki, dan disinilah kita mengalami pemulihan dan kasih Allah terhadap kehancuran diri kita sendiri.
Mahasiswi yang masih muda ini memang sulit untuk dikasihi; tetapi melalui pelayanan saya, dan dukungan dari keluarga saya, dia mulai mengalami kasih Yesus dan pemulihan yang ditawarkan-Nya kepada setiap orang. Saya belajar suatu dimensi yang baru tentang pemberian yang penuh pengorbanan – memberi sampai sakit rasanya – sama seperti apa yang Kristus lakukan di atas kayu salib ketika Dia memberikan sesuatu yang paling berharga, yaitu hidup-Nya.
===000===
Mengasihi Musuh di dalam Jemaat
Oleh Ingrid lawrenz, MSW
“Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu, mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu.” Baca Lukas 6:27-36 & Roma 12:9-21
Sebagai isteri dari hamba Tuhan, kita selalu berusaha untuk “hidup dengan damai dengan setiap orang,” terutama dengan orang-orang di jemaat kita. Kita ingin menjadi contoh dengan memperlihatkan kasih Kristus yang baik dan ingin agar hubungan jemaat menjadi baik, bukan hanya demi suami kita, tetapi juga untuk diri kita sendiri.
Namun pada kenyataannya kita tidak dapat menyenangkan semua orang. Cepat atau lambat kita akan mendengar bahwa seseorang kecewa dengan kita – atau lebih buruk lagi dengan suami atau anak-anak kita. Kecaman/celaan sangat menusuk hati – sampai ke ulu hati rasanya. “Suamimu tidak berbakat untuk berkotbah,” “Kamu sepertinya dingin dan susah didekati,” “Anak-anakmu suka mengganggu dan menjadi bahan omongan yang tidak enak.” Lalu mereka menyerang iman dan karaktermu. Inilah yang nampaknya paling menyakitkan hati – dipandang sebagai tidak cukup rohani karena kita mempunyai pandangan-pandangan tertentu terhadap masalah-masalah seperti aborsi, tim SAR, psikologi, atau masalah mengirim anak-anak ke sekolah negeri.
Rasa malu menyiram tubuh kita: “kamu orang yang tidak baik,” “tidak mampu,” “kamu sebaiknya mengundurkan diri,” dan rasanya kita langsung ingin bersembunyi. Kemudian kita merasa ingin menjadi obyektif dengan mencari-cari apa yang ada di dalam hati nurani kita. Jika hati nurani kita bersih di hadapan Allah, lalu rasa malu terangkat dan berganti dengan perasaan marah karena merasa benar.
Apa yang dapat kita lakukan dengan kemarahan yang kita rasakan terhadap saudara/i kita dalam Kristus? Bagaimana kita dapat terus melayani “musuh” di dalam persekutuan kita sendiri? Kemarahan mengisyaratkan adanya pemutusan hubungan antara kita dan saudara/i kita dalam Kristus. Oleh karenanya, kita harus mengubahnya. Yang paling banyak membantu saya untuk mengatasi hal ini adalah memikirkan tentang “membuang jauh rasa kemarahan saya.” Yesus dalam Markus 3:5 merasa marah dengan orang-orang Farisi, tetapi dia juga berkata dalam Matius 5:22 bahwa kita akan dihukum jika kita marah dengan saudara kita. Jadi, kita boleh marah dengan hal-hal yang Allah juga marah seperti sikap menghakimi, menjelekkan nama orang, dan kesombongan diri. Tetapi hal ini berbeda dengan kemarahan karena harapan atau keinginan kita tidak dituruti. Kadangkala kemarahan kita dapat diredakan dengan merendahkan harapan kita, dengan mengampuni dan mengendalikan diri. Langkah pertama mengatasi kemarahan adalah mau mengaku kepada diri sendiri dan kepada Allah tentang kemarahan kita (mungkin melalui jurnal/catatan doa). Kedua, melihat apakah ini masalah yang perlu kita simpan saja dan bersikap sabar, ataukah perlu kita bicarakan.
Kemarahan paling cepat dapat dihilangkan jika kita dapat berhadapan dengan orang yang bersangkutan secara langsung dan sama-sama mencari penyelesaian. Jika ini tidak berhasil, dan kemarahan itu tetap mendidih, cobalah untuk mengakui kemarahan ini kepada seseorang yang dapat kita percayai, dengan tujuan untuk menghilangkan rasa kemarahan kita. Dengan demikian kita dapat mengampuni orang tersebut dan bukannya menjelek-jelekkan namanya. Isteri-isteri hamba Tuhan biasanya dapat sangat bersimpati tentang masalah-masalah seperti ini. Kita akan terbantu jika kita tidak menyebutkan nama orang yang bermasalah dengan kita tersebut sehingga kita tidak berkeinginan untuk membalas dendam.
Kita dapat saja sudah melakukan segala sesuatu yang benar dalam proses ini, tetapi nantinya masih mengalami kemarahan karena dosa pihak lainnya masih terus berlangsung. Hal ini memerlukan usaha yang lebih keras lagi dari kita untuk menyelesaikannya dan mengampuni orang tersebut. Janji Allah bahwa Dia yang akan membalas bagi kita, akan dapat menghibur kita pada saat ini.
Dengan mengasihi musuh, kita memperlihatkan kemurahan hati Allah yang supranatural terhadap orang lain. Hal ini tidak berarti kita harus menyukai mereka, atau kita harus memiliki rasa kasih sayang untuk mereka, atau bahkan menyukai kehadiran mereka. Tetapi juga tidak berarti kita membiarkan mereka untuk terus berdosa dengan tidak menegur kelakuan mereka. Hal ini berarti mengasihi mereka dengan cara Allah – kasih agape – memperlihatkan itikad baik kita walaupun sebenarnya mereka tidak patut mendapatkannya; berarti kita mengharapkan yang terbaik bagi mereka dan tidak berkeinginan untuk menghukum atau menjelek-jelekkan nama mereka; berarti kita berdoa bagi mereka dan menolong mereka jika mereka membutuhkan pertolongan. Saya rasa menarik sekali bahwa Alkitab mengakui bahwa kita mempunyai musuh-musuh sehingga membenarkan kepedihan hati, rasa ditolak, dan kekecewaan kita. Yesus menunjukkan kasih terhadap Yudas, musuh-Nya, dan membiarkan suara hatinya sendiri yang menyatakan dirinya bersalah.
Ada rasa damai yang menenangkan gejolak kemarahan dan mengangkat rasa malu ketika kita bersandar pada kasih yang tak bersyarat dari Allah (Dia terus mengasihi kita walaupun kita tidak sempurna). Kita akan merasa terhibur dengan mengetahui sikap hati kita yang selalu mencari kuasa Allah untuk memampukan kita agar terus dapat mengasihi ketika kita merasa tidak mampu melakukannya dengan usaha sendiri.
Diterjemahkan dari artikel “Loving Your Enemies in the Church” , majalah Just Between Us, Spring 1995, hal.20.
===000===
Dasar anak-anak!
Seorang guru sekolah Minggu sedang mengajarkan bagaimana Allah menciptakan segala sesuatu, termasuk manusia. Si kecil Johnny nampak begitu serius memperhatikan ketika guru tersebut menjelaskan bagaimana Hawa diciptakan dari salah satu tulang rusuk Adam. Beberapa hari kemudian ibunya melihat Johnny berbaring seperti kesakitan, dan berkata, “Johnny, kamu kenapa?” Si Kecil Johnny menjawab, “Bagian samping badanku sakit. Rasanya saya akan mendapatkan seorang isteri!”
Seorang guru sekolah Minggu bertanya kepada anak-anak sebelum mereka dibawa masuk untuk mengikuti kebaktian, “Kenapa kita tidak boleh ribut di dalam kebaktian?” Ani menjawab, “Karena banyak yang tidur.”
Suatu hari Minggu di kota besar, seorang anak kecil mulai tidak bisa diam pada saat mengikuti kebaktian. Orang tuanya mencoba segala hal untuk membujuk agar anaknya bisa duduk dengan manis, tetapi nampaknya mulai kehilangan akal. Karena kesal, akhirnya, sang ayah mengangkat anak kecil tersebut dan mulai berjalan keluar. Sebelum sampai ke pintu keluar, anak kecil itu dengan kerasnya berteriak, “Tolong doakan saya! Tolong doakan saya!”
===000===
MENDOAKAN ANAK
31 Kebajikan dan sifat baik yang Alkitabiah untuk didoakan bagi anak-anak kita:
1. Keselamatan. “Tuhan, biarlah keselamatan bertunaskan di dalam diri anak-anakku, sehingga mereka mendapat keselamatan dalam Yesus Kristus, dengan kemuliaan yang kekal” (Yes.45:8; 2 Tim.2:10).
2. Bertumbuh dalam kasih karunia. “Aku berdoa agar anak-anakku bertumbuh dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus” (2 Pet. 3:18).
3. Kasih. “Tuhan, ajarlah anak-anakku untuk menjalani hidup di dalam kasih, melalui Roh Kudus yang berdiam di dalam diri mereka” (Gal.5:25, Ef.5:2).
4. Kejujuran dan ketulusan. “Biarlah ketulusan dan kejujuran menjadi sifat baik dan pelindung mereka” (Maz.25:21).
5. Penguasaan diri. “Bapa, tolonglah anak-anakku untuk tidak menjadi seperti anak-anak lainnya di sekitar mereka, tetapi tolonglah mereka untuk senantiasa berjaga-jaga dan sadar, serta untuk menguasai diri di dalam segala tindakan mereka” (1 Tes.5:6).
6. Cinta akan Firman Tuhan. “Biarlah anak-anakku bertumbuh dan mengetahui bahwa Firman-Mu adalah lebih indah daripada emas murni mana pun dan lebih manis daripada madu tetesan dari sarang lebah” (Maz.19:11).
7. Keadilan. “Tuhan, tolonglah anak-anakku untuk mengasihi keadilan sebagaimana Engkau juga mengasihi keadilan, dan tolong mereka untuk berlaku adil dalam segala tindakan mereka” (Maz.11:7; Mik.6:8).
8. Murah hati-berbelas kasihan. “Biarlah anak-anakku senantiasa bermurah hati, seperti Bapa mereka adalah juga murah hati” (Luk.6:36).
9. Hormat (bagi diri sendiri, orang lain, dan para pemimpin). “Bapa, berikanlah anak-anakku kemampuan untuk memiliki rasa hormat yang sepantasnya terhadap setiap orang, seperti yang diperintahkan oleh Firman-Mu” (1 Pet.2:17).
10. Harga diri yang Alkitabiah. “Tolong anak-anakku untuk mengembangkan harga diri yang kuat yang berakarkan kesadaran bahwa mereka adalah buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus” (Ef.2:10).
11. Kesetiaan. “Biarlah kasih dan setia tidak pernah meninggalkan anak-anakku, tetapi kalungkanlah kedua sifat baik itu pada leher mereka dan tuliskanlah itu pada loh hati mereka” (Am.3:3).
12. Keberanian. “Biarlah anak-anakku senantiasa kuat dan berani, baik dalam karakter maupun tindakan mereka” (Maz.51:12).
13. Kemurnian. “Jadikanlah hati mereka suci, ya tuhan, dan biarlah kesucian dalam hati itu terpancar dalam tindakan mereka” (Ul.31:6).
14. Kebaikan. “Biarlah anak-anakku senantiasa mencoba untuk menjadi baik satu terhadap lainnya dan kepada orang lain” (1 Tes.5;15).
15. Murah hati-dermawan. “Berikanlah anak-anakku kemampuan untuk bermurah hati dan suka memberi, dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya” (2 Kor.9:13; 1 Tim.6:18-19).
16. Cinta kedamaian. “Bapa, tolong anak-anakku untuk senantiasa berusaha untuk melakukan hal-hal yang membawa kedamaian” (Rom.14:19).
17. Sukacita. “Penuhilah anak-anakku dengan sukacita yang dikerjakan oleh Roh Kudus” (1 Tes.1:6).
18. Ketekunan. “Tuhan, ajarlah anak-anakku untuk bertekun dalam apa saja yang mereka lakukan, dan tolong mereka untuk terutama berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita” (Ibr.12:1).
19. Ramah dan lemah lembut. “Tuhan, tolong tanamkan kemampuan dalam anak-anakku untuk selalu ramah dan bersikap lemah lembut terhadap semua orang” (Ti.3:2).
20. Belas kasihan. “Tuhan, kenakanlah belas kasihan yang sejati pada anak-anakku” (Kol.3:12).
21. Tanggung jawab. “Tuhan, berikanlah anak-anakku kemampuan untuk belajar bertanggung jawab, karena tiap-tiap orang akan memikul tanggungannya sendiri” (Gal.6:5).
22. Rasa kecukupan. “Bapa, ajarlah anak-anakku rahasia bagaimana mencukupkan diri dalam segala keadaan, melalui Dia yang memberikan kekuatan kepada mereka” (Fil.4:11-13).
23. Iman. “Aku berdoa agar iman akan berakar dan bertumbuh di dalam hati anak-anakku, dan dengan iman, mereka akan memperoleh apa yang telah dijanjikan bagi mereka (Luk.17:5-6; Ibr.11:1-40).
24. Hati ingin melayani. “Tuhan, tolonglah anak-anakku untuk mempunyai hati yang ingin melayani, agar mereka dapat melayani sepenuh hati, seperti mereka melayani Tuhan, bukan manusia” (Ef.6:7).
25. Harapan. “Biarlah Allah sumber pengharapan memberikan anak-anakku harapan secara berkelimpahan oleh kekuatan Roh Kudus” (Rom.15:13).
26. Kerinduan dan kemampuan untuk bekerja. “Tuhan, ajarlah anak-anakku untuk menghargai pekerjaan dan mengerjakannya dengan sepenuh hati, seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia” (Kol.3:23).
27. Gairah bagi Tuhan. “Tuhan, tanamkanlah pada anak-anakku jiwa yang dengan penuh gairah melekat kepada-Mu” (Maz.63:9).
28. Kedisiplinan diri. “Bapa, aku berdoa agar anak-anakku dapat menjalani kehidupan yang penuh disiplin dan bijaksana, melakukan apa yang benar dan adil dan jujur” (Am.1:3).
29. Taat berdoa. “Tuhan, berikanlah anak-anakku kehidupan yang ditandai dengan ketaatan dalam berdoa, sehingga mereka dapat belajar untuk berdoa di dalam Roh di setiap kesempatan untuk mendoakan segala hal dan permohonan” (Ef.6:18).
30. Bersyukur. “Tolong anak-anakku untuk menjalani kehidupan yang selalu berkelimpahan dengan ucapan syukur dan senantiasa mengucap syukur kepada Allah Bapa atas segala sesuatu, dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus” (Ef.5:20; Kol.2:7).
31. Hati untuk misi. “Tuhan, tolonglah anak-anakku untuk memiliki kerinduan agar kemuliaan-Mu dan perbuatan-Mu yang ajaib dinyatakan di antara segala bangsa” (Yes.66:18-19).
Diterjemahkan dari “31 Biblical Virtues to Pray for Your Kids”, di cuplik dari Pray! terbitan ke empat.
Bertumbuh dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus (2 Pet.3:18)
Monday, September 3, 2007
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment