Perasaan
Oleh Ingrid Lawrenz MSW
Mata Betsy terasa perih karena air mata, dan dadanya seperti tertusuk pisau. Ada seorang wanita lagi di kelompok PA-nya yang baru saja mengumumkan bahwa dia sedang hamil. Betsy memarahi dirinya, “Aku seharusnya turut senang. Iri hati adalah dosa. Saya seperti anak kecil jika menangis. Saya harus beriman – Allah akan memberikan saya seorang anak pada waktu-Nya.” Betsy memutuskan untuk bahkan tidak memberitahu suaminya tentang kabar kehamilan temannya, kuatir jangan-jangan suaminya nanti bisa membaca ada sesuatu yang tidak benar dari nada suaranya yang kemudian membuatnya cemberut. Mukanya terasa panas waktu teringat bagaimana Tim tidak bersedia untuk pergi ke dokter. Dia terlalu gengsi. Betsy boleh pergi ke spesialis kandungan, sepanjang hal itu tidak melibatkan suaminya. Sudah dua tahun dia tidak membicarakan hal ini lagi dengannya. Dia mengingatkan dirinya sendiri bahwa hal ini hanya akan menimbulkan konflik. Dia tidak ingin menambah beban pada suaminya yang sudah cukup stres dengan para jemaatnya. Waktu matanya mengarah ke bawah, dia baru sadar bahwa dia baru saja menghabiskan sepiring penuh kue kering yang ada di depannya.
Betsy telah menggunakan seluruh mekanisme bela dirinya dan strategi menyalahkan diri sendiri untuk melepaskan diri dari perasaan-perasaannya. Dia menganggap perasaan-perasaannya, terutama yang negatif, tidak berguna, tidak dewasa, hanyalah hawa nafsu yang harus dikuasai dan dimusnahkan. Betsy, seperti kebanyakan orang, merasa bertanggung jawab karena membebani orang lain dengan perasaan-perasaannya dan menghindari topik-topik yang mungkin akan membangkitkan perasaan dalam orang lain.
Apakah perasaan itu tidak penting, tidak berguna dan hanya menyusahkan manusia? Apakah perasaan itu sesuatu yang harus kita musnahkan, seperti halnya kuman-kuman, polusi, atau kotoran? Apakah perasaan hanya akan menimbulkan masalah? Tetapi kita tahu bahwa Yesus sebagai manusia yang sempurna juga memiliki perasaan. Dia memiliki perasaan sukacita dan kesedihan, kemarahan dan kasih sayang. Allah Bapa memiliki perasaan murka dan belas kasihan.
Saya percaya bahwa perasaan paling baik dimengerti sebagai tanda/sinyal yang internal. Perasaan sebenarnya adalah reaksi – terhadap pemikiran, sensasi atau kejadian. Perasaan itu sama seperti sinyal sebuah mobil, seperti tanda lampu sen berupa arah panah berwarna hijau untuk berbelok, tanda matahari berwarna biru untuk lampu depan yang terang, dan tanda lampu mesin berwarna merah untuk mesin yang terlalu panas. Sinyal-sinyal ini memberikan informasi yang berguna bagi kendaraan-kendaraan lain agar mereka dapat terus membuat keputusan yang baik.
Namun demikian, kadangkala mobil yang dirancang oleh manusia dan tubuh manusia dapat juga mengirimkan sinyal-sinyal yang salah – meteran bensin bisa menunjukkan bensin masih penuh walaupun tankinya sudah kosong, atau lampu tanda mesin berwarna merah yang menyala terus karena korslet. Si pengemudi harus memutuskan apa yang harus dilakukannya sewaktu menghadapi sinyal-sinyal serta situasi yang demikian. Kita dapat dipenuhi oleh rasa takut sewaktu ada serangan kegelisahan (anxiety attack) walaupun padahal tidak ada bahaya apa pun, atau merasa malu yang luar biasa jika di hari pernikahan anak kita turun hujan yang deras. PMS (pre menstrual syndrome atau gejala-gejala stres sebelum wanita haid, ed.) bahkan dapat membuat kita uring-uringan hanya karena kehilangan sebuah kunci! Emosi-emosi yang keluar tanpa disengaja ini harus dikuasai oleh pikiran kita serta dengan mengetahui mana emosi yang nyata dan sesungguhnya.
Namun demikian, kebanyakan perasaan kita bekerja sebagaimana mestinya dan memberikan kita petunjuk-petunjuk yang bermanfaat dan realistis yang dapat kita gunakan sebagai sumber yang penting di dalam kehidupan kita sehari-hari.
Allah memberikan kita emosi-emosi ini sebagai alat untuk menolong kita menghadapi kehidupan. Emosi-emosi tersebut mendorong kita untuk bertindak dengan sepantasnya. Perasaan malu dapat membawa kita kepada pertobatan, perasaan marah dapat mendorong kita untuk membela keadilan. Perasaan pilu dan sedih akan menolong kita untuk mengerem diri sehingga kita dapat mengatasi rasa kehilangan di dalam diri kita. Berbagi perasaan dengan orang lain dapat membawa kita kepada hubungan yang intim. Menerima dan mendengarkan perasaan seseorang dapat membantu kita untuk mengetahui orang tersebut dan menciptakan ikatan yang empatik. Inilah inti dari keintiman. Kita tidak perlu merasa harus dapat memecahkan persoalan mereka, juga tidak selalu perlu merasa bersalah karena menimbulkan perasaan tertentu pada orang lain. Dengan mendengar dan bersedia untuk mengerti saja sudah menunjukkan kasih. Hubungan yang intim dengan orang lain tidak perlu menjadi beban secara emosional. Juga penting sekali untuk membuat batasan-batasan sehingga kita tidak merasa jenuh dalam pelayanan.
Setiap orang memiliki perasaan-perasaan yang dialami secara terus menerus, baik perasaan yang sangat mendalam maupun yang kadangkala hampir tidak terasa. Setiap orang berbeda-beda di dalam mengatasi perasaan-perasaan tersebut. Perasaan sama halnya seperti cuaca. Tidak pernah ada hari lewat tanpa cuaca. Kadangkala cuaca begitu jelas akan menunjukkan bahwa hari ini akan cerah dan panas, tetapi kadangkala muncul cuaca yang mendung yang tidak menentu. Namun demikian, trauma yang ekstrim dapat mematirasakan perasaan secara total, seperti yang dapat kita lihat pada wajah-wajah para korban peperangan yang berpandangan kosong di TV. Dengan anugerah Allah kita dapat mematikan perasaan kita jika penderitaan yang kita alami terlalu berat, seperti sekering yang korslet.
Sebagai seorang konselor, saya mendorong orang-orang untuk melatih berperasaan yang sehat. Belajarlah bagaimana mengenali perasaan-perasaanmu. Terimalah perasaan-perasaan yang kurang enak, tulislah dalam buku harian perasaan-perasaan yang membingungkan. Mengeluarkan unek-unek melalui penulisan dalam buku harian adalah kebiasaan yang baik. Saya sungguh menyukai pepatah Swedia, “Berbagi penderitaan dapat menjadikannya berkurang separuh, tetapi berbagi sukacita dapat menjadikannya berlipat ganda.” Kita dapat menulis buku harian dalam bentuk doa untuk memproses perasaan kita dengan Allah.
Emosi-emosi adalah seperti energi yang bergerak secara dinamis, yang seharusnya akan muncul dan kemudian pergi lagi. Jadi, berbahaya jika kita macet pada satu emosi saja. Perasaan marah yang disimpan terus dapat membawa kita kepada kepahitan yang mengubah kepribadian kita. Kepedihan hati yang tidak diproses dengan benar akan membawa kita kepada depresi. Banyak orang mengalami kesulitan karena mereka menekan, menghindari, atau mengenyampingkan perasaan-perasaan mereka, dan sebagai gantinya mereka memilih untuk bekerja lebih keras lagi, makan lebih banyak lagi, minum-minum, pergi berbelanja atau berjudi. Ada juga yang mulai mengalami berbagai macam keluhan atau ketidakberesan pada tubuhnya, sebagai akibat dari stres yang dibebani ke tubuh mereka dengan ditekannya perasaan-perasaan mereka. Perasaan-perasaan yang tertahan kemudian akan mengakibatkan timbulnya benteng-benteng pemisah dengan orang lain. Emosi-emosi yang dikubur lebih berbahaya bagi kehidupan kita daripada membiarkan emosi itu untuk keluar dan ditangani. Sekop dapat digunakan untuk memusnahkan kebun atau menanam tanaman-tanaman yang indah.
Saya bersyukur kepada Allah karena kita diberikan emosi-emosi sehingga hidup kita dapat menjadi lebih penuh dan lebih berarti. Emosi hanyalah sekedar alat atau sinyal untuk menolong kita untuk mengerti, menyesuaikan diri, menghadapi, atau mengubah, pada saat kita mengarungi tantangan-tantangan kehidupan.
Sinyal yang diberikan oleh perasaan dasar kita:
Senang: Hore! Ini sungguh baik. Saya ingin terus dalam keadaan seperti ini.
Takut: Bahaya! Saya perlu mengambil tindakan hati-hati dan dalam keadaan awas. Berjuang atau lari!
Sakit hati: Saya dilukai. Saya perlu berhenti atau mundur diri.
Malu: Saya telah melakukan hal yang tidak benar. Saya ingin bersembunyi. Hubungan saya terputus. (Malu dapat diatasi dengan pertobatan, berhubungan kembali dengan orang lain atau berhubungan kembali dengan kebenaran).
Marah: Ada yang tidak benar! Ada yang harus diubah. Tubuh saya menjadi tegang dan siap untuk bertindak. (Marah dapat diatasi dengan mengubah keadaan atau dengan mengubah perasaan serta harapan kita sendiri).
Sedih: Saya kehilangan sesuatu. Tubuh saya melambatkan diri untuk menyesuaikan diri.
Kaget: Saya sungguh tidak mengharapkan kejadian ini! Berhentilah agar saya dapat menyesuaikan diri.
===000===
BAHASA TUBUH
BAB 1 - MEMPERSEMBAHKAN TUBUH KITA
Oleh Jill Briscoe
“Kita hanya menggunakan sekitar duapuluh lima menit per hari untuk kata-kata yang kita ucapkan dalam pembicaraan kita. Sisanya, kita berkomunikasi dengan melambaikan tangan, menyeringai, menggerutu, mengerutkan dahi, mengangkat bahu, atau menulis memo yang panjang.” Dengan kata lain, ada banyak cara lainnya untuk memberitahu suami bahwa kita sedang marah kepadanya selain hanya berteriak-teriak kepadanya. Cobalah membungkam diri, memberi pandangan yang seolah-olah akan menikam suami, atau mencibirkan bibir – pasti dia langsung tahu! Atau pernahkah saudara melihat bagaimana reaksi anak-anak SMP saat khotbah sang pendeta terlalu lama? Dengan sikap duduk agak merosot, atau tangan menopang kepala, bahasa tubuhnya dengan jelas mengatakan, “Saya sudah bosan.” Tetapi, tubuh kita juga dapat mengkomunikasikan pesan-pesan yang baik. Pertanyaannya adalah, pesan apa yang tubuh kita katakan?
Dalam Roma 12:1, Rasul Paulus mengatakan, “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” Jika kita mempersembahkan tubuh kita kepada Tuhan, Dia dapat menggunakannya sebagai alat-Nya di dunia untuk tindakan-tindakan ilahi-Nya. Dan kenapa kita harus mempersembahkan tubuh kita? Paulus memberikan kita alasannya – yaitu karena “kemurahan Allah” (Rom.12:1). Karena kemurahan Allah maka Yesus mempersembahkan Tubuh-Nya, seperti Yohanes 3:16 mengingatkan kita: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal….” Yesus mati di kayu salib sebagai persembahan yang hidup bagi manusia yang berdosa, sehingga kita dapat masuk ke surga. Betapa besar kemurahan Allah! Tutuplah mata saudara untuk sesaat dan cobalah untuk membayangkan kayu salib. Apa yang saudara lihat? Yesus… dengan tangan-Nya yang terlentang untuk menyelamatkan kita, mengatakan, “Aku mengasihimu.” Itulah yang namanya bahasa tubuh! Melalui tubuh-Nya, Yesus menyatakan kasih-Nya yang menyelamatkan, dengan sedalam-dalamnya.
Jika melihat kemurahan-Nya sehingga Dia rela mati bagi kita, paling tidak yang kita dapat lakukan adalah mempersembahkan tubuh kita kembali kepada-Nya. C.T. Studd, seorang misionaris pelopor terkenal mengatakan, “Jika Yesus Kristus adalah Allah dan mati bagiku, maka tidak ada pengorbanan yang terlalu besar bagiku untuk dapat membalas kasih-Nya!” C.T. Studd mengerti arti Roma 12:1.
Dilahirkan di keluarga yang kaya raya, ayah C.T. pergi ke India untuk berkebun teh, dan kemudian kembali ke Inggris untuk menikmati hasil kerja kerasnya. Tidak lama kemudian, D.L. Moody datang ke Inggris, dan ayah C.T. pergi ke pertemuan yang dipimpin oleh tuan Moody, lalu mendengarkan khotbahnya, dan menyerahkan hidupnya kepada Tuhan. Setelah ayahnya meninggal dunia, C.T. mewarisi harta kekayaan yang besar sekali. Dia belajar di universitas di Cambridge dan bermain bola kriket untuk Inggris. Tetapi kemudian dia meninggalkan semuanya ini untuk membawa Injil kepada orang-orang yang belum pernah mendengarnya – pertama-tama ke Cina, kemudian ke India, dan akhirnya ke Afrika. Amatilah bahasa tubuhnya. Tangannya menulis cek-cek yang mengalihkan harta kekayaannya yang begitu besar kepada badan-badan sosial. Kakinya membawa dia ke tiga benua untuk Kristus. Tubuh-nya, terkoyak-koyak karena sakit (tubuhnya dijuluki musium penyakit), penuh dengan tanda-tanda milik Tuhannya. Tubuh – menurut suami saya – adalah “Suatu sarana di dunia ini di mana wujud roh dapat pergi berkeliling di lingkungan ragawi.” Hal inilah yang dilakukan oleh tubuh C.T!
Kita juga melihat prinsip bahasa tubuh yang terdapat dalam kehidupan Rasul Paulus. Dalam KPR 8-9, kita melihat bahwa Paulus menganiaya orang-orang Kristen. Mulutnya menghembuskan ancaman ancaman untuk membunuh (KPR 9:1). Kakinya mengejar orang-orang Kristen sehingga mereka harus bersembunyi (KPR 8:1). Dan tangannya menyeret orang-orang yang mengasihi Tuhan ke penjara (KPR 9:2). Tetapi Saulus, namanya pada saat itu, bertobat di tengah perjalanannya menuju Damsyik. Langsung bahasa tubuhnya berubah. Kakinya membawa dia ke sinagoge. Mulutnya mulai mengabarkan kabar baik tentang Yesus Kristus. Pada akhir perjalanan hidupnya, Paulus mampu mengatakan, “Selanjutnya janganlah ada orang yang menyusahkan aku, karena pada tubuhku ada tanda-tanda milik Yesus.” Paulus punya banyak cara untuk memberitahu orang-orang bahwa dia mengasihi mereka karena Kristus!
Jadi, apa sih arti tubuh yang akan kita persembahkan ini? Pertama-tama, tubuh adalah wujud ragawi. Paulus sangat menghargai tubuh. Tetapi, orang-orang Yunani berpikir tubuh itu sendiri adalah jahat karena tubuh melakukan perbuatan-perbuatan yang jahat. Hal ini tentu saja berlawanan dengan Alkitab. Sejak semula tubuh merupakan bagian yang integral dari manusia. Allah menghargai tubuh melalui penciptaan, memuliakan tubuh melalui inkarnasi, dan menyucikan tubuh melalui pekerjaan Roh Kudus-Nya. Walaupun “bait” tubuh kita tercemar karena dosa, melalui keselamatan tubuh kita berubah. Tubuh bukanlah wujud yang jahat. Tubuh sedang menunggu untuk dipulihkan secara utuh pada saat kebangkitan (1 Kor. 15).
Roma 12:1 juga mengingatkan kita bahwa kita harus secara terus menerus mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan. Pasti ada harga yang harus dibayar untuk itu. Kata persembahan itu sendiri sudah mensyaratkannya terlebih dahulu. Secara pribadi, masalah yang saya hadapi untuk memberikan “persembahan yang hidup” adalah karena saya terus pelan-pelan menjauhi altar! Ketika harus bangun pagi-pagi untuk membersihkan rumah sehingga dapat mengadakan Pemahaman Alkitab bagi para tetangga, saya merasa hal itu lama-lama terasa sangat membebani jika harus melakukannya setiap minggu. Mula-mula nampaknya hal ini begitu menarik dan membuat saya merasa senang karena dapat melakukannya. Tetapi dengan adanya tiga anak yang masih balita yang sudah pasti akan membuat rumah menjadi seperti kapal pecah, lama-lama saya merasa sangat letih. Ya, memang, pelan-pelan menjauhi altar nampaknya merupakan pilihan yang cukup menggiurkan bagi ibu muda yang sedang mencoba untuk menjadi persembahan yang hidup!
Pada awal-awal pernikahan kami, ketika Stuart, suami saya, sering tidak ada di rumah karena harus melakukan pelayanan, saya masih dapat dengan jelas mengingat bagaimana saya harus memandikan dan menyiapkan ketiga anak saya yang masih balita untuk tidur. Lalu saya mulai mengosongkan ruang tamu kami, dengan menumpuk segala perabotan di garasi agar terdapat cukup tempat bagi beberapa baris kursi-kursi di ruang tamu. Setelah pengasuh anak yang saya pesan tiba di rumah dan menolong saya untuk memindahkan perabotan yang agak besar ke luar dari ruang tamu, saya kemudian pergi berkeliling dengan mengendarai mobil mini van ke sekitar tetangga-tetangga kami, menjemput sebanyak mungkin wanita-wanita yang dapat saya bujuki agar mereka sudi datang ke rumah kami untuk ikut Pemahaman Alkitab. Kadang kala saya hanya dapat mengajak dua wanita. “Kamu capai-capai melakukan semua ini hanya untuk dua wanita?” saya bertanya pada diri sendiri. Ya, karena saya tidak pernah tahu berapa banyak wanita yang akan hadir; kadangkala ruang tamu kami yang kecil dipenuhi oleh duapuluh lima wanita yang ingin belajar tentang Kristus. Kemudian setelah Pemahaman Alkitab selesai, saya harus mengantar mereka pulang satu per satu, dan baru dapat tiba kembali ke rumah sekitar jam dua belas malam untuk mengembalikan barang-barang yang ada di garasi kembali ke ruang tamu, dan setelah itu membersihkan dapur. Setelah semuanya selesai, barulah saya dapat membaringkan tubuh di tempat tidur, dan berdoa agar anak-anak saya akan tidur paling tidak sampai jam 6 pagi besok! Rasanya pertemuan mingguan itu datang begitu cepat, dan saya belajar untuk menjadi “persembahan yang hidup”, yaitu mempersembahkan bukan saja tekad (untuk mempersiapkan pelajaran) dan sikap yang terbuka (untuk mengatakan dan melakukan apa yang saya ajarkan), tetapi juga mempersembahkan pelayanan secara fisik kepada Allah yang saya kasihi karena Dia telebih dahulu mengasihi saya!
Untuk “mempersembahkan tubuh saya” berarti tubuh sayalah yang saya persembahkan, bukan tubuh orang lain. Belum lama ini, saya mendengar adik teman saya berkata kepadanya, “Rasanya kamu harus mengurusi ibu setelah ibu pulang dari rumah sakit.” Itu namanya mempersembahkan tubuh orang lain, bukan tubuhmu sendiri!
Pernahkah anda memperhatikan bahwa setelah kita mengaku percaya kepada Yesus Kristus dan berani untuk mengatakan hal itu kepada orang lain, rasanya orang-orang suka memperalat/mengambil keuntungan dari kita? Karena kita dikenal sebagai orang yang “saleh”, kita tiba-tiba harus sukarela melakukan hal-hal yang orang lain tidak ingin melakukannya. Pasti akan ada pengorbanan yang mereka minta untuk kita lakukan. Tetapi kita juga harus tahu bahwa pengorbanan yang kita harus lakukan adalah pengorbanan bagi altar yang telah dibangun oleh Tuhan khusus untuk kita. Kalau tidak, kita akhirnya akan menjadi tumpukan kayu api orang lain, sehingga menghalangi mereka untuk mendapatkan sukacita karena melayani Yesus!
Hal lain yang harus kita perhatikan dalam ayat Roma 12:1 adalah, kita harus mempersembahkan kepada Allah tubuh yang “suci” atau “terpisah dari dosa”. Tubuh inilah yang berkenan kepada Allah. Tentu saja kita tidak mempersembahkan tubuh kepada Allah agar kita memperoleh keselamatan. Kita mempersembahkan tubuh kita sebagai ucapan syukur karena Dia telah memberikan keselamatan kepada kita! Seperti apa yang diingatkan oleh Paulus, ini adalah persembahan kita yang sejati. Beribadah dan menyenangkan hati Allah adalah sesuatu yang setidak-tidaknya dapat saya lakukan untuk apa yang telah Dia lakukan bagi saya.
Bagaimana cara kita mempersembahkan tubuh kita kepada Allah? Dan kemana saya mempersembahkannya? Apakah tubuh kita harus dibawa ke gereja, ditanam di kursi gereja dan ditinggal di sana? Apa arti “mempersembahkan tubuh” yang sebenarnya?
Mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang suci dan secara terus menerus adalah ibadah yang sejati. Secara terus menerus berarti, ibadah yang sejati dapat terjadi baik di dalam maupun di luar gedung gereja. Dengan kata lain, hal-hal seperti pekerjaan – apakah itu sekuler atau pun bukan – dapat menjadi suatu ibadah yang sejati. Ibadah yang sejati juga dapat melibatkan kegiatan secara fisik, karena kehidupan orang Kristen bukanlah kehidupan yang terisolir. Sudah pasti kita perlu memasukkan pikiran serta keinginan kita dalam ibadah yang sejati. Kita juga perlu memasukkan emosi/perasaan kita. Tetapi pada akhirnya, tubuh kitalah yang menjadi agen dari pelayanan kerohanian kita.
Nasihat untuk mempersembahkan tubuh kita bukanlah untuk orang-orang seperti Paulus saja. Paulus berkata, “Aku menasihatkan kamu” – kamu artinya orang-orang yang biasa, orang Kristen jaman ini, orang seperti kamu dan saya.
Suatu pagi saat saya mengajarkan bagian ini untuk Pemahaman Alkitab, kami membutuhkan beberapa pengasuh anak (sehingga ibu-ibu dapat ikut PA tanpa diganggu anak-anak, ed.). Sayangnya, tidak ada yang mau bertugas sebagai pengasuh anak. Tidak lama kemudian saya mendengar dua wanita sedang berbicara.
“Saya sangat menyukai anak-anak,” kata wanita yang pertama dengan semangat.
Wanita yang kedua berkata sambil memamerkan foto-foto cucu-cucunya, “Saya juga!”
“Kalau begitu boleh saya minta agar kalian mempersembahkan tubuh kalian sebagai persembahan yang hidup di ruang tunggu anak,” saya menyela dengan senyum yang lebar. “Mereka sangat membutuhkan pertolongan di sana!” Langsung mereka mengerti. Memang, belum tentu orang yang mengetahui teologia dapat mempraktekkannya.
Sebelas pasal yang pertama dalam kitab Roma, Paulus menjelaskan “belas kasihan Allah.” Tetapi pada permulaan pasal ke 12, dia menggunakan kata sambung karena itu, yang menekankan kembali bahwa belas kasihan Allah seharusnya menjadi tujuan dari ibadah kita. Jika kita tidak pernah belajar bahwa ada harga yang harus dibayar untuk menjadi orang Kristen, maka kita mungkin tidak akan pernah secara penuh menikmati sukacita dalam melayani Allah. Jika dasar dari keKristenan kita bukanlah kasih sebagai ucapan syukur, langkah iman kita akan menjadi pengalaman yang sangat buruk. “Karena itu,” kata Paulus, “saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna” (Roma 12:1-2).
Bahan PA:
1. Kata karena itu dalam Roma 12:1 mengatakan kepada kita bahwa penulisnya, yaitu Paulus, sedang melakukan transisi, dan bahwa apa yang akan dikatakannya secara logis berhubungan dengan apa yang baru saja dia katakan. Bacalah pasal 11 dan jawablah pertanyaan ini: Dengan mengingat pernyataan Paulus – “Karena itu… demi kemurahan Allah” – alasan-alasan apa yang diberikan Paulus di pasal sebelum pasal 11 untuk apa yang akan dikatakan dalam pasal 11?
2. Dengan cara apa saja Allah menunjukkan kemurahan-Nya di dalam kehidupan anda?
3. Sebelum Paulus menasihati para pembacanya untuk bertindak (“mempersembahkan tubuhmu”), dia mengingatkan mereka kenapa mereka harus mematuhi permintaannya (“kemurahan Allah”). Sebagai orang Kristen, apa yang seharusnya menjadi motivasi kita untuk mematuhi perintah-perintah Allah?
4. Manusia mematuhi Allah karena berbagai alasan, di mana beberapa di antaranya adalah tidak benar. Cobalah mengingat-ingat kejadian di masa lalu di mana anda patuh karena alasan yang salah. Hal-hal apa saja yang menyebabkan anda ingin menjadi patuh?
5. Setelah mengetahui apa yang seharusnya menjadi motivasi kita sebagai orang Kristen, bagaimana anda akan meresponi pimpinan Allah pada minggu ini?
6. Jelaskan suasana hati serta kekuatan di belakang kata-kata Paulus dalam Roma 12:1-2.
7. Menurut Roma 12:1, apa syarat penyembahan orang Kristen yang sejati? Apa lagi yang dapat ditambahkan oleh Yohanes 4:23-24 kepada pengertian kita tentang penyembahan yang sejati?
Diterjemahkan dari buku “Body Language”.
===000===
MENGEMBANGKAN HUBUNGAN YANG POSITIF DENGAN ISTERI-ISTERI STAF LAINNYA
Oleh Nancy Pannell
Membangun dan menjaga hubungan staf yang baik tidaklah selalu mudah. Semakin besar jumlah staf, semakin banyak jenis kepribadian yang kita harus hadapi. Seringkali di pertemuan isteri staf saya mendengar keluhan: “Saya butuh nasihat. Bagaimana cara mengatasi masalah yang sulit dengan seorang isteri staf lainnya?” Atau, saya mendengar, “Banyak sekali perlakuan yang tidak adil di antara para staf di gereja kami. Suami saya merasa tawar hati dan tidak dihargai. Bagaimana cara menolong dia untuk mengatasi hal ini?”
Banyak isteri staf (dan juga suaminya) berperasaan negatif. Seseorang mungkin mulai merasa kesal ketika melihat staf lain mendapat gaji lebih besar, fasilitas yang lebih baik, dst. Karena kita hanyalah manusia biasa, kita harus menghadapi perasaan iri hati, ingin bersaing, dan ya, bahkan kecemburuan dari waktu ke waktu.
Bagaimana Cara Mengatasi Perasaan yang Negatif?
Ada tiga pilihan. Kita dapat membiarkan perasaan negatif tersebut berkembang sehingga kasus menjadi membesar yang mengakibatkan timbulnya rasa sakit hati (kita dapat mengakibatkan perpecahan yang serius dengan melontarkan kritik terhadap sesama anggota staf lainnya dan dengan mencoba mencari “pengikut” kita sendiri). Atau, kita dapat memendam perasaan-perasaan negatif tersebut, menipu diri sendiri, dan bertanya-tanya kenapa hidup kita sangat tidak bahagia. Atau, kita dapat menghadapinya dengan jujur dan dengan etika yang benar.
Menghadapi perasaan-perasaan negatif ini berarti mengakui masalah kita secara jujur di hadapan Allah, apakah itu iri hati, kecemburuan, penolakan, sakit hati, atau kemarahan. Mulailah dengan sikap yang jujur terhadap diri sendiri dan terhadap Tuhan. Anda dapat mengatakan kepada-Nya masalah yang sebenarnya dan perasaan anda. Dia sebenarnya sudah tahu semuanya. Doakanlah keadaan yang sulit ini dan doakan orang yang bermasalah dengan anda. Minta kepada Tuhan untuk menunjukkan anda di mana kesalahan anda – mungkin anda seharusnya bisa bersikap lebih pengertian atau lebih sadar terhadap kebutuhan orang lain. Mungkin anda memang hanya cemburu belaka karena anda ingin kekuasaan yang lebih banyak atau ingin lebih dihargai.
Menghadapi perasaan-perasaan negatif dengan etika yang benar berarti tidak membicarakan tentang kejelekan seorang staf kepada staf lainnya. Jika oleh karena suatu hal, yaitu dalam kasus yang sangat jarang terjadi, anda yakin seorang staf melakukan perbuatan immoral atau tidak beretika baik, atau jika ada perbedaan pendapat yang cukup serius, anda harus pergi ke orang tersebut untuk membicarakan masalah tersebut. Jangan membicarakannya dengan staf lainnya. Jika anda ada masalah dengan seorang staf atau isterinya, pergilah kepada dia (sebaiknya ada orang ketiga yang obyektif yang ikut hadir) dan dengan sikap yang penuh doa, terbuka, dan mau memaafkan, bicarakan masalah yang ada. Inilah cara yang Alkitabiah, dan ini cara satu-satunya yang menuju ke hubungan yang harmonis. Jangan terbawa arus untuk masuk ke dalam percakapan yang sifatnya mengkritik mitra kerja. Menyerang mitra kerja bukan hanya tidak profesional, tetapi juga bukan sifat seorang Kristen. Rasul Paulus dengan jelas menyatakan hal ini dalam Efesus 4:32: “Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.”
Jika anda adalah isteri seorang staf yang sulit untuk mengasihi sesama isteri staf lainnya, ingatlah bahwa dia juga hanya manusia biasa. Kalau anda bersikap kritis dan cemburuan, jangan harap dia dapat bersikap seperti teman baik anda!
Tetapi Bagaimana Jika Setelah Anda Mencoba Segala Cara Untuk Berteman dengan Isteri Staf Lainnya, Anda Tetap Ditolak?
Satu-satunya formula yang sukses yang saya tahu adalah tetap mendoakan orang tersebut! (Rasanya sudah pernah dengar, ya?) Saya yakin Allah akan mengubah hubungan anda atau menunjukkan anda bagaimana menghadapi hubungan ini dengan kasih. Allah mungkin akan menggerakkan salah satu dari kalian!
Retret staf yang melibatkan para isteri adalah cara yang baik sekali untuk menumbuhkan hubungan antar staf yang positif. Mengundang pada isteri staf untuk berkumpul untuk acara ulang tahun atau acara khusus lainnya juga akan menolong mereka untuk lebih saling mengenal.
Persahabatan yang dekat seringkali bertumbuh di antara para isteri staf. Karena mereka memiliki masalah yang sama, mereka dapat saling mendorong. Saya banyak dipengaruhi oleh isteri staf lainnya, yang tidak hanya menjadi teman saya, tetapi juga menjadi contoh bagi saya dalam hal cara hidup mereka yang penuh keramahan dan kemuliaan dan rasa humor yang tinggi.
Tetapi, para isteri staf tidak diharuskan menjadi teman baik satu terhadap lainnya, terutama jika minat, pekerjaan, dan umur mereka berbeda. Para isteri staf masih tetap dapat berkumpul bersama untuk acara-acara tertentu dan tetap dapat saling mendorong/menolong.
Pernahkah Saya Mengalami Hubungan Yang Retak Dengan Isteri Staf Lainnya?
Tentu saja! Saya akan ceritakan hubungan saya dengan LaVon.
LaVon adalah seorang isteri pendeta yang sangat cantik dan berbakat. Kami menjadi teman baik. Suatu hari Minggu ketika beberapa keluarga sedang berkumpul untuk makan malam bersama, LaVon dan saya tiba-tiba berargumentasi dengan hebatnya. Yang menarik, saya tidak ingat lagi apa yang menjadi penyebab pertengkaran kami. Saya hanya ingat betapa tidak enaknya perasaan saya. Malam itu ketika berada di gereja, kami masing-masing saling menghindar. Tentu saja, saya menjadi ingin membela diri dan meyakinkan diri bahwa dialah yang salah mengerti.
Jadi, saya mulai berdoa. Ketika saya berdoa, air mata saya mulai bercucuran. “Tuhan,” saya memohon, “tolonglah agar persahabatan saya dengan LaVon dipulihkan kembali. Saya tidak tahan jika persahabatan ini menjadi hancur.”
Allah tidak harus berbicara dengan keras supaya saya dapat mengerti apa yang Ia hendak katakan. Engkau sudah tahu apa yang engkau harus lakukan. Engkau harus datang ke LaVon dan meminta maaf.
“Tapi Tuhan, sulit sekali kalau saya yang harus minta maaf padanya!”
Hati saya semakin tertusuk. Akhirnya saya tidak tahan lagi. “Baiklah, Tuhan, kalau Engkau akan menyertai saya dan menunjukkan jalan, saya akan pergi malam ini.”
Saya mampir sebentar ke rumah untuk mengecek anak-anak dan beritahu mereka ke mana saya akan pergi. Ketika saya sedang bersiap-siap untuk pergi kembali, pintu bel rumah berbunyi.
LaVon sudah berdiri di depan pintu rumah saya! Dia yang datang ke rumah saya! Kami langsung berpelukan, tertawa dan menangis bersama, dan kami saling mengucapkan kata kasih dan minta maaf. Malam itu menjadi malam yang tidak terlupakan buat saya. Betapa berharganya pengalaman ini!
Tuhan kita memang senang menolong membangun kembali hubungan yang rusak jika kita menyerahkan diri dan hubungan tersebut kepada-Nya. Dan jika Dia mengembalikan hubungan tersebut menjadi baik, Dia akan melakukannya dengan baik sekali!
Saya tidak bermaksud untuk menyatakan bahwa mudah sekali untuk mencegah atau memecahkan masalah yang serius dalam hubungan antar staf.
Tetapi banyak Firman Tuhan yang dapat diaplikasikan untuk hubungan antar staf. Ayat-ayat pertama yang saya ingat adalah Filipi 2:3-7. “Dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingan sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.”
Kalimat, “mengambil rupa seorang hamba,” telah mengatakan segalanya. Ini berarti adanya pemikiran mau melayani, bukannya ingin dilayani, mau mengalah, bukannya menuntut agar keinginannya sendiri yang dituruti.
Berhubungan dengan orang lain dengan kasih Kristiani selalu banyak tantangan. Di luar hubungan keluarga, yang paling banyak tantangan adalah hubungan kerja. Tentu saja, ketika kita bekerja dengan seseorang dari hari ke hari, kita menjadi sadar akan kelemahan dan kekuatan orang tersebut. Umumnya, kita dapat menerima kebiasaan kecil yang menjengkelkan, sikap eksentrik dan suasana hati yang berubah-ubah dari anggota keluarga kita, tapi kita cenderung untuk kurang dapat menerima sifat mereka yang bekerja bersama kita.
Hubungan dengan para isteri staf memberikan saya beberapa kebahagiaan yang terbesar dalam pelayanan. Kalau bukan karena isteri-isteri para staf yang bijaksana, lebih dewasa rohaninya yang dengan kasih dan penuh kesabaran memberikan dorongan dan meneguhkan saya, saya mungkin sudah gagal dan tambah putus asa. Kadangkala, sesama isteri staf lainnya juga menolong membentuk saya.
Untung sekali semua isteri staf bukan hanya manusia biasa, tetapi juga secara luar biasa berbeda satu terhadap yang lainnya. Luar biasa ya, mereka memiliki bakat dan kerpibadian yang berbeda-beda? Tidak semua bisa menyanyi solo, tidak semua bisa main piano, tidak semua bisa mengajar, tidak semua bisa masak pastel tutup, tidak semua ibu rumah tangga yang sempurna (saya lontarkan ini karena saya termasuk dalam bagian yang ini), dan tidak semua setuju dengan saya!
Diterjemahkan dari artikel “Developing Positive Relationships with Other Staff Wives”, majalah Just Between Us, Edisi Summer 1996, hal.14-15,18.
===000===
Kata-Kata Mutiara
“Jangan takut untuk mengasihi sesama sampai perlu berkorban, sampai sakit rasanya. Kasih Yesus bagi kita membawa Dia ke kematian-Nya.” – Ibu Theresa
“Seni untuk melayani orang lain adalah menyerahkan segala kebutuhan anda kepada Allah sehingga anda bebas untuk melayani orang lain.” – Ron DiCianni
“Panggilan setiap orang adalah untuk melayani orang lain.” – Leo Tostoy
“Jangan menganggap anda sudah mengalami kemajuan dalam perjalanan rohani anda, kecuali jika anda menganggap dirimu paling rendah dari antara semua manusia.” –Thomas A Kempis
“Barangsiapa hendak menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barang-siapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang,” –Matius 20:26-28
Bertumbuh dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus (2 Pet.3:18)
Monday, September 3, 2007
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment