Mencari Kedamaian Di Tengah Dunia Yang Kacau
Oleh Sharon Flemming
Bagaimana kita mendapatkan ketenangan batin ketika keadaan di luar berputar-putar tak terkendali?
Baru-baru ini saya berkata kepada teman saya bahwa saya ingin sekali mengunjungi teman saya yang tinggal di suatu negara di Timur Tengah. “Tetapi,” saya berkesimpulan, “saya sekarang rasanya takut untuk ke sana.”
“Sharon,” teman saya protes, “kamu dulu pernah tinggal di negara Colombia.”
Saya lalu teringat akan kehidupan saya selama 17 tahun di dua negara yang paling keras di dunia ini. Selama delapan tahun di Peru, gerombolan gerilya penganut Maoisme secara rutin meledakkan bom mobil yang bunyinya dapat terdengar dari rumah kami. Dua kali bom tersebut mengguncangkan rumah kami.
Negara di mana saya tinggal selama sembilan tahun memiliki tingkat pembunuhan tertinggi di dunia, tingkat penculikan tertinggi di dunia, dan selama 44 hari pertama di tahun ini saja sudah terjadi 500 kecelakaan lalu lintas di kota Bogota, kota tempat tinggal saya. Di kota-kota lainnya, penduduk hidup dalam keadaan perang tak berkesudahan.
Setelah kejadian 11 September 2001, supaya lebih aman kami dianjurkan untuk kembali ke “kampung halaman” di Amerika. Saya menjawab balik, “Aku merasa sudah berada di kampung halaman sendiri di sini. Kami merasa damai sejahtera tinggai di sini.” Terus terang seharusnya saya menambahkan, “hampir selalu.”
Dapatkah dengan menjadi orang Kristen hal ini menolong kita menghadapi rasa takut? Apa yang memberikan ketenangan batin ketika di luar keadaan berputar-putar tak terkendali?
Berada Dalam Kehendak Allah
Kami tinggal di negara ini karena Allah menyuruh kami. Secara umum Dia berkata, “Pergilah ke seluruh dunia,” bukan hanya ke tempat-tempat yang indah, nyaman, dan aman. Secara khusus, Allah menunjukkan kepada kami bahwa Dia ingin keluarga kami menjadi misionaris. Setelah Allah menggerakkan tiang awan di atas kami, kami yakin bahwa tempat yang paling aman adalah tempat di mana sekarang kami berada. Ini tidak berarti kami akan bebas dari kejahatan, tetapi hal ini menunjukkan iman kami di dalam rencana Allah yang sempurna.
Bagaimana kita mengetahui kehendak Allah? Beribu-ribu halaman telah ditulis untuk menjawab pertanyaan itu, tetapi buku yang paling tepat adalah Alkitab. Dengan membaca Alkitab setiap hari, kita diberitahu apa yang harus kita lakukan. Dengan merenungi Firman Allah, kita akan ditegur ketika kita berada di luar kehendak Allah. Allah telah memberitahu kita bahwa Firman-Nya “sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita” (Ibr. 4:12). Tugas kita adalah untuk mempersembahkan tubuh kita untuk menjadi berbeda dengan dunia ini, dan menjadi berguna bagi Allah (Rom. 12:1-2).
Salah satu dari mentor kami adalah pasangan suami isteri yang mengalami damai sejahtera berada dalam kehendak Allah selama lebih dari 50 tahun berada di lapangan misi. Pemberontakan dan perang saudara terjadi selama pelayanan mereka bertahun-tahun, sewaktu negara Kongo di bawah Belgia berubah menjadi negara Republik Zaire pada tahun 60-an. Pergolakan terus terjadi di tahun 90-an ketika Negara Demokrat Republik Kongo muncul kembali di tengah-tengah perjuangan berdarah. Sewaktu kekerasan dan peperangan semakin panas, mereka menulis surat untuk menenangkan teman-temannya yang mengkuatirkan mereka: “Rasa aman timbul bukan di tengah-tengah absennya bahaya, tetapi di tengah-tengah kehadiran Allah.” Ketika berpuluh-puluh ribu orang ramai-ramai lari mengungsi, mereka tetap berdiam diri karena Allah memberikan mereka damai sejahtera berada di dalam kehendak-Nya dengan mengingatkan mereka akan kehadiran-Nya.
Mengenal Allah
Sewaktu saya menulis artikel ini, saya sedang menunggu hasil biopsi payudara saya. Kemarin saya duduk di ruang tunggu dokter, gelisah dan hampir menangis. Kemudian saya mengingat-ingat kembali ayat-ayat hafalan saya, yang kebanyakan adalah tentang karakter Allah. Ketika saya merenungkan apa yang saya ketahui tentang Allah, saya kembali sadar bahwa saya dapat menyerahkan hasil biopsi ini kepada-Nya juga. Allah sanggup menopang saya melalui masalah ini. Ketika dokter mengatakan bahwa hasilnya belum selesai, saya hanya tertawa. Waktu keluar dari ruang periksa, saya merasakan damai sejahtera jauh lebih besar dari sebelumnya.
Beberapa orang meninggalkan Kolombia karena tekanan hidup yang begitu besar – stress karena tidak aman, stress karena hidup tidaklah mudah di sana. Tetapi Kolombia bukanlah satu-satunya tempat yang tidak aman di dunia. Orang yang mencari kehidupan tanpa masalah di berbagai tempat akan dapat menjadi putus asa. Allah adalah Yahweh-Shalom. Dia adalah damai sejahtera. Kita harus dikuasai oleh Allah Kedamaian.
Saya tidak mengatakan saya selalu merasakan damai sejahtera. Saya sering bergumul dan kuatir. Ketika saya menunggu hasil biopsi, dengan rasa pesimis saya mulai membayangkan bahwa nanti saya harus dengan hati-hati menjelaskan kepada anak-anak saya yang masih kecil bahwa hanya karena paman mereka mati akibat kanker, kanker itu sendiri bukanlah hukuman mati. Saya juga membayangkan nanti saya harus dengan kikuk belajar masak hanya dengan satu tangan, atau saya harus membeli wig untuk menutupi kepala saya yang botak. Untuk menghentikan bayangan-bayangan ini, saya kembali menghadap kepada Allah, bersyukur kepada-Nya atas apa yang telah Dia lakukan. Ketika saya merenungkan Allah, damai yang sempurna kembali menguasai diri saya.
Untuk merenungkan Allah, saya perlu mengenal-Nya. Dengan mencontoh teman saya, Mimi Wilson, saya mempelajari karakter Allah setiap tahun. Saat teduh saya, buku yang saya baca, dan PA yang saya pimpin semua berfokus kepada karakter Allah. Ketika saya belajar mengenal Allah, saya dibekali dasar-dasar yang kuat yang dapat menolong saya ketika menghadapi masalah. Allah telah membuat firman-Nya dalam Yesaya 26:3 menjadi kenyataan bagi saya, “Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya.”
Kuasai Pikiranmu
Karena janji-janji-Nya, saya merasa damai untuk terus tinggal di Kolombia. Dia dengan lembut dan setia mendorong, “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus” (Fil. 4:6-7). Daripada mengikuti bayangan-bayangan kekuatiran saya, saya lebih baik mengundang Allah untuk memasuki segala aspek pikiran saya, dan karenanya mengalami damai sejahtera di luar batas pengertian yang rasional.
Paulus memberikan batasan-batasan untuk menguasai pikiran kita. Filipi 4:8 mengatakan, “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semua itu.” Ini adalah ujian bagi pikiran kita. Apakah apa yang saya kuatirkan itu benar? Apakah program yang memenuhi pikiranku suci? Rencana untuk balas dendam, apakah ini manis? Adakah hal-hal yang patut dipuji dalam novel yang saya baca? Menguasai pikiran bukanlah hal yang saya dapat lakukan seorang diri. Setiap hari, saya memohon pertolongan kepada Allah. Hampir setiap saat saya mengaku dosa karena pikiran-pikiran saya yang tidak benar. Saya memilih ayat-ayat hafalan berdasarkan peperangan rohani pribadi saya. Ketika saya menggantikan pikiran saya dengan Firman-Nya, saya mendapatkan kemenangan.
Ketika anak remaja saya naik bis kota, pergi ke rumah temannya, saya menyerahkan dia kepada Tuhan dan meminta agar Tuhan bertakhta dalam pikiran saya yang terlalu aktif. Suatu waktu, saya merasakan damai yang luar biasa ketika anak saya dalam perjalanan pulang setelah hari menjadi gelap sampai saya lupa menyisakan makan malam untuk dia! Setiap hari ketika saya melambaikan tangan kepada anak-anak saya yang baru masuk ke bis sekolah, saya mohon agar Allah melindungi mereka di tengah keramaian lalu lintas yang kacau balau. Beberapa menit kemudian, begitu mendengar sirene mobil ambulans mengaung-ngaung, saya langsung berdoa, mohon perlindungan, dan mengucap syukur. Puji syukur saya langsung mengalami damai sejahtera dari Allah. Dia tidak pernah mengecewakan.
Kadangkala, hidup tidak seperti apa yang kita inginkan, yaitu yang rapih, nyaman dan dapat kita kuasai. Tetapi Allah memiliki rencana yang kekal. Dengan mengenal dan percaya kepada-Nya, kita akan mendapatkan damai sejahtera yang sejati di dunia.
Diterjemahkan dari artikel “Finding Peace in a Chaotic World”, majalah “Just Between Us”, Winter 2002, halaman 16-17.
===000===
ADA ULAR DI TAMANKU
Oleh Jill Briscoe
“Di Belakang Senyum”
Saya selalu percaya kepada Allah, dan bahwa Yesus Kristus dalam anak-Nya, dan bahwa Alkitab adalah benar. Kedua orang tua saya mengajarkan perbedaan antara apa yang benar dan yang salah. Benar adalah kelakuan yang “baik,” yang membuat saya dan orang lain bahagia; salah adalah kelakuan yang “tidak baik,” yang membuat saya dan orang lain sedih. Lalu, kenapa saya berkeinginan menjadi “tidak baik”, bukannya “baik”? Kenapa hal-hal yang tidak baik memberikan saya kesenangan? Kenapa kelakuan yang “baik” nampaknya begitu membosankan? Mungkin informasi yang saya terima selama ini salah.
Segala sesuatu yang berada di taman saya kelihatan indah. Segala pohon di dalamnya dapat saya nikmati: pohon pendidikan; pohon bepergian; pohon persahabatan yang erat dan hiburan yang sehat; pohon keluarga yang penuh kasih dan hidup tanpa masalah. Buah dari pohon-pohon ini bebas dapat saya makan. Tetapi seperti Hawa, saya mengingini buah dari pohon yang tidak boleh saya sentuh lebih dari segala-galanya!
Seperti hawa, saya pun juga memiliki pohon terlarang yang berdiri di antara pohon-pohon lainnya yang boleh saya nikmati. Setiap hari pohon terlarang mengingatkan saya pada salah satu dari pemberian Allah yang paling berharga kepada umat manusia yang dicipta menurut peta dan teladan-Nya – yaitu kebebasan untuk memilih.
Pada saat itu saya tidak sadar, tetapi di antara pohon-pohon yang berada di taman saya, ternyata ada ular. Dia menghampiri saya, sama seperti yang dilakukannya kepada Hawa – dalam bentuk yang begitu akrab dengan saya – karena tipu dayanya belum pernah berubah. Ular itu berbicara kepada saya melalui orang-orang yang telah saya kenal seumur hidup; teman-teman saya yang hidup di taman yang sama, sehingga saya tidak merasa curiga atau ada bahaya.
“Makanlah buah itu. Kami semua sudah pernah memakannya, dan ternyata tidak ada dari kami yang mati!” Jadi, karena begitu ingin tahu rasa buah tersebut saya memakannya juga. Saya tidak sadar bahwa proses kematian sudah dimulai pada saat gigitan pertama; pada saat buah telah habis saya makan, saya mulai merasa mual dan sakit perut.
Saya sangat mengasihi dan menghormati kedua orang tua saya sehingga saya tidak ingin menyakiti hati mereka. Tetapi saya merasa mereka tidak akan mengerti alasan kenapa saya berbuat dosa, yang saya anggap adalah proses “bertumbuh menjadi dewasa.” Jadi saya memutuskan jalan yang terbaik adalah untuk berpura-pura berkelakuan “baik” sewaktu mereka berada di sekitar saya. Sementara itu, saya belajar untuk memakan buah terlarang di bagian-bagian taman yang hanya dihuni oleh sang ular dan saya!
Contohnya, saya tahu seharusnya saya tidak boleh membaca buku-buku yang kotor, jadi saya tidak membacanya. Tetapi pikiran yang kotor nampaknya lebih diperbolehkan dan dapat dinikmati di belakang senyuman. Saya diberitahu bahwa menyontek sewaktu ujian itu tidak benar, tetapi saya dapat membuang rasa bersalah saya dengan beragumentasi bahwa dengan menyontek nilai saya menjadi lebih baik, dan nilai yang lebih baik membuat orang tua saya senang – sepanjang saya tidak tertangkap basah! Bagaimana jika saya ketahuan menyontek? Ya, saya bisa membius kesadaran saya dan membohongi orang tua saya. Bukankah hal ini lebih baik daripada mengatakan hal yang sebenarnya, yang nantinya mengakibatkan hati orang yang saya kasihi menjadi sengsara dan malu?
Tiba saatnya saya berusia delapanbelas tahun dan menjadi lebih bingung lagi. Saya merasa hidup saya tidak berkecukupan. Ada sesuatu atau seseorang yang masih kurang. Saya melihat orang lain. Sudahkah mereka menemukan rahasia kehidupan? Kadangkala saya melihat di belakang senyum mereka dan melihat kenyataan yang sebenarnya. Salah satu orang terkaya yang saya kenal meninggal karena bunuh diri. Sudah jelas kekayaan materi tidak menolongnya untuk mengisi kekosongan di dalam dirinya. Teman saya yang terbaring di rumah sakit sedang tidak bahagia, dan dia menyalahkan kesehatannya. Saya memiliki kesehatan yang baik, jadi jelas ini bukan jawaban yang tepat juga. Teman saya lainnya tidak merasa bahagia, dilempar bolak balik di antara kedua orang tuanya yang pernikahannya sedang bermasalah. Walaupun saya hidup di tengah-tengah keluarga yang penuh kasih, yaitu hasil dari pernikahan kedua orang tua yang harmonis, tetapi saya tetap merasa gelisah.
Entah kenapa saya merasa bahwa jawabannya bukanlah berada pada kekayaan materi atau pun kesenangan dalam hidup seperti kesehatan dan kebahagiaan, tetapi di dunia yang begitu rahasia – kembali kepada antara yang “baik” dan “tidak baik! Tetapi kebaikan nampaknya sulit untuk dijabarkan, dan ketidakbaikan sudah membuat saya muak pada diri saya sendiri. Jadi di manakah jawabannya? Apa yang harus saya lakukan? Kemana saya harus pergi? Saya harus menjadi sebaik apa, dan harus menjadi sejahat apa sebelum saya menemukan – apa? Di dalam keadaan yang membingungkan, saya tidak tahu apa yang sedang saya cari-cari. Mungkin yang saya cari sedang duduk menunggu saya di taman yang lain, di suasana yang lain.
Tiba saatnya bagi saya untuk membuktikan teori saya, yaitu ketika saya diterima sebagai mahasiswa dan belajar untuk menjadi guru di Cambridge.
“Ya,” saya meyakinkan orang yang mewawancarai saya, “saya sangat menyukai anak kecil,” sementara di belakang senyum saya sang ular tertawa terkekeh-kekeh berdesis, “Sungguh?!”
Setelah masuk kuliah di perguruan tinggi, olok-olokan sang ular ternyata benar. Saya anggap anak kecil adalah suatu gangguan yang harus ada. Mereka menuntut untuk mengambil waktu saya yang sibuk dan berharga, yang saya perlukan agar saya dapat segera menemukan pohon-pohon baru yang buahnya lebat yang sebelumnya saya tidak pernah berani menyipinya di taman yang begitu indah tetapi begitu dijaga di rumah saya.
Saya mengambil jururan drama dan seni, yang menolong saya untuk dapat melontarkan senyum dan memainkan peran apa saja yang cocok bagi egoisme saya. Banyak wanita yang mahir dalam hal ini. Wanita memiliki kemampuan berbicara dan drama dapat menolongnya untuk mementaskan peran utama yang menarik atau menjengkelkan yang berakar dalam dirinya. Saya ternyata mampu memerankan keduanya dengan baik, dan mengharapkan orang lain terkesan dengan kemampuan saya! Hidup saya sekarang menjadi “drama” yang panjang. Sebelum layar di panggung dibuka dan memperlihatkan saya, saya adalah orang yang kesepian, ketakutan, dan tidak yakin bahwa saya dapat mempengaruhi penonton. Apakah mereka akan menyukai pertunjukan saya? Apakah mereka akan tertawa saat saya mencoba melawak, menangis saat saya mementaskan kepedihan, dan menepuki tingkah saya yang menarik perhatian? Penting bagi saya untuk mengetahui bahwa penonton puas dengan pertunjukan saya. Saat kembali ke ruang ganti baju, menghapus semua dandanan wajah dan menanggalkan jubah pentas, saya merasa sangat lelah, depresi, dan tidak puas.
Mungkin saya terlalu banyak berpentas dipanggung, atau mungkin saya terlalu banyak memakan buah terlarang. Saya tidak tahu. Tiba-tiba datang penyakit perut misterius yang membawa saya ke rumah sakit. Di belakang senyum, saya merasa takut. Saya memerlukan jawaban dari pertanyaan saya sekarang juga. Saya tidak lagi memikirkan cara untuk memuaskan kehidupan saya yang egois atau tentang bagaimana saya bisa mendapatkan keinginan saya. Saya mulai ingin tahu bagaimana menghadapi rasa takut, rasa sakit, dan mengerti kesengsaraan orang lain serta tahu bagaimana mencari kata-kata yang tepat untuk menghibur. Saya harus berjuang menghadapi kematian dan mencari jawaban yang tepat.
Saya baru sadar bahwa ketika saya telentang di tempat tidur, hanya ada satu arah untuk melihat. Ke atas! Di atas sanalah tempat di mana saya percaya saya selalu dapat menemukan Tuhan. Tetapi, apa yang bisa saya katakan kepada Tuhan yang asing, yang mungkin tidak mengetahui saya yang begitu kecil dan yang sedang kacau, terbaring di rumah sakit yang tak dikenal di Planet Bumi?
“Tolong!” saya berkata. “Sembuhkanlah saya. Keluarkan saya dari tempat ini! Cepat, hentikan rasa sakit ini. Apakah Engkau mendengar saya?” Oh oh, ini rasanya seperti bicara di radio saja. Radio atau bukan, Tuhan mendengar pesan saya dan menempatkan alat pemancar yang bagus sekali di samping kuping kiri saya.
Dia bernama Yenny, dan dia berbaring di tempat tidur di samping saya. Dialah yang mengatakan bahwa ada ular di taman saya, dan saya telah mendengar setiap perkataannya dan mempercayai kebohongannya, bukannya kebenaran Tuhan. Buah terlarang nampak begitu nikmat sehingga saya telah memakannya, karena ingin menjadi bijak dan tetapi akhirnya menjadi congkak dan sombong. Saya lalu menjadi allah saya sendiri, yang sekarang bahkan tidak dapat menjawab doa saya sendiri! Tidaklah heran kalau saya begitu sakit jiwa. Karena dosa, saya berpakaian daun argumentasi, yang dengan hati-hati telah dijahit tetapi sangatlah tidak memadai.
“Yesus datang dan mati bagimu di kayu salib, Jill,” kata Yenny. “Di sana Ia telah meremukkan kepala sang ular dan mengalahkannya, tetapi sebelum itu sang ular telah meremukkan tumit-Nya sampai Ia begitu menderita. Dia bangkit mengalahkan kematian dan dosa, dan hidup kembali. Dia ingin masuk ke dalam hidupmu melalui Roh Kudus-Nya.”
“Apa itu Roh Kudus?” saya bertanya. Saya pernah dengar nama Roh Kudus, tetapi yang ada dalam bayangan saya adalah hantu mengerikan yang bergentayangan di gereja-gereja tua! Menurut pendapat saya yang bodoh, Roh itu bebas melakukan hal tersebut karena Allah telah mati atau pergi berlibur, sehingga yang sisa hanyalah Roh itu saja. Yenny tertawa. Eh, apakah orang Kristen bisa tertawa? Saya pikir orang Kristen itu terlalu kaku, membosankan, dan terlalu alim untuk dapat tertawa seperti itu! Ternyata saya salah.
“Roh Kudus adalah sifat Ilahi Allah yang diturunkan pada hari Pentakosta,” Yenny menjelaskan. “Roh Kuduslah yang memungkinkan kita untuk memiliki kehidupan Kristus.”
Senyum saya menghilang, berganti dengan air mata yang bercucuran, karena saya mulai menyadari keterlanjangan saya di taman dan dosa-dosa saya. Saya langsung menerima jubah dari Allah untuk menutupi keterlanjangan saya. Berjubahkan pengampunan dosa dan kasih karunia Allah, saya pergi meninggalkan pohon ketidaktaatan menuju hidup yang baru.
Sang ular di taman saya menggeliat penuh amarah dan merangkak pergi jauh – untuk sementara!
Diterjemahkan dari buku “There’s A Snake In My Garden”, Jill Briscoe, Harold Shaw Publishers, Wheaton, Illinois, hal.13-18, dengan seijin pemilik copyright.
===000===
MENGHADAPI ORANG MISKIN
Oleh Cindy Hayes
Orang-orang miskin dapat ditemukan di mana saja, baik di kota maupun di desa. Kadangkala mereka datang meminta nasi, meminta sumbangan untuk panti asuhan, atau mungkin mereka sedang mengelap mobil kita yang baru saja dicuci dengan lap kotor. Hati saya merasa kasihan, tetapi juga ingin tahu apakah mereka benar-benar miskin atau hanya berpura-pura saja. Sejauh manakah tanggung jawab saya terhadap mereka sesuai dengan apa yang Yesus katakan, “Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu” (Mat. 5:42)?
Sewaktu membaca Alkitab, saya belajar bahwa Allah memenuhi kebutuhan orang miskin (Maz. 68:11), menyelamatkan nyawa orang miskin (Maz. 72:13), membela orang miskin (Maz. 140:13), mendengar jeritan orang miskin (Ayub 24:28), melindungi orang miskin (Maz. 12:6), tidak akan meninggalkan orang miskin (Yes. 41:17), dan memberikan makanan kepada orang miskin (Maz. 146:7). Dan saya juga menemukan bahwa kita mempunyai tanggung jawab untuk menolong orang miskin.
“Berilah keadilan kepada orang yang lemah dan yang yatim, belalah hak orang sengsara dan orang yang kekurangan! Luputkanlah orang yang lemah dan yang miskin, lepaskanlah mereka dari tangan orang fasik!” (Maz. 82:3-4)
“… supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah roti bagi orang yang lapar, dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak membunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!” (Yes. 58:6-7)
“Jika sekiranya ada di antaramu seorang miskin… engkau harus membuka tangan lebar-lebar baginya dan memberi pinjaman kepadanya dengan limpahnya, cukup untuk keperluannya, seberapa ia perlukan.” (Ul. 15:7-8)
“Tetapi apabila kamu mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta… sebab engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benar.” (Luk. 14:13-14)
Oleh karena itu, sebagai utusan-utusan Allah, kita juga harus membela orang miskin. Tetapi secara jujur saya sering merasa kewalahan dan bingung. Kadangkala secara naluriah saya ingin mengabaikan mereka dengan dalih bahwa mereka tidak pantas untuk ditolong. Hati saya kemudian maju satu langkah lagi untuk menjadi lebih keras, tetapi saya berdoa melawannya.
“… maka janganlah engkau menegarkan hati ataupun menggenggam tangan terhadap saudaramu yang miskin… hati-hatilah, supaya jangan timbul di dalam hatimu pikiran dursila… (Ul.15:8-9)
“Akan tetapi, berikanlah isinya sebagai sedekah dan sesungguhnya semuanya akan menjadi bersih bagimu. Tetapi celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu membayar persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu mengabaikan keadilan dan kasih Allah… celakalah kamu… sebab kamu meletakkan beban-beban yang tidak terpikul bagi orang, tetapi kamu sendiri tidak menyentuh beban itu dengan satu jaripun.” (Luk. 11:41-42, 46)
Saya perhatikan Yesus tidak berfokus pada kekurangan mereka (malas, kurang terpelajar, pecandu alkohol, rokok, judi…). Bukankah Yesus berkata, “Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut” (Luk. 12:48)? Bukankah sebagai murid Yesus kita harus mengasihi musuh, berdoa bagi orang yang mencaci kita, mengasihi orang yang tidak dapat membalas kasih kita, meminjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, mengasihi orang yang tidak tahu berterima kasih dan yang jahat, tidak boleh menghakimi mereka, tetapi sebaliknya mengampuni mereka dan tetap memberi? (Luk 6). SEMUANYA INI BERLAWANAN DENGAN PEMIKIRAN MANUSIA! Tetapi tetap kita harus bertanggung jawab untuk memberi waktu kita, kekayaan kita, kasih kita…
Sebenarnya apa yang kita beri tidaklah sepenting sikap kita di dalam memberi. Carilah sikap yang penuh kasih; yang penuh sukacita sewaktu memberi (II Kor. 9:7). Doakan sikapmu sendiri terhadap orang miskin. Jika kita memasuki dunia mereka, kita mungkin dapat ikut merasakan keputus asaan mereka, mengerti mengapa mereka bersikap manipulatif dan ingin bergandul kepada kita, dan ikut merasakan ketidak adilan dan kesengsaraan yang banyak dari antara kita tidak sanggup untuk menanggungnya. Kita sudah pasti akan diperalat dan nantinya akan merasa dikecewakan. Tidak ada jawaban yang tepat untuk masalah ini; hanya kita harus yakin bahwa tidak ada perbuatan kasih yang terbuang percuma di mata Allah. Kebanyakan orang yang memberi berprasangka orang miskin ini nanti “menjadi kebiasaan”. Memberi berdasarkan ketulusan hati selalu mendatangkan berkat bagi orang yang memberi, tidak peduli apakah orang yang menerima pantas menerimanya atau tidak.
Walaupun demikian, kita tentunya tidak dapat memenuhi kebutuhan setiap orang, dan oleh karenanya kita memerlukan ketajaman mata dan bijaksana. Hal tersebut dijanjikan akan diberikan kepada orang yang mencari dan memintanya (Am. 18:15, Yak. 1:5). Berdoalah! Carilah waktu untuk menyendiri di kamar tidur dan berdoa. Jika keadaan tidak begitu genting, mintalah waktu pada orang yang sedang perlu pertolongan tersebut agar kita dapat berdoa terlebih dahulu sebelum memberikan jawaban kepadanya. Alkitab berjanji bahwa Roh Kudus akan memimpin kita kepada kebenaran (Yoh. 16:13), yang menolong kita menjadi peka terhadap petunjuk Allah. Cobalah untuk mengetahui apakah kita merasa damai sejahtera atau gelisah? Semakin kita bertumbuh menjadi dewasa rohani dan lebih mengerti budaya di lingkungan kita, kita tidak akan mudah dikelabui oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan (Ef. 4:14). Namun demikian kita juga harus menyadari bahwa kita tidak harus menentukan apakah si peminta pantas untuk menerima uang. Kita hanya perlu mengetahui kehendak Allah. Tanggung jawab kita sebagai anak-anak Allah adalah untuk mematuhi Dia, bukannya menentukan bagaimana pemberian kita sebaiknya digunakan. Pemberian kita menyatakan kasih jika diberikan dengan sikap yang benar. “…Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran” (I Yoh. 3:16-18).
Apakah kita mempunyai komitmen untuk mau berkorban dengan memberi kekayaan kita baik secara materi maupun spiritual kepada mereka yang membutuhkannya? Raja Yosia membela orang sengsara dan orang miskin, sehingga segala sesuatunya berjalan dengan baik (Yer. 22:16). Kornelius (KPR 10) sewaktu mencari Allah dipertemukan dengan Petrus karena kepekaannya terhadap orang miskin. “Doamu telah didengarkan Allah dan sedekahmu telah diingat di hadapan-Nya”. Orang Samaria (Lukas 10) dikenal karena hatinya tergerak untuk menolong orang yang memerlukannya. Janda dalam Lukas 21 dijadikan contoh bagi kita semua karena dia memberi dari kekurangannya. Dan Yesus menunjukkan belas kasihan kepada orang miskin dan melarat. Sebagian besar dari hidup-Nya dihabiskan di tengah-tengah mereka dan bersedia dikritik oleh para pemimpin agama saat itu karenanya.
Marilah kita mengumpulkan harta di sorga! Biarlah kita semua menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi (I Tim. 6:18-19). Jika kita mencontoh kehidupan Yesus dan hidup di bawah kuasa Roh Kudus, hati kita akan tergerak untuk menolong ketika kita melihat kesengsaraan orang lain. Walaupun kita diperingati untuk berbijaksana di dalam memberikan kekayaan kita, tetapi nampaknya tidak ada konsekuensi yang kekal jika kita menjadi terlalu mudah merasa kasihan kepada orang lain. Alkitab tidak pernah menyebutkan bahwa kita akan dihakimi dalam kekekalan jika kita banyak menolong, mengasihi atau memberi – kita hanya akan dihakimi jika kita gagal menolong orang yang memerlukan pertolongan (Mat. 25).
Orang yang baik bermurah hati dan memberi pinjaman…
Dia memberikan sedekah kepada orang miskin. Mazmur 112
===000===
Dasar anak-anak!
Seorang guru TK sedang memperhatikan murid-muridnya yang sedang menggambar. Sekali-kali dia mengitari meja-meja di kelasnya untuk melihat karya seni setiap anak. Melihat salah satu anak yang kelihatan sibuk sekali menggambar sesuatu, guru itu bertanya apa yang sedang digambarnya.
Anak itu menjawab, “Saya sedang menggambar Tuhan.” Guru itu berhenti sejenak dan kemudian berkata, “Tapi tidak ada yang tahu Tuhan itu seperti apa.” Tanpa ragu-ragu anak itu langsung menjawab, “Sebentar lagi mereka akan tahu.”
Seorang anak memperhatikan ayahnya, yang adalah seorang pendeta, sedang menulis kotbah. “Ayah tahu dari mana harus ngomong apa?” katanya. “Tahu dari Tuhan,” jawab ayahnya. “Oh,” kata anak itu, “lalu kenapa ayah banyak mencoret yang sudah ditulis?”
===000===
Tempat Di Mana Tidak Ada Penyesalan
Oleh Jackie Katz
Ya, saya mengaku saya punya penyesalan. Maunya sih tidak, tetapi kenyataan bukan demikian. Saya menyesal saya mendisplinkan anak penuh amarah. Saya menyesal saya menggunakan kemarahan saya untuk menguasai anak. Saya menyesali ketidaksabaran dan kata-kata saya yang tajam. Saya menyesali sifat saya yang tidak baik dan kegagalan saya untuk mendorong anak-anak saya. Saya sungguh menyesali semua itu. Walaupun sekarang anak-anak saya sudah dewasa, penyesalan saya begitu besar sampai saya melupakan hal-hal baik yang saya lakukan sebagai ibu. Akhir-akhir ini penyesalan menjadi teman yang akrab dan sering datang.
Penyesalan bukanlah hal yang mudah untuk dipikul. Penyesalan penuh berisi kata-kata “Andai saja.” Andai saja saya dapat menghapus masa lalu. Andai saja saya dapat mengulang masa lalu. Andai saja… Tetapi kita tidak akan pernah kembali ke masa lalu. Pilihan yang kita ambil hari ini mempunyai akibat di masa depan dan kita harus menerima konsekuensinya. Ini prinsip menanam dan menuai yang dibicarakan dalam Alkitab. Kita menuai apa yang kita tanam. Oh, ini bukan karena saya tidak pernah memohon ampun; sudah… sering sekali. Saya mengakui kegagalan saya dan memohon ampun, dan anak-anak saya cepat mengampuni saya, tetapi saya tetap menyesal bahwa saya tidak dapat menguasai diri. Bagaimana kita dapat memperkecil “penyesalan” dan “andai saja…”? Kita harus menilai kelakukan kita hari ini dan mengubahnya jika ada yang tidak baik.
Dalam Ef. 6:4 Paulus berkata, Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu…” Di sini Paulus membicarakan tentang masalah membesarkan anak, yang melibatkan kedua orang tua. Kata membangkitkan di sini artinya membuat orang, selain dirinya sendiri, marah. Marah yang macam ini adalah ledakan amarah yang terjadi secara tiba-tiba. Orang tua harus mendidik anak-anaknya melalui cara yang tidak membuat anak-anaknya menjadi pemuda dan pemudi yang mudah gusar.
Dalam Kolose 3:21, perintah yang hampir sama diberikan, “Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya.” Kata menyakiti di sini artinya menyakitkan hati, mengacaukan, menjengkelkan, menggusarkan. Orang tua perlu mendisplinkan anak-anaknya melalui cara yang tidak “mematahkan jiwa mereka”.
Allah menempatkan kita untuk memiliki wewenang atas anak-anak kita, tetapi Dia memperingati kita untuk tidak menyalahgunakan wewenang tersebut. Kita bertanggung jawab untuk melaksanakan wewenang itu, dan jika disalah gunakan, maka hal ini akan membawa akibat yang menyedihkan, yang hanya menuntun kita kepada penyesalan.
MENGENALI GEJALA-GEJALANYA
1. Kemarahan yang keluar. Anak ini dengan sengaja tidak mau patuh dan meledak terhadap orang yang ingin mengaturnya. Kemarahannya “dikeluarkan.” Dia tidak bisa diatur, tidak punya rasa hormat, dan tidak dapat menguasai tabiatnya.
2. Jiwa yang terluka dan tertutup. Jiwa anak ini nampak patah dan tertutup. Dia senang menyendiri dan wataknya sering berubah, tidak mau mendengar nasihat, apatis, tawar hati atau bahkan tidak mau diatur.
3. Rendah diri. Sebagian besar dari konsep diri anak berasal dari persepsi dia tentang apa yang kita pikirkan tentang dia. Jika dia tidak “merasa” dikasihi dan dihormati, dia beranggapan bahwa dia telah mengecewakan kita.
RENCANA UNTUK BERUBAH
Sekarang mungkin anda merasa ingin menyerah saja! Jika anda merasa anda telah berbuat banyak kesalahan di dalam mendidik anak-anak, selamat datang di dunia ini! Mendidik anak bukanlah tugas yang sederhana, dan kita bukanlah orang yang sempurna. Allah dalam kemurahan-Nya menyediakan jalan keluar untuk memperbaiki hubungan.
Apa yang dapat kita lakukan jika kita telah membangkitkan amarah di dalam hati anak-anak kita?
1. Cari tahu secara khusus bagaimana kita telah membangkitkan amarah di dalam hati anak-anak kita.
2. Akui dosa-dosa ini kepada Tuhan dan memohon pengampunan-Nya. Terimalah pengampunan dosa-dosa di masa lalu dari Tuhan (I Yoh. 1:9).
3. Minta pengampunan dari anak kita untuk hal-hal tertentu yang telah kita lakukan. Tidak akan ada suatu perubahan sampai kita berkata, “Saya salah. Maukah kamu memaafkan saya?” (Amsal 28:13).
4. Tanya anak kita jika ada hal-hal lain yang telah kita lakukan, yang membangkitkan amarah di dalam hatinya. Jika ada, minta pengampunan darinya. Kemudian buatlah rencana secara bersama untuk menggantikan kelakuan yang lama dengan kelakuan yang baru (Ibr. 10:24).
Mencoba membersarkan anak tanpa penyesalan bukanlah tugas yang mudah. Tetapi kita dapat menekan jumlah penyesalan dan kata-kata “andai saja” jika kita menilai kelakuan kita hari ini dan mengubahnya jika ada yang perlu diperbaiki. Setelah mengevaluasi diri, cobalah untuk terus memperbaiki diri dan membiarkan Allah membawa kita ke tempat di mana tidak ada penyesalan.
Diterjemahkan dari artikel “The Place of No Regrets”, majalah “Just Between Us”, Winter/Spring 2000, hal. 28-29.
Bertumbuh dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus (2 Pet.3:18)
Monday, September 3, 2007
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment