Bertumbuh dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus (2 Pet.3:18)

Monday, September 3, 2007

Bertumbuh Bersama No. 2 - November 2002

PEPERANGAN MELAWAN JIWA
Dengan mengenali kekuatan-kekuatan yang berjuang melawan jiwa kita, kita akan lebih siap untuk berperang
Oleh Stuart Briscoe

Benyamin Franklin melalui bukunya yang terkenal, “Poor Richard’s Almanac” (Almanak Richard yang Malang) menulis bahwa “sedikit saja kelalaian akan menimbulkan kerugian”. Dia menggambarkan maksud kalimat tersebut dengan mengatakan, “Karena ingin paku, sepatu menjadi hilang, karena ingin sepatu, kuda menjadi hilang, karena ingin kuda, orang yang menaiki kuda menjadi hilang, karena ingin orang yang menaiki kuda, kalah perang, karena kalah perang, kerajaan menjadi punah.” Aphorisme dan gambarannya tentang bahaya-bahaya “sedikit kelalaian” di atas juga dapat dipakai untuk memperlihatkan bahwa menang atau kalahnya suatu peperangan seringkali bukan karena strategi peperangan yang dibuat oleh para jenderal, tetapi ditentukan oleh keefektifan seorang prajurit yang sedang berjaga-jaga dan menjalankan tugasnya.

Dalam tahun-tahun belakangan ini, ada banyak penekanan bahwa manusia hidup dalam lingkungan yang di dalamnya terdapat pergumulan yang hebat antara kekuatan yang jahat dan yang baik. Paulus mengajarkan orang-orang Kristen di Efesus bahwa mereka tidak cukup melihat pergumulan-pergumulan hanya dari sudut pandangan manusia belaka, tetapi juga menyadari “perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara” (Ef. 6:12). Pada saat itu, Paulus sedang mendekam di penjara, menunggu keputusan dari sang raja yang akhirnya membawa dia kepada hukuman mati di Romawi. Ketika dia sedang bergumul karena kehilangan segala hak, penghinaan, ketidaknyamanan, dan ketidakpastian akan hidupnya di penjara Romawi, dia melihat perjuangannya lebih dari sekedar semuanya ini – yaitu bukan melawan darah dan daging. Dia menyadari bahwa dia sedang terlibat di dalam peperangan rohani.

Jika kita tidak dapat mengenali realitas peperangan rohani sehingga menganggap kerasnya kehidupan saat ini tidak lebih dari sekedar pergumulan manusia belaka, maka hal ini sama beratnya seperti seorang prajurit di medan peperangan yang tidak dapat mengenali musuhnya dan dengan demikian memerangi pihak yang salah – sehingga menjadi kalah. Kita sebaiknya ingat bahwa sepanjang kita hidup di dunia ini, kita sedang berada dalam medan peperangan, dan kuasa-kuasa jahat yang berbaris untuk melawan kita adalah berupa roh-roh jahat yang hebat dan hanya dapat dihadapi dengan dinamika yang rohaniah. Jika kita mengerti lingkup konflik spiritual yang terjadi dalam diri kita, maka kita akan merasa perlu untuk memikirkan kedisiplinan dan dinamika rohani yang memungkinkan kita untuk menjadi “kuat di dalam Tuhan” sehingga kita dapat “bertahan melawan tipu muslihat Iblis” (Ef. 6:11). Tetapi, pemikiran semacam ini dapat juga membawa kita kepada kejadian-kejadian yang menekankan pada hal-hal yang kurang tepat. Contohnya, di mana ada penekanan pada dimensi dunia peperangan rohani, di situ selalu ada kecenderungan untuk melihat segala sesuatu sebagai pekerjaan setan melalui anak buahnya sehingga kita mengenyampingkan faktor-faktor lainnya. Ini dapat membawa kita kepada teologia “setan yang menyebabkan saya melakukan hal ini”, sehingga kita tidak melihat fakta bahwa setan tidak dapat memaksa kita untuk melakukan apa pun – memang dia hebat, tetapi tidaklah sehebat yang kita bayangkan. Dia tidak dapat memaksa kita melakukan apapun – kitalah yang memilih untuk melakukannya! Lalu ada juga kecenderungan untuk melihat segala sesuatu dari sudut “situasi”, sehingga kita kurang memperhatikan bahwa kunci dari menang atau kalahnya suatu peperangan biasanya adalah karena keberanian orang-orang tertentu. Oleh karenanya kita harus berhati-hati untuk tidak memusatkan pemikiran secara berlebihan tentang “roh-roh teritorial”, yang mungkin ada, mungkin tidak. Juga hati-hati di dalam mengambil tindakan-tindakan drastis untuk “mematahkan kubu-kubu” yang mungkin ada, mungkin tidak, sampai-sampai kita tidak memperhatikan keberanian seseorang di dalam memerangi hal-hal keduniawian dalam hidup.

Petrus menyadari hal ini ketika dia menulis, “Saudara-saudaraku yang kekasih, aku menasihati kamu, supaya sebagai pendatang dan perantau, kamu menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging yang berjuang melawan jiwa” (1 Pet. 2:11). Penekanan Petrus bukan pada konflik rohani yang terjadi di “atas” sana, tetapi lebih merupakan “peperangan melawan jiwa” yang terjadi sehubungan dengan “hasrat-hasrat yang membuat kita berdosa.”

“Peperangan melawan jiwa” (psuche dalam bahasa Yunani) artinya adalah hal-hal yang terjadi di dalam kepribadian manusia yang paling mendalam yang dapat membawa kehancuran pada seseorang. Ada konflik yang hebat di “atas” sana – di ruang pertemuan di mana para jenderal membuat strategi dan mengerahkan pasukannya – tetapi peperangan itu sendiri berlangsung di “dalam diri” di mana keinginan, emosi, aspirasi, dan ketakutan manusia berkuasa. Maksud Petrus adalah jika hal-hal tersebut tidak diatasi dengan benar, maka kerohanian orang tersebut dapat menjadi impoten dan akibatnya kalah perang. Dan jika aphorisme Benyamin Franklin adalah benar, maka apabila kita mengingini orang yang lebih hebat untuk menunggangi kuda, maka kita akan kalah dalam peperangan yang jauh lebih besar. Inilah yang dikuatirkan Petrus. Dia ingin manusia memerangi perang melawan jiwanya dengan benar agar mereka “memiliki cara hidup yang baik di tengah-tengah bangsa bukan Yahudi, supaya apabila mereka memfitnah kamu sebagai orang durjana, mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka” (1 Pet.2:12).

Lalu, kekuatan-kekuatan apa sajakah yang berjuang melawan jiwa kita? Kekuatan macam apakah yang mampu melemahkan orang Kristen sehingga orang tersebut menjadi pihak yang tak berkutik di dalam pergumulan jiwa-jiwa manusia – atau lebih celaka lagi, orang tersebut menjadi kekuatan negatif yang membantu berjuang memerangi jiwa kita? Herannya, Petrus bukan membicarakan hal-hal yang lebih dramatis dari “hasrat-hasrat yang membuat kita berdosa” atau “nafsu kedagingan.” Jika Petrus tidak memberikan jabaran yang lebih rinci, Paulus dengan sangat jelas menjabarkan dinamika kerohanian di dalam lubuk hati kita. Dia mencatatnya sebagai, “percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseturuan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percederaan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya” (Gal. 5:19-20). Jelas Paulus sedang membicarakan hal-hal yang dia lihat terjadi dalam kebudayaan di abad pertama; dan mungkin saja kita tidak mengindahkan daftar tersebut karena kita hanya terlibat dalam, contohnya, “penyembahan dan sihir” dan dengan demikian merasa yakin bahwa kita tidak memiliki masalah apa-apa. Tetapi kenyataannya kita semua akan menemukan sesuatu dari daftar tersebut yang menggambarkan “setan-setan” di dalam diri kita sendiri, walaupun mungkin yang kita temukan masuk dalam kategori “dan sebagainya.” Kita harus menerima kenyataan bahwa walaupun kita telah lahir baru, sifat-sifat kita yang cenderung untuk berbuat dosa tidak ikut diberantas, dan masih terus “berjuang memerangi jiwa kita.”

Peringatan Petrus sangatlah jelas, “Saudara-saudaraku yang kekasih, aku menasihati kamu, supaya sebagai pendatang dan perantau, kamu menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging yang berjuang melawan jiwa.” Di sini dia membicarakan soal pantangan! Orang yang kecanduan minuman keras dapat bersaksi bahwa berpantangan berarti menyadari adanya masalah, menolak masalah tersebut, membangun kedisiplinan untuk menangani masalah dan kemudian meminta “kuasa yang lebih tinggi” untuk membantunya menjauhkan diri dari masalah tersebut. Orang Kristen dapat lebih spesifik lagi. Mereka menamakan keinginan batinnya yang dilarang Tuhan, “dosa”. Mereka membenci dosa, dan kemudian dengan kuasa Roh Kudus yang diam di hatinya, mereka mengatakan “tidak” kepada dosa, dan dengan kuasa Roh yang sama mereka menerapkan kehidupan yang disiplin dan dengan senang hati ingin taat dan bergantung kepada Allah.

Jika kita dapat mengubah kalimat Benyamin Franklin, “karena ingin kedisiplinan rohani, karakter menjadi hilang; karena ingin karakter, kesaksian menjadi hilang; karena ingin kesaksian, pesan menjadi hilang; karena ingin pesan, pelayanan menjadi hilang; karena ingin pelayanan, kita kalah dalam peperangan rohani.” Kita dapat melakukan lebih baik daripada ini. Dan kita harus mampu! Petrus telah menunjukkan caranya kepada kita!

Diterjemahkan dari artikel “War Against the Soul”, majalah “Just Between Us”, edisi Fall 2000, halaman 16-17.

===000===

MENGGALI LEBIH DALAM
Saat teduh untuk mengambil langkah melawan musuh
Oleh Kris Grisa

Walaupun Alkitab memberikan beragam muka untuk Sang Iblis yang berperang melawan jiwa-jiwa kita – seekor singa, seekor ular – mungkin saja muka musuh kita yang paling efektif melawan jiwa kita ternyata adalah kita sendiri.

Dua sifat bergumul dalam jiwaku.
Yang satu mengutuk, yang satu memberkati.
Yang satu aku kasihi, yang satu aku benci.
Sifat yang aku pupuk itulah yang akhirnya berpengaruh.

Renungkanlah ayat-ayat berikut ini:
“Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku; ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!” (Maz.139:23-24).

Bagian dari memenangkan peperangan rohani adalah karena doa.

Berikut ini adalah kesempatan untuk berdiam diri sambil mendoakan peperangan anda sendiri:
Tuhan Yesus, Tuhan yang berkuasa, terpujilah Engkau karena Engkau lebih besar dari dia yang berada di dunia. Terima kasih saya telah mewarisi kuasa-Mu karena saya telah menjadi anak-Mu. Tanpa Engkau, saya tidak akan dapat melawan sang Musuh secara sendirian. Terpujilah Engkau karena kebaikan-Mu yang tak ada habis-habisnya! Roh-Mu berdiam di dalam diriku. Benteng-Mu mengelilingiku. Kuasa-Mu menjadi sempurna di dalam kelemahanku. Tugas-tugas yang Engkau berikan aku di dunia ini kadangkala menakutkan aku, tetapi aku tahu bahwa Engkau pada akhirnya akan melindungi segala sesuatu yang aku ucapkan dan lakukan dalam nama-Mu. Aku akan bergantung pada perlindungan-Mu karena memang hidupku bergantung kepada-Mu.

Yeremia 1:7-8 mengatakan, “Tetapi Tuhan berfirman kepadaku: ‘Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapapun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apapun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kau sampaikan, Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau,’ demikianlah firman Tuhan.”

O Tuhan, Allah-Ku, aku mengaku bahwa aku tidak mempercayai penglihatanku yang kekanak-kanakan. Aku melihat bayangan-bayangan musuh yang menggoda, yang menunggu agar aku, lebih sering ya daripada tidak, ternyata takut pada khayalanku sendiri. Di dalam membela Injil, aku bingung dan seringkali kudapati diriku membela diri sendiri, tetapi menghakimi dosa orang lain. Dengan rasa malu aku mengaku bahwa seringkali aku menemukan ternyata dosaku sendiri lebih besar dari orang lain. Aku memohon agar Engkau memberiku penguasaan diri dan bijaksana untuk menolak dosa yang hanya mungkin aku lakukan melalui kuasa Roh-Mu. Nyalakanlah sinar pencarian-Mu ke tempat-tempat yang gelap di dalam hidupku sehingga aku dapat melihat dengan benar apa yang ada di sana? Ketika aku takut pada bayangan belaka, kuatkanlah rasa percaya diriku. Ketika si musuh sungguh-sungguh maju untuk menelanku, aku berdoa agar perlengkapan senjata rohaniku, yaitu kebenaran, keadilan, iman, dan damai sejahtera terasa tidak enak di lidah si musuh, serta tidak dapat dicerna olehnya sehingga dia tidak memiliki kuasa untuk mencelakai diriku. Aku tidak akan takut saat di mana akan ada konfrontasi yang tak terduga dari dia. Hatiku mengarah kepada Engkau, Tuhan; dan ketika aku menerima serangan secara tiba-tiba dari sang musuh, aku akan segera mencari tangan-Mu yang akan menarik aku untuk berdiri. Kiranya semua yang ikut bergabung dengan aku – di bumi dan di surga – menyanyikan lagu-lagu kemenangan dan bersukacita ketika sang musuh gagal mencobai kami.

Pertanyaan-pertanyaan Untuk Evaluasi Pribadi
· Dapatkah engkau mengingat saat-saat di mana Allah menarik engkau keluar dari mulut singa?
· Apakah pernikahanmu, anakmu, atau teman baikmu sedang dalam bahaya karena serangan rohani?
· Apakah pernikahanmu, anakmu, atau teman baikmu sedang dalam bahaya karena serangan rohani?
· Apakah kurangnya iman kepercayaanmu menutupi kemenangan di saat-saat tertentu?
· Ucapkan terima kasih kepada Allah karena Dia menguatkanmu.
· Apakah doa-doa orang lain membuat kemenangan menjadi manis ketika engkau melihat hasil karya jemaat yang bersatu?
· Ucapkan terima kasih kepada Allah atas teman-teman sepelayananmu. Dia telah memanggil engkau ke medan peperangan untuk memperlihatkan kasihnya kepada engkau dan meyakinkan bahwa engkau akan meraih kemenangan.

Renungkanlah Ayat-ayat Berikut Ini
2 Korintus 10:3-5 mengatakan, “Memang kami masih hidup di dunia, tetapi kami tidak berjuang secara duniawi, karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng. Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus.

Doakan Doa Berikut Ini, Jadikan Doa Ini Doamu
Tuhan Yesus, aku tidak akan segan-segan memberitahu dan menghancurkan musuh-musuh di dalam diriku yang menyamar sebagai diriku. Kebiasaan dan sikap dari sifat diriku dulu yang penuh dosa, menginginkan agar aku berpura-pura tidak mengenali kebiasaan dan sikapku yang lama agar aku dikalahkan.

Introspeksi Diri Terakhir
Apakah pengkhianat-pengkhianat berikut ini sedang berdansa-dansa dengan bebasnya di dalam dirimu karena engkau tidak mau mengeluarkan pedang Roh untuk melawan mereka: kepahitan, kemarahan atau sikap tidak ingin memaafkan? Ketakutan, kesombongan atau sikap hanya ingin bergantung pada diri sendiri? Apatis, pura-pura ingin menyenangkan orang, prasangka? Tidak berterimakasih, materialisme atau roh terlalu membebani orang?
Lumpuhkan musuh-musuh tersebut dengan mengakui dan mengusir si penyamar keluar. Minta Tuhan Yesus untuk terus menolong engkau membangun kebiasaan-kebiasaan yang benar yang akan menghancurkan serangan-serangan musuh. Tuntutlah Kemenangan-Nya!

Diterjemahkan dari artikel “Digging Deeper”, majalah “Just Between Us”, edisi Fall 2000, halaman 24.

===000===

Dasar Anak-Anak!

Anak lelaki saya yang berusia 7 tahun suatu hari bertanya tentang surga. Saya berkata, Surga adalah tempat yang terbaik; yaitu tempat di mana kita akan selalu merasa gembira.” Dia berpikir sejenak dan menjawab, “Kalau begitu seperti tinggal di dalam Toys-R-Us (toko mainan, ed.)!” – K. Joseph, California, Amerika Serikat.

===========================

Anak lelaki kami yang masih kecil menonton TV ketika kami sedang bersiap-siap untuk pergi ke gereja. Ramalan cuaca mengatakan bahwa hari Minggu diramalkan akan terang dan hari Senin diramalkan akan hujan. Setelah pulang gereja, dalam perjalanan pulang hujan mulai turun. “Ibu!” teriak anak kami, “Tuhan pasti berpikir hari ini adalah hari Senin.” – B. Skiles, Arkansas, Amerika Serikat.

===000===

MENJADI SAHABAT PASANGANMU
Oleh Richard Matteson dan Janis Long Harris

Berdasarkan penelitian, pernikahan yang sehat, yaitu pernikahan yang tetap hidup walaupun melalui perjalanan yang berat dan panjang, adalah hasil karena adanya persahabatan di antara suami dan isteri. Kualitas yang diperlukan untuk persahabatan yang baik adalah kualitas yang sama bagi pernikahan yang baik.

Apakah Anda Sanggup Membangun Pernikahan yang Sehat?
Ada tiga unsur – yaitu saling menerima, aktivitas bersama, dan percakapan bersama – yang menjadi kunci agar persahabatan, atau pernikahan, menjadi berhasil. Saling menerima ditaruh pada posisi pertama karena manusia secara natural mencari pasangan yang cocok dengannya – orang yang dapat menerima dia apa adanya. Demikian juga, kita menjaga jarak dengan orang yang secara lisan menyerang kita atau terus menerus mengkritik kita. Walaupun kritik diperlukan dalam suatu persahabatan, biasanya kita hanya menggunakannya sekali-kali saja dan dengan tujuan untuk membangun dan menguatkan.

Unsur kedua, aktivitas bersama, perlu diadakan karena kebanyakan manusia tidak senang untuk hidup sendiri – apakah itu berupa melakukan tugas secara bersama atau berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan rekreasi. Juga lebih mudah bagi kita untuk menjelajahi minat-minat yang baru atau memasuki kelompok sosial yang baru jika ada yang menemani.

Unsur ketiga yang mendukung persahabatan yang langgeng adalah percakapan bersama – bagian yang natural dari aktivitas bersama. Kenangan yang sama yang tercipta melalui aktivitas bersama dapat memulai suatu percakapan, dan di kemudian hari dapat membuka pintu untuk berdiskusi tentang hal-hal yang lebih mendalam.

Menikah bukanlah suatu jaminan bahwa persahabatan akan tumbuh dengan subur di antara dua orang. Kita perlu berusaha untuk dapat saling menerima, untuk merencanakan kegiatan yang dapat dinikmati kedua belah pihak, dan untuk menyisihkan waktu agar dapat berbicara. Beberapa pasangan tidak memiliki keahlian yang dibutuhkan, atau kurang berminat untuk menjalin persahabatan.

Langkah-langkah berikut ini saling menunjang di dalam menciptakan persahabatan yang langgeng di antara suami-isteri.

Bersikap Positif
Kritik yang dilontarkan secara terus menerus akhirnya mengikis persahabatan karena hal tersebut mengkomunikasikan tidak adanya unsur saling menerima. Seringkali penyebab munculnya kritik bukanlah karena pasangan kita tidak sempurna, tetapi karena kita sendirilah yang goyah karena merasa rendah diri.

Untungnya kita tidak harus menyelesaikan masalah rendah diri kita secara tuntas sebelum kita dapat bersikap dengan penuh kasih. Berkonsentrasi agar dapat mengatakan dan melakukan hal-hal yang dapat membuat pasangan kita merasa dihargai dan spesial memang sulit, tetapi bukan hal yang mustahil untuk dilakukan.

Seorang wanita yang berkonsultasi dengan saya langsung mengubah suasana pernikahannya setelah dia tidak lagi melontarkan kritik, dan sebagai gantinya dia mencari sifat-sifat yang dia kagumi dalam suaminya. Tidak perlu waktu yang lama sebelum dia sudah dapat melihat bagaimana suaminya berinteraksi dengan anak-anaknya yang masih kecil.

“Bermain dengan anak lelaki kami begitu natural bagi dia,” kata dia kemudian. “Ketika saya melihat betapa mudahnya bagi suami saya untuk bertingkah kekanak-kanakan, kasih saya semakin bertumbuh baginya. Coba ayah saya seperti dia waktu saya masih kecil!”

Menyadari kualitas yang baik dalam suaminya yang menimbulkan rasa sayang padanya, dan kemudian membuat wanita ini melihat sifat-sifat baik lainnya yang sudah lama tidak dilihatnya. Semakin dia menghargai suaminya, semakin suaminya mulai hidup sesuai dengan pandangan-nya yang baru dan lebih positif terhadap suaminya. Wanita itu seolah-olah mengakhiri dunianya yang lama dan suasana pernikahannya yang tidak memuaskan, dan, bersama-sama dengan suaminya, menciptakan suasana pernikahan yang baru. Suasana pernikahannya yang baru mengikutsertakan persahabatan yang kuat yang didasarkan unsur saling menerima.

Rencana Melakukan Kegiatan Bersama
Beberapa waktu yang lalu, saya pergi berlayar di Florida Keys bersama dengan beberapa teman saya. Kami sungguh senang di sana sehingga sejak saat itu kami selalu bergembira di saat kami berkumpul-kumpul. Persahabatan kami tidak hanya bertumbuh pada saat perjalanan ke Florida, tetapi juga sampai membentuk pertalian yang begitu kuat. Belum lama ini, ketika saya mengalami krisis keluarga, teman-teman saya itulah yang paling mendukung saya.

Dengan cara yang sama, kegiatan bersama menciptakan pertalian yang erat di antara suami dan isteri. Kita hidup bersama, jadi kita juga menghabiskan waktu bersama. Tetapi jenis aktivitas yang memupuk persahabatan bukan hanya sekedar berada dalam satu ruangan. Setiap pasangan perlu merencanakan aktivitas khusus di mana kedua belah pihak dapat menikmatinya.

Ketika saya memberikan konsultasi pasangan-pasangan yang perlu membangun persahabatan yang lebih kuat, seringkali saya meminta mereka untuk merencanakan kencan bulanan dalam bentuk rekreasi. Saya mendorong mereka untuk merencanakannya secara bergantian, di mana masing-masing merencanakan suatu aktivitas yang khususnya akan dinikmati oleh pasangannya. Orang yang membuat rencana tidak boleh memberi tahu rencananya, hanya pakaian apa yang cocok untuk aktivitas tersebut. Untuk mendorong kreativitas, saya menyarankan untuk tidak mengulangi suatu kegiatan lebih dari satu kali dalam setahun.

Saya juga menyarankan agar pasangan-pasangan tersebut mencari minat-minat yang baru yang dapat dilakukan bersama, mungkin suatu aktivitas yang belum pernah mereka coba atau keterlibatan dalam pelayanan yang menggugah nila-nilai hidup mereka. Saya kenal sepasang suami isteri yang bersama-sama mengajar sekolah Minggu dan menjadi tenaga sukarela untuk proyek pelayanan masyarakat.

Sisihkan Waktu untuk Berbicara
Pria dan wanita cenderung untuk memiliki gaya persahabatan yang berbeda. Pria lebih ingin menghabiskan waktu bersama, sedangkan wanita lebih ingin berbicara bersama. Untuk alasan itu, kegiatan bersama dan waktu yang rutin untuk berbicara harus berjalan bersamaan, sehingga kebutuhan dari masing-masing pasangan dapat terpenuhi.

Jika kita merencanakan aktivitas yang rutin, mungkin kita secara natural akan lebih banyak berbicara. Walaupun demikian, di dalam kegiatan itu sendiri mungkin tidak ada cukup waktu untuk berbicara, jadi saya menyarankan untuk tetap menyisihkan waktu, mungkin 30 menit sehari, agar suami dan isteri dapat berbicara dari hati ke hati.

Kita harus tekun dan setia di dalam menjalankan rutinitas ini, walaupun jika akhirnya kita hanya membicarakan hal-hal yang sepele saja. Ketika kita membagikan pengalaman-pengalaman yang nampaknya tidak penting – dan dengan penuh perhatian mendengarkan pasangan kita saat dia berbuat hal yang sama – kita menjadi semakin merasa senang dan terbuka dengan pasangan kita. Pasangan yang punya kebiasaan untuk saling memberitahu kegiatan rutin dalam kehidupan mereka, lambat laun akan merasa mudah untuk membicarakan perasaan-perasaan mereka yang lebih dalam.

Ingat, “hanya berbicara” saja mungkin adalah halangan yang paling sulit dalam persahabatan yang harus diatasi pasangan suami isteri. Pria merasa terancam ketika wanita memojokkan mereka untuk membicarakan perasaan mereka, khususnya tentang ketakutan atau kekuatiran mereka. Kemampuan untuk membagikan perasaan kita yang mendalam baru dapat dicapai setelah melewati waktu yang lama dan setelah kita merasa yakin bahwa kita tidak akan dikritik di tengah proses ini.

Kunci persahabatan yang lebih kuat – dan pernikahan yang lebih baik – adalah mengembangkan kebiasaan-kebiasaan yang baru. Pertama tama, mungkin kita merasa kurang jujur, dibuat-buat, atau bahkan hipokrit untuk mencoba melaksanakan cara-cara yang baru untuk berpikir, bertindak, dan berbicara. Tetapi jangan bergantung pada perasaan. Silahkan mempraktekkan strategi saling menerima, melakukan kegiatan bersama, dan berbicara bersama. Pasti setelah itu anda akan melihat pernikahan anda mulai menjadi suatu hubungan yang diinginkan oleh anda berdua.

Diterjemahkan dari artikel “Becoming Best Friends with Your Mate”, majalah Just Between Us, Edisi Summer 1996, hal. 23-24, 28 yang merupakan cetakan ulang dari majalah Marriage Partnership, edisi Winter 1994.

===000===

KETIKA SEGALA-GALANYA MASIH JUGA BELUM CUKUP
Oleh Hilary Price

Saya ingin memperkenalkan anda dengan seorang wanita yang memiliki segala-galanya – lingkungan hidup yang indah, kesehatan yang baik, suami yang begitu dekat dengannya dan yang mengasihinya, serta hubungan yang terbuka dengan Bapa di surga.

Seperti nenek saya yang hidup sampai umur 103 dulu mengatakan, “Dia memiliki segala-galanya dan tempat untuk menyimpannya” – tetapi masih juga belum cukup. Suatu hari ada yang membisikkan telinganya, “Masih ada lagi, dan kalau engkau bisa memilikinya… maka barulah engkau benar-benar puas.”

“Tetapi saya tidak merasa kekurangan” protes suara hatinya yang terdengar begitu lemah.

“Sekarang pasti anda belum puas.” Jawabannya begitu cepat, kasar, dan… benar, walaupun dia tidak suka untuk mengakuinya.

Wanita itu, tentu saja, adalah Hawa. Wanita itu juga adalah saya dan mungkin juga anda. Betapa lemahnya kita ini. Betapa kuatnya dunia periklanan dan pemasaran. Dunia tersebut dengan kejamnya mengeksploitasi keinginan agar dapat terpenuhi. Mereka banyak menjanjikan, tetapi sedikit memenuhi janjinya. Mereka berteriak-teriak, berbisik-bisik, mencoba meyakinkan dan menggoda anda.

“Andaikan rumahmu lebih indah
Andaikan dapurmu lebih mengkilap
Andaikan rambutmu lebih bersinar
Andaikan kulit mukamu lebih lembut
Andaikan bajumu lebih bagus
Bahkan, andaikan suamimu lebih pandai
Andaikan…
Andaikan…

Ada alternatif lain, ada yang lebih bagus, semuanya bisa anda dapati dan setelah itu anda akan benar-benar menjadi bahagia.” – Tapi, maukah anda?

Ketika saya masih kecil, saya sering mendengar, “Semua hal yang bagus pasti nantinya akan berakhir.” Waktu kami pergi ke suatu tempat yang spesial, walau perasaan saya baru beberapa menit saja, tiba-tiba saya sudah mendengar: “Kita harus pulang setengah jam lagi.” Atau jika diberi sepotong kue cokelat, dalam hati saya berharap, andaikan saya diberi potongan yang lebih besar. Dengan jelas saya dapat mendengar ayah saya mengatakan, “Hilary, masih belum cukup?”

Belum lama ini saya mendengar Bapa saya di surga mengatakan hal yang sama…
“Engkau sudah memiliki segalanya
Sebuah rumah yang indah…
Orang tua yang baik,
Gereja yang jemaatnya ramah,
Kesehatan yang baik,
Anak-anak yang rupawan
Suami yang baik…
Tetapi engkau masih belum puas. Engkau
sering memikirkan bagaimana semuanya ini
bisa lebih baik lagi,
Engkau tidak mengerti. Apa yang engkau
miliki ini tidak dapat memuaskan hatimu,
jadi jangan salahkan mereka – karena
mereka memang tidak dapat memuaskanmu.”

Agustinus mengatakan, “Engkau menciptakan kami untuk Diri-Mu sendiri dan hati kami akan terus gelisah sampai kami menemukan tempat perhentian-Mu.”

Anda tidak akan menemukan tempat perhentian yang berasal dari perasaan puas dan lengkap terhadap orang, tempat, atau harta-benda. Anda hanya akan menemukan damai sejahtera dan kebahagiaan yang sejati di dalam diri Yesus Kristus.

Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan keAllahan, dan kamu telah dipenuhi di dalam Dia. (Kol.2:9-10).

Dipenuhi! Bukan kenyamanan. Jika anda berpikir bahwa semakin anda merasa nyaman, semakin keinginan anda terpenuhi, sehingga semakin anda merasa dipenuhi, maka anda, seperti halnya Hawa, percaya pada dusta yang telah banyak menipu banyak orang begitu lamanya. Anda telah menurunkan ember ke dalam sumur yang salah. Tariklah kembali embermu. Sumur itu tidak ada airnya. Carilah sumur yang berair.

Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal. (Yoh.4:13-14).

Ternyata segala hal yang baik tidak selalu akan berakhir. Bahkan, di dalam Yesus, hal yang baik akan menjadi lebih baik lagi sampai selama-lamanya.

Diterjemahkan dari artikel “When Everything is Not Enough”, majalah Just Between Us, edisi Winter 1996, hal. 7.

No comments: